Open Order Novel Bara dan Novel Gitanjali

 

45487169_367736857300778_8673817652637990912_n

Info dan Order, kontak line: edelweisbasah_

OPEN ORDER!

#NovelBara dan #NovelGitanjali edisi bertanda-tangan.

#NovelBara: 89.000 dan #NovelGitanjali: 88.000

(Belum termasuk ongkir).

Info dan pemesanan, kontak line: edelweisbasah_

***

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menikah Ibarat Mendaki Gunung

Perumpamaan peta pada pernikahan adalah

menunjukkan sebuah titik yang ingin sama-sama dituju.

Perumpamaan senter adalah salat dan kesabaran,

yang akan menerangi dalam kondisi paling gelap sekali pun.

Dan perumpamaan kompas adalah komunikasi,

yang akan memberi arah ke mana harus melangkah.

Tanpa ketiganya, semua akan sia-sia.

 

45455284_2230363503640853_2904331145539747840_n

Jika kita mendaki gunung dan tiba di puncak, apa yang kita lihat? Tentu semua keindahan dan kemegahan akan terpampang di depan mata. Hutan yang menghijau, lautan awan yang memutih, serta deretan gunung-gunung yang jauh lainnya dengan ketinggian yang sama atau lebih menyembul pula dari balik awan, dan terlihatlah samudra membiru yang hanya bisa kita lihat jika mampu naik sampai ke puncak. Puncak adalah keindahan, kemegahan, dan kebanggaan tersendiri yang takkan bisa dibeli oleh apa pun.

Mari kita renungkan kembali perjalanan dari awal pendakian sampai ke puncak. Betapa lelah mendera terasa. Jejak-jejak keringat tercipta, tapak sepatu yang berdebu menjadi saksi perjalanan yang kita tempuh untuk sampai ke puncak. Dan saat lelah menggayut dan penat menghunjam, meluruskan kaki di perhentian jalan adalah solusi satu-satunya. Lalu rasakanlah nikmat sepoi angin, basahi tenggorokan dengan air—betapa indahnya dunia. Lantas setelah lelah usai, kembali kita melangkahkan kaki. Beberapa jam kemudian, akhirnya kita tiba di puncak yang menjadi tujuan.

Terkadang kita tidak sabar untuk segera mendakinya. Namun jangan pernah mencoba-coba mendaki gunung tanpa bekal dan persiapan yang matang. Persiapan yang matang akan membuat perjalanan terasa lebih ringan dibanding hanya bersiap-siap seadanya. Bukan keindahan yang akan yang didapat, melainkan risiko yang lebih besar untuk celaka atau bahkan kehilangan nyawa. Di balik keindahannya, gunung menghadapkan kita pada jurang-jurang menganga, tebing-tebing tinggi, jalan terjal penuh onak dan duri, dan cuaca tak bersahabat yang menghajar tubuh hingga babak belur. Kalau tidak siap, jelas sangat membahayakan. Maka dari itu, jika hendak mendaki gunung bekal haruslah dipersiapkan. Tidak hanya sekadar bekal materi semata agar dapat mencapai puncak, namun juga bekal mental, serta pengetahuan.

Menapaki pernikahan ibarat mendaki gunung

Menapaki pernikahan ibarat mendaki gunung. Indah dipandang mata, namun terjal untuk dilalui. Tidak mudah untuk bisa mencapai puncaknya. Ada begitu banyak rintangan ketika melaluinya, kadang tertusuk duri, kadang tersandung batu, bahkan tersesat jalan. Namun rasanya tidak sulit untuk bisa mendakinya sampai ke puncak, tergantung seberapa besar niat dan seberapa kuat kuat mental yang kita siapkan.

Coba kembali bayangkan awal mula sebelum kita naik gunung. Lihatlah, semuanya tampak indah dan wangi. Hijaunya rumput yang ditata di taman, warna-warni bunga dan aneka tanaman berseliweran, angin yang berhembus sepoi-sepoi, suara gemericik air terjun, gunung-gunung yang menjulang dan laut yang kebiru-biruan, semuanya tampak indah mempesona.

Namun tanpa disadari, justru bahaya itu datang saat manusia terlena menikmati keindahan alam. Di rerumputan hijau tak jarang ditemui kerikil tajam yang dapat melukai kaki atau menggelincirkan langkah. Di sela-sela aneka warna bunga yang menebarkan aroma, tak menutup kemungkinan terselip duri tajam tersembunyi atau ular yang bisa mematuk siapa saja yang kurang hati-hati.

Ransel yang tujuan utamanya membawa berbagai perlengkapan mendaki pada akhirnya akan menjadi beban yang tak berkesudahan karena beratnya pendakian. Menopang ransel dalam pendakian pernikahan tidak bisa dibilang ringan, dan tentu bukan hal yang mudah. Dalam ransel wajib ada tanggung jawab seorang suami. Dan di dalam ransel lainnya, wajib ada tanggung jawab dari seorang istri. Dan sering kali dalam perjalanan menikah itu yang ditemui adalah lelah untuk melanjutkan perjalanan.

Kemudian kompas yang awalnya dibawa sebagai penunjuk arah agar jangan tersesat, malah di tengah perjalanan mendaki menjadi tak berfungsi. Begitu juga dengan senter dan peta yang menjadi bekal pendakian, juga tak bisa dipergunakan justru ketika pendakian terasa begitu melelahkan dan menguras energi. Lebih kacau lagi jika kita tak punya kemampuan untuk mengoperasikannya.

Banyak yang hanya ingin menikmati gampangnya saja

Tak bisa dipungkiri, saat ini banyak pendaki yang hanya ingin menikmati gampangnya saja “mendaki” tanpa harus bersusah payah dulu. Mereka luput dengan risiko yang pasti menghadang dalam pendakian. Ironisnya lagi, mereka mendaki tanpa ilmu dan bekal yang memadai. Mereka bukan ingin mendaki dalam artian sepenuhnya, namun hanya ingin menikmati keindahan alam pegunungan di “permukaannya” saja.

Kalau hanya menikmati keindahan sebatas itu, jangan harap pendakian akan berujung di puncak. Begitu pula pernikahan. Jangan harap sebuah pernikahan akan langgeng, sakinah, mawaddah, dan warahmah kalau yang dinikmati hanya permukaannya saja. Akan banyak kemungkinan yang menghadang di depan mata, baik nyata maupun kasat mata. Janji-janji indah mungkin saja tak terpenuhi setelah menikah.Rencana atau mimpi yang sudah terangkai bisa saja jadi pascapernikahan.

“Peta pernikahan” yang sebelum akad diharapkan bisa jadi jalan menuju puncak, tiba-tiba menjadi kabur. Ada-ada saja bahaya yang menghadang. Entah mantan yang kembali hadir, keuangan yang memburuk, dan hal-hal lain yang sebelumnya luput dari penalaran kita.

