Fenomena Hijrah dan Mendaki Gunung

Apa persamaan antara hijrah dan mendaki gunung? Meski masing-masing memiliki pengertian yang berbeda, dalam satu titik keduanya mempunyai persamaan, yakni dibutuhkan komitmen yang kuat untuk melaksanakan hijrah atau mendaki gunung. Dibutuhkan istiqomah yang tak kunjung putus jika kita berniat untuk hijrah atau mendaki gunung.

Da4f9X2VwAAq7l5

Seperti fenomena yang terjadi saat ini, di mana kini banyak kalangan muda, baik selebriti maupun nonselebriti, yang berhijrah. Mereka begitu berbeda, baik dalam sikap dan penampilan maupun tingkah laku. Yang dulu begitu glamor, mengumbar aurat, kini berbalik 180 derajat.

Hijrah yang kita bahas di sini bukanlah mengenai perpindahan dari satu tempat menuju tempat lain, namun dalam konteks yang lebih luas. Hijrah adalah perubahan menuju lebih baik dalam segala hal, yang dilakukan semata-mata demi kebaikan dan mengharapkan ridho Allah.

Yang paling fenomenal baru-baru ini adalah saat pesinetron Kartika Putri memutuskan untuk mengenakan jilbab. Bahkan, Kartika yang dulu kerap berpakaian sexy itu memohon dengan sangat agar penggemarnya menghapus foto-foto saat dirinya belum menutup aurat. Ia seolah-olah tersadar: perjalanan hidupnya selama ini jauh dari ajaran agama. Kartika Putri hanya salah satu dari sekian banyak cerita soal fenomena hijrah yang sekarang sedang menjadi tren.

Terminologi “hijrah”

Kata hijrah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari, dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syariat Islam.

Perintah berhijrah terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an, antara lain dalam QS Al-Baqarah 2:218,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Juga dalam Al-Anfal dan At-Taubah,

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang mujairin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni’mat) yang mulia” (QS Al-Anfal, 8:74).

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (QS At-Taubah, 9:20).

Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi dua persyaratan, yaitu, pertama, ada sesuatu yang ditinggalkan dan, kedua, ada sesuatu yang dituju (tujuan). Keduanya harus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Meninggalkan segala hal yang buruk, negatif, maksiat, kondisi yang tidak kondusif, menuju keadaan yang lebih baik, positif, dan kondisi kondusif untuk menegakkan ajaran Islam.

Dalam pandangan Ibnu Qayyim, hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya tak bisa dilepas dari dua kata penting yaitu kata “dari” (min) dan kata “menuju” (ila). Berhijrah dengan totalitas hati, niat, dan komitmennya dari mencintai selain Allah menuju kecintaan penuh kepada-Nya.

Hijrah mestinya diiringi dengan tekad dan niat yang kuat

Berbagai cara dan upaya dilakukan setiap orang untuk bisa berhijrah. Ingat kisah (Alm.) Ustad Jefri atau Ustad Udje? Kisah Ustad Udje yang sudah difilmkan itu bercerita soal proses hijrah seorang anak manusia, yang berpindah dari lingkungan dan kondisi yang buruk menjadi kondisi lebih baik, yang diridhoi oleh Allah SWT.

Kita bisa melihat betapa dibutuhkan komitmen yang kuat, hati yang bulat, dan membuang semua masa lalu, dalam proses menuju hijrah. Sebenarnya, menurut hemat saya, bukan hijrah itu sendiri yang terpenting namun yang paling urgen adalah proses menuju hijrah—itu yang utama. Apa pasal? Biasanya, seseorang terbentur bukan saat sampai pada titik hijrah, melainkan pada proses hijrah itu sendiri. Dalam proseslah biasanya terletak segala tantangan dan godaan.

“Ingin berhijrah” semestinya tak sembarang diucapkan jika tidak disertai tekad yang kuat. Betapa Ustad Udje dianggap aneh oleh sebagian kawannya saat ia memberikan ceramah di lingkungan. Renungkan juga betapa tersiksanya (mungkin) para personil Slank saat tengah berproses ke hal baik dalam menyembuhkan diri dari narkoba. Artinya, setiap keinginan hijrah itu timbul sudah semestinya harus diiringi dengan tekad dan niat yang kuat.