Kompas, yaitu penunjuk arah agar kita tidak tersesat saat mendaki, tiba-tiba saja malah berputar-putar tak tentu arah. Jarumnya kacau tak berfungsi. Pasangan yang sebelumnya begitu manis dan manut sebelum mendaki, tak disangka malah berbalik jadi pemberontak dan menentang semua saran dan nasihat kita. Pernikahan itu pun akhirnya hanya seperti rel kereta api: tak pernah bertemu.

Menyatukan dua jiwa

Dua jiwa, dua watak, dan dua karakter berbeda harus disatukan dalam perjalanan. Belajar untuk tidak egois, selalu berbagi senang, saling membantu dalam setiap kesulitan, dan saling menguatkan di kala lemah. Hal itu takkan jadi masalah bila alat-alat pendakian seperti kompas, peta, dan senter benar-benar difungsikan secara maksimal. Ada tali yang tidak putus di antara mereka. Tali menggambarkan ikatan yang saling mempengaruhi, juga ada batas-batas baru dibandingkan saat hidup membujang. Jika dua orang naik gunung bersama, dibutuhkan latihan pendahuluan untuk mengatasi kesulitan, komunikasi yang baik, kekuatan untuk berjalan dan bertahan, termasuk mengikuti kekuatan yang lemah supaya tetap bersama. Kalau tidak mau latihan dan bekerja sama maka salah satu akan menjadi beban bagi pasangannya.

Peta pun akan membawa kita menuju ke arah yang benar, ketika yang menjadi pedoman pernikahannya adalah Alquran dan hadis. Betapa banyak godaan di luar sana bagi orang-orang yang sudah menikah, baik itu laki-laki maupun perempuan. Dan jangan lupa, saat kita memutuskan untuk menikah guna menjalankan sunnatullah, setan dan kawan-kawannya pun pasti akan mengubah strateginya.

Kalau dulu saat masih membujang, jika memakai skala angka, setan hanya menggoda cukup sampai level 2 saja, saat menikah bisa jadi musuh Allah SWT itu langsung menaikkannya sampai level sampai 4, 5, 6, atau bahkan sampai 7! Sebagai makhluk Allah SWT yang dilaknat, setan jelas tahu kelemahan kita sebagai manusia. Apalagi jika dalam perjalanan hidup kita diberi rezeki melimpah; makin mudah pula setan menggelincirkan kita dari tujuan awal pernikahan yang suci.

Pernikahan adalah berjanji di hadapan Allah SWT

Saat kita melakukan ijab qabul, hakikatnya kita tengah berjanji di hadapan Allah SWT. Dan, selayaknya, janji itu nantinya akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Selayaknya mendaki gunung di mana kita harus membawa perbekalan yang memadai, menikah juga begitu. Tanpa ilmu dan bekal yang memadai akan terjadi banyak kekeliruan dalam pernikahan. Perbedaan pendapat, kesalahan komunikasi, kejenuhan rumah tangga, dan hal-hal lain akan silih berganti menguji kita.

Kelelahan dan kesulitan dalam pernikahan akan begitu mudah terlupakan saat dua orang yang menikah memutuskan istirahat sejenak untuk sekadar berkomunikasi dan menguatkan diri, sembari membuat perapian, menyeduh kopi, dan menikmati keindahan bintang-bintang di langit. Jutaan bahkan ribuan bintang itu seolah berkata; kalian adalah pasangan pendaki yang paling beruntung, sebab kalian dipertemukan dan diberi kesempatan untuk menuju sebuah puncak yang sama, berdua.

Ketika kita tidak siap dengan itu semua atau kita tidak memiliki persiapan yang matang untuk menghadapi itu semua, keharmonisan rumah tangga akan terganggu dan guncangan akan menghampiri. Barangkali akibatnya adalah berakhirnya pernikahan—ini merupakan hal yang sangat kita hindari.

Persiapan-persiapan

Persiapan itu meliputi kematangan pemikiran, persiapan hitung-hitungan mengenai uang, kematangan ilmu, kematangan fisik, dan persiapan-persiapan yang lain. Ya, persiapan itu sangat penting bagi kita untuk menghadapi bumbu-bumbu pernikahan.

Terkadang kita terbuai melihat pernikahan yang tampak begitu indah dan menarik hati. Terkadang kita tergesa-gesa melangkahkan kaki untuk menggapainya. Entah berapa pasangan yang bahtera pernikahannya karam akibat ketidaksiapan. Bukanlah materi, atau sekadar semangat, yang menjadi bekal untuk mewujudkan niat mulia tersebut. Penting juga memiliki hati yang bertaqwa. “Wa tazawwaduu fa inna khoiro zaadit taqwa.” Hati yang dihiasi iman, ketulusan, ilmu dan kesabaran.

Hati yang demikianlah yang akan bisa mencapai ujung yang indah, yaitu keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Begitu indah mendaki bersama-sama di jalanNya, hingga akhirnya bertemu kembali di surga-Nya. Jangan lupa, menikah adalah belajar beribadah seumur hidup dengan pasangan kita. Hanya yang memiliki keyakinan, mental kuat, dan siap menghadapi ujianlah yang dapat mencapai puncak indah.

Wallahu a’lam bishshawab. ***

Tulisan ini termuat di PendakiIndonesia.com https://pendakiindonesia.com/menikah-mendaki-gunung/#.W02ywZoT_F0.twitter

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Antara Gie, Norman, dan Dunia Menulis

Bagi para petualang, Soe Hok Gie dan Norman Edwin bukanlah nama yang asing. Nama mereka masih terus disebut oleh para penyuka olahraga yang memompa adrenalin—naik gunung, panjat tebing, arung jeram, susur gua, dll.—meskipun kedua dedengkot dunia petualangan Indonesia itu sudah lama berpulang. Gie meninggal tahun 1969 di Gunung Semeru dan Norman Edwin meninggal tahun 1992 di Aconcagua, Pegunungan Andes, Argentina.

Mengapa nama Norman Edwin dan Soe Hok Gie masih begitu populer hingga saat ini? Jawabannya adalah karena mereka menulis. Selama hidup mereka tak bosan-bosan menuliskan apa yang ada dalam pikiran mereka. Selain itu mereka rajin pula menulis catatan perjalanan.

Gie dikenal melalui catatan hariannya, yang diisi sang petualang sejak ia masih sangat belia, yakni 15 tahun. Mulai usia itu sampai beberapa waktu sebelum nyawanya direnggut gas beracun Gunung Semeru, Gie konsisten menulis catatan harian dua kali sehari, yakni pagi dan malam sebelum tidur. Tanggal dalam akun terakhirnya adalah 10 Desember 1969, enam hari sebelum kematiannya.