Dan ini sama halnya dengan mendaki gunung. Semua orang dewasa, baik laki-laki atau perempuan, mungkin bisa mendaki gunung, terlepas dari berhasil mencapai puncak atau tidak. Tapi, bertahan pada kondisi ekstrem saat mendaki, benak yang melayang ke tempat tidur yang hangat serta bersit-bersit pikiran yang mengacaukan akal, bisa menggagalkan keinginan seorang pendaki untuk mencapai puncak.

Esensinya, ada konteks pengertian yang sama antara hijrah dan mendaki gunung. Hijrah memerlukan komitmen yang kuat, tekad yang bulat dan melenyapkan semua kejahilan masa lalu, agar hijrah yang kita niatkan bisa menjadi kaffah. Tentunya untuk memiliki hal-hal tersebut ada kiat-kiat tersendiri. Hijrah mempunyai jalurnya sendiri, tidak hanya terucap saja dalam lisan tanpa ada hal-hal di luar itu yang mengiringinya.

Agar hijrah tidak berhenti di tengah jalan

Dikutip dari situs muslim.or.id, sedikitnya ada enam (6) poin yang harus diperhatikan agar keinginan hijrah kita tidak berhenti di tengah jalan. Di antaranya; memiliki niat ikhlas ketika hijrah, mencari lingkungan yang baik dan sahabat yang shalih, memperkuat fondasi dasar tauhid dan akidah yang kuat dengan mengilmui dan memahami makna syahadat dengan baik dan benar, mempelajari Alquran dan mengamalkannya, berusaha tetap terus beramal walaupun sedikit, sering berdoa dan memohon keistiqomahan dan keikhlasan.

Berhijrah memang berat karena harus memiliki kesabaran dan juga komitmen agar tidak kembali ke masa lalu yang penuh dengan kemaksiatan. Boleh jadi cobaan dan godaan yang datang akan lebih berat. Lingkungan barangkali saja kurang kondusif, teman-teman dekat mungkin menjauh, dan, bahkan, mungkin akan ada orang yang membenci perubahan kita.

Tentu saja akan ada konsekuensi terhadap pilihan hidup kita. Ketika berhijrah, kita akan menemukan dua keberanian, yaitu berani kehilangan dan berani untuk menemukan.

Namun, tahukah kamu bahwa Allah akan memberikan balasan yang luar biasa bagi yang berhijrah sungguh-sungguh karena Dia? Allah akan memberikan rezeki, diampuni kesalahan dan dosanya, ditinggikan derajatnya, mendapatkan kemenangan yang besar dan tentunya mendapatkan ridho Allah dan akan berbalaskan surga-Nya.

“Barang siapa yang hijrah di jalan Allah, niscaya akan mendapati muka bumi tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…. “ (Q.S Annisa: 100).

Hijrah dan mendaki gunung

Begitu juga mendaki gunung. Banyak rintangan selama proses pendakian. Kehausan, kedinginan, kaki kram, kelaparan dan lain-lain siap menghadang sebelum kita melihat semburat sang fajar menyembul dari langit timur.

Sama seperti hijrah, mendaki gunung pun memerlukan persiapan matang. Mendaki gunung bukan sekadar tamasya menikmati keindahan alam; ada tahapan-tahapan yang harus dilalui agar niat mendaki gunung bisa tercapai dan kembali pulang dengan selamat.

Kebanyakan kisah-kisah tragis orang yang hilang dalam kelebatan hutan, putus asa di tengah jalan karena lelah, tewas di jurang, terjadi karena kesiapan yang kurang matang.

Jangan salah, mendaki gunung perlu persiapan lahir dan batin, tidak hanya fisik saja. Sama dengan hijrah. Tidak hanya raga dan fisik kita saja yang berpindah dari tempat buruk ke tempat yang baik, batin pun harus ikut hijrah. Artinya, tak bisa hanya fisik kita saja yang hijrah sementara batin masih tertinggal di belakang.

Takkan pernah sunrise di langit timur itu bisa disaksikan, meskipun fisik sanggup, jika batin ternyata melekat erat di kehangatan rumah. Takkan pernah keagungan Sang Pencipta bisa kita nikmati jika benak melayang-melayang pada zona nyaman di rumah.

Di titik inilah hijrah dan mendaki gunung bertemu. Dibutuhkan tekad yang kuat untuk hijrah dan tak kembali lagi ke masa lalu, dibutuhkan semangat yang terus dipompa dalam hati agar jejak-jejak yang tercipta dapat mengantarkan kita menuju puncak gunung, dan dibutuhkan istiqomah yang terus dipupuk agar hijrah yang kita lakukan tak berhenti di tengah jalan.

Hijrah memang seperti mendaki gunung; butuh kesabaran, kekuatan, dan istiqomah yang tak kunjung putus karena banyak cobaan yang menghalangi. Namun, jika dalam mendaki gunung setelah tiba di puncak kita akan kembali turun, dalam hijrah kita harus terus konsisten di jalan-Nya sampai Pemilik Jasad ini memanggil kita kembali karena tugas-tugas kita telah usai di dunia.

Wallahu a’lam bisshawab! ***

Tulisan ini termuat di pendakiindonesia.com https://pendakiindonesia.com/hijrah-dan-mendaki-gunung/

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

GITANJALI

 

GITANJALI-MOCKUP

GITANJALI

Sebuah Persembahan Untuk Menemukan Hati.

Penerbit: MediaKita          Ukuran: 14,5 x 21 cm
Genre: Fiction
Jumlah Halaman: 312 halaman
ISBN: 978-979-794-560-2
Tahun Terbit: 2018

 

 

Setiap orang tentu memiliki alasan tersendiri mengapa mendaki. Ada yang tujuannya untuk keilmuan, olahraga, ibadah atau pengenalan diri. Semua memiliki versinya sendiri-sendiri, sesuai dengan proses petualangan yang dia alami, dan pula tergantung dari masing-masing orang saat mempunyai niat apa untuk mendaki. Apapun itu, mendaki memiliki filosofi tersendiri yang masing-masing orang bebas untuk menerjemahkannya.

Hal ini yang dialami pula oleh seorang lelaki bernama Ed, yang hendak melakukan pendakian Seven Summits Indonesia, untuk ia persembahkan kepada Ine, kekasihnya. Alih-alih mendaki sebagai persembahan, Ed justru mengalami sekelumit kisah yang tak terduga dalam pencapaiannya. Ketika rencana dan nyata tak selalu sama, Ed mendapatkan makna sejati dari perjalanan panjangnya. Ketika cinta dan asa tak selalu seirama, Ed mendapatkan makna reliji yang sesungguhnya.

Novel Gitanjali tersedia di toko-toko buku, di kota anda. ***

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pendaki; Pendekatan Diri Pada Sang Ilahi Robbi.

 

EditSampai saat ini, mungkin dunia petualangan tak mengenal siapa yang pertama kali mencetuskan istilah pendaki beserta penjabarannya. Namun yang pasti, sejak pertama kali istilah Pencinta Alam dicetuskan sekitar tahun 60-an, seiring berdirinya organisasi Mapala UI dan Perhimpunan Wanadri, bisa saja istilah pendaki mulai populer dari situ.

Tak ada yang bisa secara tepat mendefinisikan arti dari kata pendaki itu sendiri. Masing-masing orang apalagi dia seorang pencinta alam, terkadang memiliki versinya sendiri-sendiri, sesuai dengan proses petualangan yang dia alami. Mungkin, mencari definisi kata pendaki sama saja seperti kita menyodorkan alasan seseorang hobi naik gunung.

“Mau apa naik gunung? Sudah sampai puncak, turun lagi! Cape-capein saja, belum kedinginan, kehujanan, kepanasan!” Alasan-alasan itu yang kerap kita dengar dari orang-orang yang tak menyukai hobi tergolong ekstrem ini. Tapi coba tanyakan pada orang-orang yang hobi mendaki gunung, maka beribu alasan kenapa mereka suka mendaki akan terjawab dengan gamblangnya. Namun untuk menjawab secara tepat seseorang mendaki gunung, jawabannya relatif. Tergantung dari pengalaman apa yang dia dapat saat mendaki pertama kali.

Legenda-legenda pendaki gunung seperti, Edmund Hillary, Reinhold Messner, George Mallory atau pun misalnya (Alm.) Norman Edwin, Soe Hok Gie dan lain-lainnya, pasti mempunyai alasan tersendiri kenapa mereka begitu menyukai naik gunung. Kenapa mereka terus dan terus mendaki gunung hingga akhirnya harus menghembuskan napas dalam pelukan gunung yang dingin. Tak ada jawaban pasti. Semuanya memiliki definisi yang relatif, tergantung dari masing-masing orang saat mempunyai niat untuk mendaki.