Catatan hariannya tak hanya berisi cerita sehari-hari. Ia juga menuliskan tentang kehidupannya sebagai mahasiswa, termasuk tentang perjuangannya menggulingkan sebuah tirani. Membaca catatan Gie, mau tak mau kita akan terharu mendapati bahwa sejak dulu, dari mulai masa penjajahan, Orde Baru, sampai sekarang, mahasiswa memang memegang peranan yang begitu penting.

Gie tak hanya menulis di buku harian. Ia juga melemparkan gagasannya ke berbagai media cetak; Soe Hok Gie menjadi aktivis yang dikenal luas pada masanya. Oleh karena itu, kematian yang mendadak menghampiri tak serta merta membuatnya juga mendadak dilupakan. Ia terus abadi dalam ingatan banyak orang.

Berbeda dari Soe Hok Gie yang meninggal saat mendaki Gunung Semeru, Norman Edwin menghela napas terakhir dalam pelukan Devil’s Wind di Gunung Aconcagua, Amerika Selatan, dalam ekspedisi ke puncak kelima dari rencana pendakian Seven Summits. Ia ditemukan meninggal bersama rekannya, Didiek Samsu, hanya sekitar 200 meter dari Puncak Aconcagua.

Sejak menggeluti dunia tulis-menulis, Norman Edwin memang memilih bidang yang amat spesifik sebagai topik tulisan, laporan, dan ulasannya, yakni petualangan. Ia selalu menuangkan apa yang ia lihat dan rasakan—dan, bila perlu, mengakrabinya.

Selama kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran Bandung dan Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra UI, lelaki berdarah Palembang dan Cirebon ini tergolong tertib dan rapi dalam mendokumentasikan catatan dan bahan kuliah. Kebiasaan itulah modal utama yang membuatnya jadi penulis tangguh, logis, dan akurat, dengan gaya tulisan populer dan bebas.

Norman tak hanya menceritakan petualangannya saja namun selalu menyertakan informasi lengkap yang ditulis dengan manis. Gaya tulisan Norman terbilang unik, jujur, tegas, terbuka, dan berani. Norman selalu menuliskan kejujuran, meski terkadang kontroversial. Ia tak peduli tulisannya itu akan membikin panas telinga beberapa pihak. Namun itulah yang justru mematangkannya.

175a9e02078a57d25856b03dd9680fca

Sampai saat ini, Gie dan Norman adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam dunia petualangan Indonesia. Bagi siapa pun yang senang mendaki gunung atau mendedikasikan diri dalam kegiatan alam bebas, mereka adalah tokoh-tokoh yang—lewat tulisan-tulisan yang menggugah dan memberi manfaat pada banyak orang—mampu memberikan suntikan semangat luar biasa untuk bertualang.

Mereka pergi sebagai petualang yang abadi lewat tulisan-tulisannya, diantar oleh angin gunung yang begitu keras namun sangat mereka cintai. ***

Tulisan ini termuat di PendakiIndonesia.com https://pendakiindonesia.com/antara-gie-norman-edwin-dan-dunia-menulis/

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Mengurai Pentingnya Pemahaman Sadar Kawasan

“Respek dan rasa hormat pada hutan dan lingkungan (seharusnya) dapat menjadi modal bagi kita dalam mengambil keputusan-keputusan yang berpihak pada kelestarian hutan dan lingkungan” – Abah Iwan

 

Sadar Kawasan

Doc: Save Ciharus

Kini, 73 tahun sudah kita memasuki kebebasan sebagai bangsa merdeka. Keringat dan darah bahkan jiwa rela dikorbankan untuk merebut sebuah arti dari kebebasan. Kita memang tak ikut berjuang dalam heroik genderang perang waktu itu. Kita cuma mendengar kemudian membayangkan perjuangan yang telah dilakukan oleh para pendahulu, dan selayaknya kita menghormati walau ‘hanya’ sekadar memperingati sebuah upacara seremonial saja saban tahunnya.

Namun sebagai penggiat alam terbuka, sebenarnya tidak hanya sekadar memperingati secara seremonial saja yang bisa kita lakukan. Bukan dengan senjata kita ikut mengisi hasil yang telah dicapai oleh para pendahulu. Menempuh daerah-daerah terpencil lalu mengangkatnya sebagai informasi bagi pemerintah adalah sumbangsih yang besar. Kemudian membuka keterasingan suatu daerah atau masyarakat untuk kemudian disebarluaskan lewat media massa atau media sosial, mungkin lebih pas untuk kita lakukan.

Menjaga kelestarian alam yang tersisa karena terdesak oleh salah satu alasan pembangunan guna meningkatkan devisa negara, juga adalah salah satu bentuk lain dari sumbangsih yang bisa kita lakukan dalam mengisi kemerdekaan. Semuanya itu memang berawal dari hobby bercengkerama dengan alam, yang kemudian lambat laun timbul keinginan untuk lebih jauh lagi mengetahui dan mengenal tempat lain yang lebih terpencil dan sulit.

Di titik inilah awal mula dari sumbangsih kita sebagai generasi yang tak ikut secara langsung saat perang kemerdekaan. Rasa keingintahuan yang besar menjadi alasan semakin jauh pencarian yang dilakukan. Tanpa pamrih namun bermakna yang sangat dalam!

Sebagai sebuah negara, Indonesia diberi kelebihan dengan luas wilayahnya yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dengan luas wilayah sebesar itu, ternyata masih banyak daerah yang belum terungkap. Keterbelakangan dan keterasingan, ternyata, masih mengungkung saudara kita di berbagai sudut pulau di tanah air ini.

Keingintahuan memang menjadi kunci bagi para penggiat alam terbuka untuk menyingkap itu semua. Namun terkadang dalam proses penyingkapan itu, tanpa disadari kita kerap melupakan adat istiadat masyarakat atau daerah yang kita datangi. Apalagi terkadang pembawaan “Keangkuhan” kita melupakan tata krama tak tersensor dalam setiap tindakan.

Bahkan bukan hanya sifat “keangkuhan” yang terkadang membuat segala rencana menjadi berantakan, namun aturan main yang mendasar pun kerap kita abaikan. Terkadang kita sendiri sebagai penggiat alam terbuka abai akan keberadaan alam yang menjadi arena kita bermain selama ini.

Kita kerap lupa, bahwa tak selamanya alam terbuka menjadi lokasi yang sah untuk bermain dan berkegiatan. Salah satunya, kita abai selama ini pada cagar alam! Ya, kita kerap lupa dengan cagar alam yang semestinya benar-benar harus dilindungi. Kita selalu berlindung di balik penyingkapan informasi akan suatu daerah atau alasan lainnya yang sekiranya bisa masuk akal, sehingga menjadi sah untuk dijadikan lokasi kegiatan alam terbuka.

Contohnya? Lihat saja Gunung Burangrang di Bandung, Jawa Barat. Gunung yang punya ketinggian 2.064 meter diatas permukasaan laut, adalah termasuk cagar alam. Ini dibuktikan dengan adanya Surat Keputusan Mentri Pertanian Nomor 479/Kpts/Um/8/1979, tanggal 2 – 8 – 1979.

Tapi lihatlah yang terjadi selama ini. Bukan suatu rahasia umum lagi, jika sampai saat ini Gunung yang terletak di kawasan Bandung utara (KBU) dan terpisahkan oleh sebuah lembah besar dengan Gunung Tangkuban Perahu itu, menjadi arena atau lokasi spesial dalam berkegiatan di alam terbuka.

Betapa banyak para pencinta alam yang menggunakan gunung tersebut sebagai lokasi Pendidikan Dasar dan Latihan (Diklatsar). Bahkan salah satu punggung di gunung tersebut menjadi lokasi yang bagus bagi para tentara yang tengah dididik menjadi Pasukan Khusus. Apakah pendidikan tentara itu sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku tentang Cagar Alam? Apakah lokasi latihan perlu dievaluasi, mengingat, di satu sisi kita tentu juga mengetahui bahwa pendidikan tentara juga membutuhkan lokasi yang sesuai dengan karakter dan spesialisasi pasukan yang ingin dibentuk. Ini perlu dikaji kembali agar batas-batasnya dapat dibuat dan tidak melangkahi aturan perundang-undangan tentang Cagar Alam yang sudah ada. Inilah keironisan yang terjadi. Suatu aturan yang dipijak oleh berbagai kepentingan, tanpa mengedepankan respek pada Burangrang yang telah menjadi kawasan cagar alam.

Belum lagi kegiatan wisata lainnya yang lebih massif lagi seperti motor trail, bersepeda gunung, pendakian gunung, dan kegiatan wisata santai lainnya seperti piknik, camping ceria dan event-event hiburan yang dilakukan di lokasi Cagar Alam, yang sudah pasti seharusnya dilarang dilakukan di Cagar Alam dan Suaka Margasatwa. Ini baru intervensi dari pendatang saja. Ada juga kegiatan yang melakukan pengrusakan secara langsung seperti penebangan pohon yang seharusnya mendapat tindakan tegas, bukannya pembiaran.

Padahal, dimana aturan yang membolehkan cagar alam dijadikan kawasan untuk berkegiatan di alam terbuka? Dalam konteks pengertian cagar alam jelas sudah, bahwa cagar alam adalah suatu kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Cagar alam menjadi bagian dari dari kawasan konservasi (Kawasan Suaka Alam), maka kegiatan wisata atau kegiatan lain yang bersifat komersial, tidak boleh dilakukan di dalam area cagar alam.

Kawasan itu disebut cagar alam karena dalam kawasan tersebut dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. Artinya, pengelolaan cagar alam sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan. Upaya pelestarian kawasan cagar alam dilaksanakan dalam bentuk kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan, inventarisasi potensi kawasan, dan penelitian serta pengembangan yang menunjang pelestarian.

Upaya pelestarian itu dilaksanakan dengan ketentuan larangan melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan Kawasan Cagar Alam dan Kawasan Suaka Margasatwa. Dan termasuk dalam pengertian kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan kawasan diantaranya, melakukan perburuan terhadap satwa yang berada di dalam kawasan; memasukkan jenis-jenis tumbuhan dan satwa bukan asli kedalam kawasan; memotong, merusak, mengambil, menebang, dan memusnahkan tumbuhan dan satwa dalam dan dari kawasan; menggali atau membuat lubang pada tanah yang mengganggu kehidupan. tumbuhan dan satwa dalam kawasan; atau mengubah bentang alam kawasan yang mengusik atau mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa.

Suatu kegiatan dapat dianggap sebagai tindakan permulaan melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud diatas, apabila melakukan perbuatan, memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan; atau membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, mengangkut, menebang, membelah, merusak, berburu, memusnahkan satwa dan tumbuhan ke dan dari dalam kawasan.

Sepertinya, pemahaman seperti ini yang belum secara gamblang disosialisasikan oleh instansi terkait seperti Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat terkait pentingnya menjaga ekosistem di cagar alam.

Atau contoh lain adalah Gunung Rakutak, yang belakangan ini makin tenar karena kerap diposting di media sosial, baik Instagram, facebook atau medsos lainnya. Padahal jauh sebelum medsos hadir, mungkin hanya segelintir orang saja yang tahu tentang Gunung Rakutak. Mungkin seputar para penggiat alam terbuka atau pencinta alam saja yang tahu.

Tapi sejak Gunung Rakutak di posting di medsos, banyak remaja dan masyarakat yang bertandang ke gunung tersebut. Persoalannya bukan masalah gunung itu menjadi tenar atau tidak, menambah PAD daerah setempat atau tidak, menjadi sumber ekonomi masyarakat setempat atau tidak, bukan itu persoalannya yang menjadi titik pembahasan.

Persoalannya adalah postingan kita di medsos, ternyata bisa menjadi penentu kelestarian di kawasan tersebut. Apalagi saat daerah yang kita posting itu adalah suatu cagar alam yang harus benar-benar dilindungi. Tak terbayangkan, saat kita posting suatu cagar alam dan kemudian keesokan harinya berduyun-duyun orang datang ke tempat tersebut, apakah lokasi tersebut masih pantas disebut cagar alam?

Saat flora di lokasi cagar alam tersebut dicabut keindahannya, ketika fauna di cagar alam itu terbunuh karena ulah manusia yang hanya untuk kepentingan individualnya, dan saat ekosistem di cagar alam tersebut terganggu keseimbangannya akibat tindak tanduk kita yang tak menghargai betapa pentingnya cagar alam itu harus dijaga.

Save Ciharus

Doc: Save Ciharus / Sadar Kawasan

Atas dasar berbagai keprihatinan itulah, beberapa belakangan ini muncul suatu gerakan atau aksi yang dinamakan Sadar Kawasan. Aksi ini bermula dari kesadaran akan pentingnya menjaga Danau Ciharus yang sudah masuk ke dalam kawasan cagar alam. Pentingnya menjaga ekosistem yang masuk cagar alam, harus benar-benar merasuki dalam roh dan jiwa para penggiat alam terbuka. Karena suatu hal yang kontradiksi jika kita yang menamakan diri penggiat alam terbuka atau pencinta alam justru berkelakuan sebaliknya dari makna nama tersebut.