Begitu juga dengan istilah pendaki. Beberapa orang mengartikan pendaki adalah pencari. Beberapa yang lainnya mengartikan pendaki adalah penempuh rimba, penjelajah, penelitian yang bersifat ilmiah. Bahkan ada juga yang mengartikan lebih nyeleneh, bahwa pendaki itu adalah singkatan dari pejalan banyak daki. Tapi bagi penulis, semua itu sah-sah saja. Karena semua orang bebas dalam mendefiniskan arti dari kata-kata mendaki itu.

Namun jika kita mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata pendaki adalah orang yang mendaki. Jika berpijak pada definisi itu, bisa saja terjemahan bebasnya menjadi seperti ini; bahwa pendaki gunung dapat dikatakan sebagai orang yang gemar atau memiliki hobi melakukan kegiatan mendaki gunung. Mereka tidak memiliki motivasi lain selain hanya sekadar melakukan kesenangannya sendiri yakni mendaki gunung, mencari ketenangan, udara segar, kebersamaan, atau hanya sekadar menikmati keindahan alam, baik secara individu maupun secara berkelompok.

Apapun itu, mendaki memiliki filosofi tersendiri yang masing-masing orang bebas untuk menerjemahkannya. Sebuah perjalanan yang kaya akan pelajaran, dan mendaki merupakan jalan mengenali dan memperbaiki diri.

Dan jika bicara mendaki tentu ada obyek dari pendakian itu sendiri, yakni gunung. Dalam Sunda, arti kata Gunung kerap diterjemahkan sebagai GUru Nu Agung. Pada masa klasik, bagi masyarakat Sunda, Gunung menduduki tempat tersendiri pada sistem religinya. Di masa itu, gunung memiliki peranan sendiri dalam sistim masyarakat dan juga agama. Ini artinya keberadaan gunung tak bisa jauh dalam konteks kehidupan masyarakat terdahulu.

Dalam berbagai literatur tentang gunung, banyak disebutkan jika gunung-gunung yang ada di Nusantara ini berabad-abad lampau telah banyak yang didaki. Hal ini diyakini juga oleh Junghunn, seorang zoologist dari Belanda (sebelumnya berkebangsaan Jerman), yang mengalami hal ini secara langsung. Junghuhn dan para pendaki Eropa lainnya yang pada saat sesampainya di puncak, dikejutkan dengan temuan bekas-bekas kegiatan manusia di kawasan sekitar hutan Gede-Pangrango. Di sekitar kawah yang baru ditemuinya itu, mereka menemukan patilasan (jejak) berupa batu-batu yang dipercaya sebagai makam nenek moyang masyarakat setempat.

Ini artinya, gunung menempati posisi dan peran penting dalam berbagai agama. Ada agama-agama yang percaya bahwa gunung adalah tempat disampaikan atau diungkapkannya ajaran agama, atau tempat turunnya guru atau pendiri agama mereka dari surga. Agama-agama lain menganggap gunung sebagai simbol pendakian spiritual. Oleh karena itu para penganut agama menjadikan gunung sebagai tempat suci dan sebagai tujuan dharma yatra (ziarah). Juga Gunung Kaliasa (Kailash) di India, dipandang sebagai tempat suci oleh empat agama, yaitu Hindu, Buddha, Jain, dan Bon.

Di Indonesia, dikenal juga beberapa gunung yang dianggap sebagai tempat suci, seperti Gunung Agung, Gunung Batur, Gunung Batukaru, Gunung Semeru, Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Salak. Status sebagai tempat suci membuat gunung terlindungi dan terpelihara dari perusakan dan pencemaran. Oleh karena itu, gunung suci juga terjamin sebagai sumber air yang sangat penting bagi pertanian khususnya dan kehidupan umumnya.

Kita ambil contoh Gunung Agung di Bali. Dalam penelitiannya di Bali, Stuart-Fox (2010) menyatakan, mitos tentang asal usul Gunung Agung sering dikaitkan dengan Hinduisasi yang menghubungkan bagaimana gunung tersebut dibawa dari India ke Pulau Jawa dan Bali. Puncak gunung dianggap sebagai kawasan suci dan merupakan tempat bersemayamnya para penjaga kehidupan, bumi, dan roh para leluhur yang telah menganugrahkan kemakmuran bagi umat manusia, atau mengambil kembali dengan kemurkaannya membawa kematian dan kehancuran bagi dunia.