Sadar Kawasan penjabarannya adalah sebuah pergerakan yang menitikberatkan kegiatannya untuk penyadar-tahuan bagi para penggiat alam bebas. Pergerakan Sadar kawasan tentu saja akan menjadi penyeimbang bagi para penggiat alam. Bahwa tidak semua tempat yang ada bisa dipergunakan untuk wisata.

Tapi memang itulah dilemanya, karena disini berbagai kepentingan bermuara dan berkelindan menjadi satu. Sisi lain, cagar alam harus benar-benar dijaga ekosistemnya dan ia hanya bisa dimasuki sebatas penelitian dan seputar itu. Namun di sisi lain, terbitnya SIMAKSI menjadi peluang bagi komunitas-komunitas pencinta alam untuk melakukan kegiatan alam terbuka di lokasi yang notabene adalah cagar alam.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan satu sama lain atau mengklaim ini sebagai kebenaran yang mutlak. Namun kita harus bersama-sama mengembalikan konteks “cagar alam” dalam posisi yang sebenar-benarnya. Memang, untuk kebenaran yang mutlak dikembalikan pada diri masing-masing: Apakah masih tetap “keukeuh” menjadikan cagar alam sebagai lokasi bermain atau menyadari sepenuhnya jika cagar alam adalah suatu kawasan yang harus dijaga buat generasi penerus nanti.

Bangga sebagai bangsa Indonesia memang bisa diwujudkan dalam sumbangsih dengan kegiatan alam bebas, sesuai skill yang kita miliki. Namun jangan sampai kebanggaan itu menjadi salah kaprah, saat kita menepuk dada di tengah lokasi yang sebenarnya adalah cagar alam, berteriak dan berpesta namun melupakan makna hakiki dari arti sesungguhnya pelestarian alam. Karena hakekat dari pencinta alam, penggiat alam atau apapun itu adalah pelestarian alam. Karena kita bukanlah perusak, tapi penjaga. ***

Tulisan ini dimuat di Travelnatic Magazine. https://travelnatic.com/mengurai-pentingnya-pemahaman-sadar-kawasan/

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Fenomena Hijrah dan Mendaki Gunung

Apa persamaan antara hijrah dan mendaki gunung? Meski masing-masing memiliki pengertian yang berbeda, dalam satu titik keduanya mempunyai persamaan, yakni dibutuhkan komitmen yang kuat untuk melaksanakan hijrah atau mendaki gunung. Dibutuhkan istiqomah yang tak kunjung putus jika kita berniat untuk hijrah atau mendaki gunung.

Da4f9X2VwAAq7l5

Seperti fenomena yang terjadi saat ini, di mana kini banyak kalangan muda, baik selebriti maupun nonselebriti, yang berhijrah. Mereka begitu berbeda, baik dalam sikap dan penampilan maupun tingkah laku. Yang dulu begitu glamor, mengumbar aurat, kini berbalik 180 derajat.

Hijrah yang kita bahas di sini bukanlah mengenai perpindahan dari satu tempat menuju tempat lain, namun dalam konteks yang lebih luas. Hijrah adalah perubahan menuju lebih baik dalam segala hal, yang dilakukan semata-mata demi kebaikan dan mengharapkan ridho Allah.

Yang paling fenomenal baru-baru ini adalah saat pesinetron Kartika Putri memutuskan untuk mengenakan jilbab. Bahkan, Kartika yang dulu kerap berpakaian sexy itu memohon dengan sangat agar penggemarnya menghapus foto-foto saat dirinya belum menutup aurat. Ia seolah-olah tersadar: perjalanan hidupnya selama ini jauh dari ajaran agama. Kartika Putri hanya salah satu dari sekian banyak cerita soal fenomena hijrah yang sekarang sedang menjadi tren.

Terminologi “hijrah”

Kata hijrah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syariat Islam.

Perintah berhijrah terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, antara lain dalam QS Al-Baqarah 2:218,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Juga dalam Al-Anfal dan At-Taubah,

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang mujairin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni’mat) yang mulia” (QS Al-Anfal, 8:74).

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (QS At-Taubah, 9:20).

Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi dua persyaratan, yaitu, pertama, ada sesuatu yang ditinggalkan dan, kedua, ada sesuatu yang dituju (tujuan). Keduanya harus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Meninggalkan segala hal yang buruk, negatif, maksiat, kondisi yang tidak kondusif, menuju keadaan yang lebih baik, positif, dan kondisi kondusif untuk menegakkan ajaran Islam.

Dalam pandangan Ibnu Qayyim, hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya tak bisa dilepas dari dua kata penting yaitu kata “dari” (min) dan kata “menuju” (ila). Berhijrah dengan totalitas hati, niat, dan komitmennya dari mencintai selain Allah menuju kecintaan penuh kepada-Nya.

Hijrah mestinya diiringi dengan tekad dan niat yang kuat

Berbagai cara dan upaya dilakukan setiap orang untuk bisa berhijrah. Ingat kisah (Alm.) Ustad Jefri atau Ustad Udje? Kisah Ustad Udje yang sudah difilmkan itu bercerita soal proses hijrah seorang anak manusia, yang berpindah dari lingkungan dan kondisi yang buruk menjadi kondisi lebih baik, yang diridhoi oleh Allah SWT.

Kita bisa melihat betapa dibutuhkan komitmen yang kuat, hati yang bulat, dan membuang semua masa lalu, dalam proses menuju hijrah. Sebenarnya, menurut hemat saya, bukan hijrah itu sendiri yang terpenting namun yang paling urgen adalah proses menuju hijrah—itu yang utama. Apa pasal? Biasanya, seseorang terbentur bukan saat sampai pada titik hijrah, melainkan pada proses hijrah itu sendiri. Dalam proseslah biasanya terletak segala tantangan dan godaan.

“Ingin berhijrah” semestinya tak sembarang diucapkan jika tidak disertai tekad yang kuat. Betapa Ustad Udje dianggap aneh oleh sebagian kawannya saat ia memberikan ceramah di lingkungan. Renungkan juga betapa tersiksanya (mungkin) para personil Slank saat tengah berproses ke hal baik dalam menyembuhkan diri dari narkoba. Artinya, setiap keinginan hijrah itu timbul sudah semestinya harus diiringi dengan tekad dan niat yang kuat.

Dan ini sama halnya dengan mendaki gunung. Semua orang dewasa, baik laki-laki atau perempuan, mungkin bisa mendaki gunung, terlepas dari berhasil mencapai puncak atau tidak. Tapi, bertahan pada kondisi ekstrem saat mendaki, benak yang melayang ke tempat tidur yang hangat serta bersit-bersit pikiran yang mengacaukan akal, bisa menggagalkan keinginan seorang pendaki untuk mencapai puncak.