Mitos Gunung Agung dipercaya merupakan pecahan dari Gunung Mahameru, dan dalam metafora genekologis ini dewa dari Gunung Agung merupakan putra dari dewa Gunung Mahameru, yakni Dewa Pasupati. Salah satu nama dewa Gunung Agung, Putrajaya (atau Putranjaya) secara jelas mengungkapkan hubungan anak ini, sementara namanya yang lain Mahadewa, adalah salah satu julukan bagi Siwa, menunjukkan statusnya yang paling tinggi dalam Hinduisme di Bali. Gunung Agung merupakan gunung tertinggi di Bali. Gunung Agung mendapatkan posisi yang sangat spesial dalam masyarakat Hindu, khususnya di Bali.

Di tengah gunung yang disucikan ini terdapat Pura Pasar Agung dan di kakinya berdiri Pura Besakih sebagai pura terbesar di Bali. Bahkan di puncak Gunung Agung, yakni di kawasan kawahnya, bahkan ada semacam tempat yang disucikan bernama Puser Tasik yang merupakan tempat mulang pakelem (upacara melarung sesajian). Puser tasik (puser = pusat, tasik = garam) dapat dimaknai secara harfiah sebagai “pusat garam” karena ada kepercayaan bahwa lobang kepundan Gunung Agung tembus dengan laut (tempat garam) sesuai paradigma segara-gunung (segara= laut, gunung = gunung) dalam sistem budaya masyarakat Bali. Pura Besakih yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, ini dikategorikan sebagai Sad Kahyangan, jadi ia adalah salah satu dari enam pura utama yang ada. Lima lainnya adalah Pura Lempuyang di Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem; Pura Uluwatu di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung; Pura Goa Lawah, Kabupaten Klungkung; Pura Batukaru, Kabupaten Tabanan; Pura Pusering Jagat (Pura Puser Tasik), Desa Pejeng, Keacamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.

Dalam Islam sendiri, kegiatan mendaki gunung jika dilakukan dengan penuh penghayatan adalah sebagai salah satu wujud Iqra’ kita kepada ayat-ayat Allah SWT. Hakikatnya usaha mencintai alam bermuara pada mengenal dan mencintai sang pemilik alam, yaitu Allah SWT. Agak sulit rasanya ketika kita akan mendapatkan nuansa yang akan membawa perasaan kita pada perenungan tentang alam raya, jika nyatanya pada saat melakukan pendakian dalam sorak sorai dan gemuruh hiruk pikuk yang melenakan.

Rasullullah Muhammad SAW pun mendapatkan wahyu pertama dari sisi Allah SWT melalui malaikat Jibril, juga sebelumnya telah melalui perenungan yang dalam tentang konsep penciptaan alam semesta, seperti yang juga yang dilakukan oleh nabi Ibrahim AS. Baginda Rasullullah ber-tahannuts di gua Hira’ sekian lama sebelum Allah SWT mengutus malaikat Jibril AS untuk menyampaikan wahyu pertama-Nya.

Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah

Bacalah, Dan Tuhan-mulah Yang Maha Mulia

Yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam ( pena )

Dia mengajarkan manusia apa yang tidak di ketahuinya.

( Al- qur’an, Al’alaq, 1 – 5 )

Dan pengertian Iqra’: Bacalah, pada ayat diatas bukanlah semata-mata membaca seperti pengertian harfiah yang kita fahami, namun membaca yang dimaksud adalah juga mencakup, melihat, memperhatikan, mendengar, merasakan, mengamati, memikirkan dan merenungi jagad raya ciptaan Allah Sang Khalik. Kita diminta oleh Allah SWT untuk merenungi kejadian alam semesta ini, bagaimana bumi dihamparkan, gunung ditegakkan, dan langit ditinggikan, agar kesemuanya ini  membawa kita pada bentuk kesadaran tentang betapa Maha Perkasanya Allah dan Maha Agungnya Allah. Dengan kesadaran semacam ini, kesombongan dan keangkuhan kita sebagai manusia yang merasa hebat dan merasa kuat akan dapat segera dikikis.