Esensinya, ada konteks pengertian yang sama antara hijrah dan mendaki gunung. Hijrah memerlukan komitmen yang kuat, tekad yang bulat dan melenyapkan semua kejahilan masa lalu, agar hijrah yang kita niatkan bisa menjadi kaffah. Tentunya untuk memiliki hal-hal tersebut ada kiat-kiat tersendiri. Hijrah mempunyai jalurnya sendiri, tidak hanya terucap saja dalam lisan tanpa ada hal-hal di luar itu yang mengiringinya.

Agar hijrah tidak berhenti di tengah jalan

Dikutip dari situs muslim.or.id, sedikitnya ada enam (6) poin yang harus diperhatikan agar keinginan hijrah kita tidak berhenti di tengah jalan. Di antaranya; memiliki niat ikhlas ketika hijrah, mencari lingkungan yang baik dan sahabat yang shalih, memperkuat fondasi dasar tauhid dan akidah yang kuat dengan mengilmui dan memahami makna syahadat dengan baik dan benar, mempelajari Alquran dan mengamalkannya, berusaha tetap terus beramal walaupun sedikit, sering berdoa dan memohon keistiqomahan dan keikhlasan.

Berhijrah memang berat karena harus memiliki kesabaran dan juga komitmen agar tidak kembali ke masa lalu yang penuh dengan kemaksiatan. Boleh jadi cobaan dan godaan yang datang akan lebih berat. Lingkungan barangkali saja kurang kondusif, teman-teman dekat mungkin menjauh, dan, bahkan, mungkin akan ada orang yang membenci perubahan kita.

Tentu saja akan ada konsekuensi terhadap pilihan hidup kita. Ketika berhijrah, kita akan menemukan dua keberanian, yaitu berani kehilangan dan berani untuk menemukan.

Namun, tahukah kamu bahwa Allah akan memberikan balasan yang luar biasa bagi yang berhijrah sungguh-sungguh karena Dia? Allah akan memberikan rezeki, diampuni kesalahan dan dosanya, ditinggikan derajatnya, mendapatkan kemenangan yang besar dan tentunya mendapatkan ridho Allah dan akan berbalaskan surga-Nya.

“Barang siapa yang hijrah di jalan Allah, niscaya akan mendapati muka bumi tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…. “ (Q.S Annisa: 100).

Hijrah dan mendaki gunung

Begitu juga mendaki gunung. Banyak rintangan selama proses pendakian. Kehausan, kedinginan, kaki kram, kelaparan dan lain-lain siap menghadang sebelum kita melihat semburat sang fajar menyembul dari langit timur.

Sama seperti hijrah, mendaki gunung pun memerlukan persiapan matang. Mendaki gunung bukan sekadar tamasya menikmati keindahan alam; ada tahapan-tahapan yang harus dilalui agar niat mendaki gunung bisa tercapai dan kembali pulang dengan selamat.

Kebanyakan kisah-kisah tragis orang yang hilang dalam kelebatan hutan, putus asa di tengah jalan karena lelah, tewas di jurang, terjadi karena kesiapan yang kurang matang.

Jangan salah, mendaki gunung perlu persiapan lahir dan batin, tidak hanya fisik saja. Sama dengan hijrah. Tidak hanya raga dan fisik kita saja yang berpindah dari tempat buruk ke tempat yang baik, batin pun harus ikut hijrah. Artinya, tak bisa hanya fisik kita saja yang hijrah sementara batin masih tertinggal di belakang.

Takkan pernah sunrise di langit timur itu bisa disaksikan, meskipun fisik sanggup, jika batin ternyata melekat erat di kehangatan rumah. Takkan pernah keagungan Sang Pencipta bisa kita nikmati jika benak melayang-melayang pada zona nyaman di rumah.

Di titik inilah hijrah dan mendaki gunung bertemu. Dibutuhkan tekad yang kuat untuk hijrah dan tak kembali lagi ke masa lalu, dibutuhkan semangat yang terus dipompa dalam hati agar jejak-jejak yang tercipta dapat mengantarkan kita menuju puncak gunung, dan dibutuhkan istiqomah yang terus dipupuk agar hijrah yang kita lakukan tak berhenti di tengah jalan.

Hijrah memang seperti mendaki gunung; butuh kesabaran, kekuatan, dan istiqomah yang tak kunjung putus karena banyak cobaan yang menghalangi. Namun, jika dalam mendaki gunung setelah tiba di puncak kita akan kembali turun, dalam hijrah kita harus terus konsisten di jalan-Nya sampai Pemilik Jasad ini memanggil kita kembali karena tugas-tugas kita telah usai di dunia.

Wallahu a’lam bisshawab! ***

Tulisan ini termuat di pendakiindonesia.com https://pendakiindonesia.com/hijrah-dan-mendaki-gunung/

Posted in Uncategorized | 1 Comment

GITANJALI

 

GITANJALI-MOCKUP

GITANJALI

Sebuah Persembahan Untuk Menemukan Hati.

Penerbit: MediaKita          Ukuran: 14,5 x 21 cm
Genre: Fiction
Jumlah Halaman: 312 halaman
ISBN: 978-979-794-560-2
Tahun Terbit: 2018

 

 

Setiap orang tentu memiliki alasan tersendiri mengapa mendaki. Ada yang tujuannya untuk keilmuan, olahraga, ibadah atau pengenalan diri. Semua memiliki versinya sendiri-sendiri, sesuai dengan proses petualangan yang dia alami, dan pula tergantung dari masing-masing orang saat mempunyai niat apa untuk mendaki. Apapun itu, mendaki memiliki filosofi tersendiri yang masing-masing orang bebas untuk menerjemahkannya.

Hal ini yang dialami pula oleh seorang lelaki bernama Ed, yang hendak melakukan pendakian Seven Summits Indonesia, untuk ia persembahkan kepada Ine, kekasihnya. Alih-alih mendaki sebagai persembahan, Ed justru mengalami sekelumit kisah yang tak terduga dalam pencapaiannya. Ketika rencana dan nyata tak selalu sama, Ed mendapatkan makna sejati dari perjalanan panjangnya. Ketika cinta dan asa tak selalu seirama, Ed mendapatkan makna reliji yang sesungguhnya.

Novel Gitanjali tersedia di toko-toko buku, di kota anda. ***

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pendaki; Pendekatan Diri Pada Sang Ilahi Robbi.

 

EditSampai saat ini, mungkin dunia petualangan tak mengenal siapa yang pertama kali mencetuskan istilah pendaki beserta penjabarannya. Namun yang pasti, sejak pertama kali istilah Pencinta Alam dicetuskan sekitar tahun 60-an, seiring berdirinya organisasi Mapala UI dan Perhimpunan Wanadri, bisa saja istilah pendaki mulai populer dari situ.

Tak ada yang bisa secara tepat mendefinisikan arti dari kata pendaki itu sendiri. Masing-masing orang apalagi dia seorang pencinta alam, terkadang memiliki versinya sendiri-sendiri, sesuai dengan proses petualangan yang dia alami. Mungkin, mencari definisi kata pendaki sama saja seperti kita menyodorkan alasan seseorang hobi naik gunung.

“Mau apa naik gunung? Sudah sampai puncak, turun lagi! Cape-capein saja, belum kedinginan, kehujanan, kepanasan!” Alasan-alasan itu yang kerap kita dengar dari orang-orang yang tak menyukai hobi tergolong ekstrem ini. Tapi coba tanyakan pada orang-orang yang hobi mendaki gunung, maka beribu alasan kenapa mereka suka mendaki akan terjawab dengan gamblangnya. Namun untuk menjawab secara tepat seseorang mendaki gunung, jawabannya relatif. Tergantung dari pengalaman apa yang dia dapat saat mendaki pertama kali.

Legenda-legenda pendaki gunung seperti, Edmund Hillary, Reinhold Messner, George Mallory atau pun misalnya (Alm.) Norman Edwin, Soe Hok Gie dan lain-lainnya, pasti mempunyai alasan tersendiri kenapa mereka begitu menyukai naik gunung. Kenapa mereka terus dan terus mendaki gunung hingga akhirnya harus menghembuskan napas dalam pelukan gunung yang dingin. Tak ada jawaban pasti. Semuanya memiliki definisi yang relatif, tergantung dari masing-masing orang saat mempunyai niat untuk mendaki.

Begitu juga dengan istilah pendaki. Beberapa orang mengartikan pendaki adalah pencari. Beberapa yang lainnya mengartikan pendaki adalah penempuh rimba, penjelajah, penelitian yang bersifat ilmiah. Bahkan ada juga yang mengartikan lebih nyeleneh, bahwa pendaki itu adalah singkatan dari pejalan banyak daki. Tapi bagi penulis, semua itu sah-sah saja. Karena semua orang bebas dalam mendefiniskan arti dari kata-kata mendaki itu.

Namun jika kita mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata pendaki adalah orang yang mendaki. Jika berpijak pada definisi itu, bisa saja terjemahan bebasnya menjadi seperti ini; bahwa pendaki gunung dapat dikatakan sebagai orang yang gemar atau memiliki hobi melakukan kegiatan mendaki gunung. Mereka tidak memiliki motivasi lain selain hanya sekadar melakukan kesenangannya sendiri yakni mendaki gunung, mencari ketenangan, udara segar, kebersamaan, atau hanya sekadar menikmati keindahan alam, baik secara individu maupun secara berkelompok.

Apapun itu, mendaki memiliki filosofi tersendiri yang masing-masing orang bebas untuk menerjemahkannya. Sebuah perjalanan yang kaya akan pelajaran, dan mendaki merupakan jalan mengenali dan memperbaiki diri.

Dan jika bicara mendaki tentu ada obyek dari pendakian itu sendiri, yakni gunung. Dalam Sunda, arti kata Gunung kerap diterjemahkan sebagai GUru Nu Agung. Pada masa klasik, bagi masyarakat Sunda, Gunung menduduki tempat tersendiri pada sistem religinya. Di masa itu, gunung memiliki peranan sendiri dalam sistim masyarakat dan juga agama. Ini artinya keberadaan gunung tak bisa jauh dalam konteks kehidupan masyarakat terdahulu.

Dalam berbagai literatur tentang gunung, banyak disebutkan jika gunung-gunung yang ada di Nusantara ini berabad-abad lampau telah banyak yang didaki. Hal ini diyakini juga oleh Junghunn, seorang zoologist dari Belanda (sebelumnya berkebangsaan Jerman), yang mengalami hal ini secara langsung. Junghuhn dan para pendaki Eropa lainnya yang pada saat sesampainya di puncak, dikejutkan dengan temuan bekas-bekas kegiatan manusia di kawasan sekitar hutan Gede-Pangrango. Di sekitar kawah yang baru ditemuinya itu, mereka menemukan patilasan (jejak) berupa batu-batu yang dipercaya sebagai makam nenek moyang masyarakat setempat.

Ini artinya, gunung menempati posisi dan peran penting dalam berbagai agama. Ada agama-agama yang percaya bahwa gunung adalah tempat disampaikan atau diungkapkannya ajaran agama, atau tempat turunnya guru atau pendiri agama mereka dari surga. Agama-agama lain menganggap gunung sebagai simbol pendakian spiritual. Oleh karena itu para penganut agama menjadikan gunung sebagai tempat suci dan sebagai tujuan dharma yatra (ziarah). Juga Gunung Kaliasa (Kailash) di India, dipandang sebagai tempat suci oleh empat agama, yaitu Hindu, Buddha, Jain, dan Bon.

Di Indonesia, dikenal juga beberapa gunung yang dianggap sebagai tempat suci, seperti Gunung Agung, Gunung Batur, Gunung Batukaru, Gunung Semeru, Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Salak. Status sebagai tempat suci membuat gunung terlindungi dan terpelihara dari perusakan dan pencemaran. Oleh karena itu, gunung suci juga terjamin sebagai sumber air yang sangat penting bagi pertanian khususnya dan kehidupan umumnya.

Kita ambil contoh Gunung Agung di Bali. Dalam penelitiannya di Bali, Stuart-Fox (2010) menyatakan, mitos tentang asal usul Gunung Agung sering dikaitkan dengan Hinduisasi yang menghubungkan bagaimana gunung tersebut dibawa dari India ke Pulau Jawa dan Bali. Puncak gunung dianggap sebagai kawasan suci dan merupakan tempat bersemayamnya para penjaga kehidupan, bumi, dan roh para leluhur yang telah menganugrahkan kemakmuran bagi umat manusia, atau mengambil kembali dengan kemurkaannya membawa kematian dan kehancuran bagi dunia.

Mitos Gunung Agung dipercaya merupakan pecahan dari Gunung Mahameru, dan dalam metafora genekologis ini dewa dari Gunung Agung merupakan putra dari dewa Gunung Mahameru, yakni Dewa Pasupati. Salah satu nama dewa Gunung Agung, Putrajaya (atau Putranjaya) secara jelas mengungkapkan hubungan anak ini, sementara namanya yang lain Mahadewa, adalah salah satu julukan bagi Siwa, menunjukkan statusnya yang paling tinggi dalam Hinduisme di Bali. Gunung Agung merupakan gunung tertinggi di Bali. Gunung Agung mendapatkan posisi yang sangat spesial dalam masyarakat Hindu, khususnya di Bali.