Akhirnya, terlepas apapun itu soal mendaki gunung, baik itu untuk olah raga, hobby, atau pun keilmuan kembali ke hakikatnya masing-masing. Namun yang patut diyakini, dengan mendaki dapat merasakan mendekatkan diri pada Illahi Rabbi, lewat ciptaan-Nya yang terhampar luas. Bukankah dalam kitab sucinya, Al-Quran, Allah SWT menjelaskan soal tujuan penciptaan Gunung beserta alam raya ini. Bukalah QS Nuh: 19-20, di mana Allah berfirman, “Allah telah menjadikan bumi terhampar luas untukmu, agar kamu dengan bebas meniti jalan-jalan yang terbentang di bumi.” Atau dalam QS An Naazi’aat: 32, lebih detail lagi Allah bicara soal ini. Katanya, “Gunung-gunungpun Ia pancangkan, untuk kesenanganmu.” (Al Quran Surat An Naazi’aat: 32)

Begitulah gunung diciptakan dan untuk tujuan itulah seharusnya para pendaki gunung mendaki. Pada tataran tertentu, para pendaki gunung sebenarnya adalah orang-orang yang telah berguru pada alam. Guru yang langsung diciptakan oleh Tuhan untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kita. Jadi bisa dibilang, orang-orang yang berguru pada alam itu sesungguhnya telah berguru pada sang maha guru. Maha guru yang lebih banyak memberi dan tak pernah meminta.

Karena ilmu tanpa batas itu sumbernya dari Tuhan, maka alam adalah sebagai medianya. Nabi Musa saja harus mendaki gunung Sinai ketika akan mendapatkan kitab Taurat. Nabi Muhammad juga harus mendaki bukit (jabal) dan tinggal di Gua Hiro yang tidak semua orang bisa dengan mudah menggapai tempat tersebut, sebelum akhirnya menerima wahyu yang pertama. Demikian pula para empu yang harus mendaki gunung untuk bertapa sampai pada akhirnya mendapatkan pencerahan berupa ilmu atau kesaktian.

Jadi kegiatan mendaki gunung, harus memiliki tujuan yang jelas agar kegiatan yang kita lakukan tidak sia-sia. Dengan mendaki gunung kita akan merasakan kedekatan dengan alam yang pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada kedekatan diri kita dengan Tuhan. Jadi dengan mendaki gunung, kita akan belajar ilmu agama yang jauh lebih tinggi, yakni ilmu hakikat diri. Hal-hal seperti ini sesungguhnya sudah dibuktikan oleh para nabi dan kaum petapa yang gemar sekali mendaki gunung untuk sekedar bertapa dan menyendiri guna mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dengan menyendiri di gunung-gunung selama beberapa hari bahkan sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun, mereka merasakan kedekatan dengan Tuhannya. Sampai pada akhirnya, mereka dikaruniai beberapa ilmu yang tak semua orang bisa mendapatkannya: Ilmu hakikat.

Dan ini sesuai dengan ucapan para hukamah atau sufi bahwasannya jika kita mampu mengenali diri sendiri, maka kita akan memahami betapa ciptaan Allah SWT begitu luas membentang, perkasa dan tak tertandingi. Dengan begitu, perjalanan mendaki akan makin mendekatkan diri pada Illahi Rabbi. Semoga! ***

Tulisan ini dimuat di pendakiindonesia.com | http://pendakiindonesia.com/mendaki-pendekatan-diri-pada-sang-ilahi-robbi/

 

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Legenda Itu Bernama Gie ;Mengenang 48 tahun Kepergian Soe Hok Gie

DSC03986

“Kalau soalnya adalah mendaki, kamu juga mendaki. Namun, mengapa nama Soe Hok Gie abadi? Karena ia menulis. Menulis membuat hidupmu tak berhenti”. – Epigraf

 

Menulis Soe Hok Gie atau yang biasa akrab dipanggil Gie adalah menulis sebuah legenda. Legenda yang terus hidup dan tak lengkang dimakan zaman. Dan setiap bulan Desember tiba, nama Gie itu tiba-tiba selalu dikenang kembali, baik oleh dunia penggiat alam maupun oleh aktivis pergerakan. Ya, di dua dunia itu, nama Gie begitu membumi bahkan sampai ke urat akar.

Bagi para penggiat alam, mungkin Gie adalah inspirasi bagaimana mengisi masa muda dengan energi yang diberikan ke alam semesta dengan mendaki gunung dan mencintai alam. Sementara di dunia aktivis pergerakan zaman now, mungkin nama Gie sudah menjadi icon bagi para aktivis, bagaimana seorang demostran harus tetap ajeg tanpa larut dalam euphoria kemenangan.

Jika mau disimak, kelebihan Gie hingga namanya masih terus hidup sampai kini adalah karena ide-idenya tetap menarik perhatian, sampai saat ini. Melalui ide-idenya yang dirangkai menjadi sebuah tulisan, kalimat-kalimatnya membuat para pembaca merenung lantas mengangguk-angguk setuju atas kondisi persoalan yang tengah terjadi.