Di tengah gunung yang disucikan ini terdapat Pura Pasar Agung dan di kakinya berdiri Pura Besakih sebagai pura terbesar di Bali. Bahkan di puncak Gunung Agung, yakni di kawasan kawahnya, bahkan ada semacam tempat yang disucikan bernama Puser Tasik yang merupakan tempat mulang pakelem (upacara melarung sesajian). Puser tasik (puser = pusat, tasik = garam) dapat dimaknai secara harfiah sebagai “pusat garam” karena ada kepercayaan bahwa lobang kepundan Gunung Agung tembus dengan laut (tempat garam) sesuai paradigma segara-gunung (segara= laut, gunung = gunung) dalam sistem budaya masyarakat Bali. Pura Besakih yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, ini dikategorikan sebagai Sad Kahyangan, jadi ia adalah salah satu dari enam pura utama yang ada. Lima lainnya adalah Pura Lempuyang di Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem; Pura Uluwatu di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung; Pura Goa Lawah, Kabupaten Klungkung; Pura Batukaru, Kabupaten Tabanan; Pura Pusering Jagat (Pura Puser Tasik), Desa Pejeng, Keacamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.

Dalam Islam sendiri, kegiatan mendaki gunung jika dilakukan dengan penuh penghayatan adalah sebagai salah satu wujud Iqra’ kita kepada ayat-ayat Allah SWT. Hakikatnya usaha mencintai alam bermuara pada mengenal dan mencintai sang pemilik alam, yaitu Allah SWT. Agak sulit rasanya ketika kita akan mendapatkan nuansa yang akan membawa perasaan kita pada perenungan tentang alam raya, jika nyatanya pada saat melakukan pendakian dalam sorak sorai dan gemuruh hiruk pikuk yang melenakan.

Rasullullah Muhammad SAW pun mendapatkan wahyu pertama dari sisi Allah SWT melalui malaikat Jibril, juga sebelumnya telah melalui perenungan yang dalam tentang konsep penciptaan alam semesta, seperti yang juga yang dilakukan oleh nabi Ibrahim AS. Baginda Rasullullah ber-tahannuts di gua Hira’ sekian lama sebelum Allah SWT mengutus malaikat Jibril AS untuk menyampaikan wahyu pertama-Nya.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah

Bacalah, Dan Tuhan-mulah Yang Maha Mulia

Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam ( pena )

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak di ketahuinya.

( Al- qur’an, Al’alaq, 1 – 5 )

Dan pengertian Iqra’: Bacalah, pada ayat diatas bukanlah semata-mata membaca seperti pengertian harfiah yang kita fahami, namun membaca yang dimaksud adalah juga mencakup, melihat, memperhatikan, mendengar, merasakan, mengamati, memikirkan dan merenungi jagad raya ciptaan Allah Sang Khalik. Kita diminta oleh Allah SWT untuk merenungi kejadian alam semesta ini, bagaimana bumi dihamparkan, gunung ditegakkan, dan langit ditinggikan, agar kesemuanya ini  membawa kita pada bentuk kesadaran tentang betapa Maha Perkasanya Allah dan Maha Agungnya Allah. Dengan kesadaran semacam ini, kesombongan dan keangkuhan kita sebagai manusia yang merasa hebat dan merasa kuat akan dapat segera dikikis.

Akhirnya, terlepas apapun itu soal mendaki gunung, baik itu untuk olah raga, hobby, atau pun keilmuan kembali ke hakikatnya masing-masing. Namun yang patut diyakini, dengan mendaki dapat merasakan mendekatkan diri pada Illahi Rabbi, lewat ciptaan-Nya yang terhampar luas. Bukankah dalam kitab sucinya, Al-Quran, Allah SWT menjelaskan soal tujuan penciptaan Gunung beserta alam raya ini. Bukalah QS Nuh: 19-20, di mana Allah berfirman, “Allah telah menjadikan bumi terhampar luas untukmu, agar kamu dengan bebas meniti jalan-jalan yang terbentang di bumi.” Atau dalam QS An Naazi’aat: 32, lebih detail lagi Allah bicara soal ini. Katanya, “Gunung-gunungpun Ia pancangkan, untuk kesenanganmu.” (Al Quran Surat An Naazi’aat: 32)

Begitulah gunung diciptakan dan untuk tujuan itulah seharusnya para pendaki gunung mendaki. Pada tataran tertentu, para pendaki gunung sebenarnya adalah orang-orang yang telah berguru pada alam. Guru yang langsung diciptakan oleh Tuhan untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kita. Jadi bisa dibilang, orang-orang yang berguru pada alam itu sesungguhnya telah berguru pada sang maha guru. Maha guru yang lebih banyak memberi dan tak pernah meminta.

Karena ilmu tanpa batas itu sumbernya dari Tuhan, maka alam adalah sebagai medianya. Nabi Musa saja harus mendaki gunung Sinai ketika akan mendapatkan kitab Taurat. Nabi Muhammad juga harus mendaki bukit (jabal) dan tinggal di Gua Hiro yang tidak semua orang bisa dengan mudah menggapai tempat tersebut, sebelum akhirnya menerima wahyu yang pertama. Demikian pula para empu yang harus mendaki gunung untuk bertapa sampai pada akhirnya mendapatkan pencerahan berupa ilmu atau kesaktian.

Jadi kegiatan mendaki gunung, harus memiliki tujuan yang jelas agar kegiatan yang kita lakukan tidak sia-sia. Dengan mendaki gunung kita akan merasakan kedekatan dengan alam yang pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada kedekatan diri kita dengan Tuhan. Jadi dengan mendaki gunung, kita akan belajar ilmu agama yang jauh lebih tinggi, yakni ilmu hakikat diri. Hal-hal seperti ini sesungguhnya sudah dibuktikan oleh para nabi dan kaum petapa yang gemar sekali mendaki gunung untuk sekedar bertapa dan menyendiri guna mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dengan menyendiri di gunung-gunung selama beberapa hari bahkan sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun, mereka merasakan kedekatan dengan Tuhannya. Sampai pada akhirnya, mereka dikaruniai beberapa ilmu yang tak semua orang bisa mendapatkannya: Ilmu hakikat.

Dan ini sesuai dengan ucapan para hukamah atau sufi bahwasannya jika kita mampu mengenali diri sendiri, maka kita akan memahami betapa ciptaan Allah SWT begitu luas membentang, perkasa dan tak tertandingi. Dengan begitu, perjalanan mendaki akan makin mendekatkan diri pada Illahi Rabbi. Semoga! ***

Tulisan ini dimuat di pendakiindonesia.com | http://pendakiindonesia.com/mendaki-pendekatan-diri-pada-sang-ilahi-robbi/

 

Posted in Uncategorized | 1 Comment