Dalam konteks tertentu, Gie kerap disandingkan dengan Ahmad Wahib. Bedanya, kalau Gie lebih cenderung menulis seputar persoalan humanisme kemanusiaan tanpa pernah menyinggung soal agama sedangkan Ahmad Wahib lebih menitikberatkan pada seputar agama.

Kesamaannya mereka adalah mati muda, yang satu meninggal di puncak gunung tertinggi Semeru dan yang satu lagi meninggal ditabrak lari sepulang dari tempat kerjanya di Majalah Tempo.

Kembali ke Gie, meski dalam dunia penggiat alam dan aktivis pergerakan namanya begitu melegenda. Namun sebagai seorang manusia, pada hakikatnya Gie adalah sosok yang kesepian. Jiwanya selalu resah dan gelisah melihat ketidakadilan di depan matanya, dan rasa itu mulai timbul di usianya yang begitu muda.

Saat-saat di mana anak seusianya begitu menikmati masa pra remajanya, rasa itu bagi Gie mungkin tak begitu dominan. Ketidakadilan di depan matanya begitu telanjang sehingga ditepis pun dalam benaknya, malah makin tertanam. Hal ini yang mendorongnya untuk menulis apa yang dilihat dan dirasakan itu melalui catatan harian-nya.

Dalam Catatan Seorang Demonstran (CSD) yang diterbitkan oleh LP3S, diceritakan betapa Gie begitu kecewa saat melihat seorang pengemis yang tengah memakan kulit mangga sementara dua kilometer dari situ, sang Presiden tengah makan dengan istri-istrinya yang cantik. Lihatlah, pengalaman yang dilihat matanya itu menjadi suatu momentum kegelisahan dalam hidupnya. Ia menjadi starting point bagi kegelisahan-kegelisahan yang dialaminya pada fase selanjutnya.

Dan sebagai generasi yang lahir pasca kemerdekaan, Gie seolah-olah menilai bahwa generasi seangkatannya harus berbeda dengan generasi sebelumnya. Ia harus memiliki idealisme sendiri, konsep tersendiri tentang bagaimana mengisi kemerdekaan dalam arti sesungguhnya. Sungguh pun dia punya sungkan bercampur kecewa dengan para perintis kemerdekaan, namun keseganan itu tak mengurungkan niatnya untuk memberi kritikan.

Memang, membaca atau mengenang Soe Hok Gie adalah membaca sebuah perlawanan anak manusia keturunan. Goresan penanya yang tajam, menusuk dan tanpa tedeng aling-aling, yang terbit pada sejumlah surat kabar, secara nyata mengobrak-abrik establishment rezim penguasa. Tak hanya rezim Soekarno dan juga rezim penggantinya yakni Soeharto, bahkan sesama dosen di mana dia kemudian mengajar di almamaternya, dia kritik juga. Gie seperti tak mengenal lelah dalam mengkritik, tak pernah mengenal dia pejabat atau bukan.

Namun hal yang membedakan dia dengan aktivis lainnya adalah keteguhan idealismenya yang terus dia bawa sampai mati. Tak terbayang jika Gie menjadi oportunis saat rezim orla ditumbangkan, dan bersama kawan-kawannya ikut duduk di DPR-GR, mungkin kita tak mengenal sosok Gie. Bahkan bisa jadi Gie tak akan menjadi legenda sampai hari ini.

Satu-satunya yang mau menerima keberadaan dirinya tanpa pamrih adalah alam. Karena itulah, Gie seolah-olah memasrahkan semuanya pada alam yang begitu dia cintai. Karena cintanya pada alam lah, Gie bersama kawan-kawannya membuat suatu kutub tersendiri yakni Mapala Pencinta Alam. Ia mampu memilih untuk tidak terjebak dalam dua kutub yang bertentangan pada saat di mana kedua kutub tersebut ikut menarik dirinya dalam arus putaran yang begitu kuat. Ia tak tertarik untuk bergabung dengan organisasi yang mengatasnamakan golongan dan ditunggangi kepentingan politik. Gie mampu berdiri tegak bahkan membuat kutub tersendiri, di mana kutub yang digagasnya tak berbau politik dan tidak mengikut arus.

Alam adalah semua jawaban dari kegelisahan-kegelisahannya, meski tak menjawab dari segi kontekstual. Namun dari segi keresahan dan kegerahan dengan situasi dan kondisi yang terjadi, sedikit banyak hal itu bisa menjawabnya dengan ketenangan batin. Meski saat kembali ke dunia peradaban, keresahan itu akan kembali muncul.

Di titik ini, Gie memang dibenturkan oleh dua pilihan yang harus dia putuskan sendiri yakni menjadi seorang yang apatis atau ikut arus. Namun dalam kegelisahannya yang terus mendera, dia memiliki pilihannya sendiri yakni menjadi “manusia bebas”. Gie jeli melihat realitas yang ada sehingga dia harus mengambil keputusan itu. Namun itulah yang diinginkan Gie, sehingga dia bisa berbuat lebih banyak dalam melihat ketidakadilan hingga bisa dituangkan dalam bentuk tulisan.

Dan sebuah pilihan – apapun itu – pasti akan selalu membawa pada keputusan berikutnya yakni sebuah resiko. Apa yang dipilih Gie adalah sebuah resiko kesendirian, terisolasi bahkan jika Gie masih hidup dan masih terus konsisten, mungkin resiko ini akan membawanya pada kesulitan-kesulitan hidup yang baru.

Tapi itulah Gie, dia menjadi sosok legenda karena sikap dan kekonsistenannya dalam memperjuangkan hakikat kemanusiaan bagi rakyat kebanyakan. Dan satu hal terpenting yang membuat Gie masih tetap dikenang hingga saat ini adalah karena ia menuliskan semuanya dalam CSD. Karena menulis lah, meski Gie hidupnya telah lama berhenti namun namanya terus melegenda hingga kini dan nanti. Semoga! ***

*Tulisan ini dimuat di urbanhikers.id | https://urbanhikers.id/read/catatan-kaum-urban/171/legenda-itu-bernama-gie-mengenang-48-tahun-kepergian-soe-hok-gie

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hakikat Manusia Adalah Petualang; Petualang Perindu Jannah

 

“Janganlah bersusah payah melakukan safar (perjalanan) kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.” [HR. Al Bukhari & Muslim].

 

musafir

 Pada hakikatnya, seorang manusia semuanya adalah seorang petualang. Dalam konteks harfiah, petualang adalah seseorang yang berusaha memperoleh kepuasan atau kebahagiaan dengan cara nekat atau yang sulit-sulit. Bahkan terkadang petualang sejati akan melakukan yang menurut logika benar-benar tidak masuk akal.

Pernahkah Anda melihat, mendengar atau membaca kisah seseorang yang seluruh hidupnya ia dedikasikan hanya untuk bertualang? Bahkan hampir sepanjang hidupnya dilakukan untuk bertualang! Apakah yang dicari? Kepuasan kah? Atau kebahagiaan? Adalah seorang laki-laki yang berusia 15 tahun itu bernama John Goddard dari Los Angeles, ia menulis di atas bloknot “Daftar Kehidupanku”. Ada 127 tujuan-tujuan yang ingin ia gapai.

Di antara tujuan-tujuannya, yakni meliputi tujuan untuk mendaki gunung-gunung tertinggi di dunia, mengarungi sungai-sungai yang deras, mengeksplorasi dunia bawah air hingga membaca karya Shakespeare dan seluruh Encyclopedia Britannica. Ini bukan tujuan-tujuan yang sederhana atau gampang diraih. Namun sampai tahun 1993, ia telah menggapai 108 dari 127 tujuan-tujuan itu.

Artinya, sebagai hakikatnya seorang petualang di dunia yang sementara ini, betapa sebentarnya kita bertualang di dunia. Betapa fananya hidup manusia, karena setelah itu kita hanya tinggal diberi pilihan akibat perbuatan kita, ke surga atau neraka. Bagi orang-orang berakal, pasti akan memilih sesuatu yang baik bukan yang buruk, mengutamakan kebahagiaan yang bersifat abadi daripada kebahagiaan sejenak. Kalaulah kita merenungi dunia dan segala isinya ini, kita pasti akan sadar dan yakin bahwa dunia dan segala isinya ini hanya bersifat sementara, tidak kekal.

Namun petualangan dalam konteks apapun tak ada yang sia-sia. Bahkan dalam Islam, banyak hadist yang mengisyaratkan agar manusia bertualang guna memperoleh ilmu pengetahuan. Jika kita diibaratkan tengah bertualang dalam mengarungi dunia ini, itu sama artinya kita adalah orang-orang yang menghargai hidup dengan bertualang untuk mempertaruhkan hidup.

“Allah telah menjadikan bumi terhampar luas untukmu, agar kamu dengan bebas meniti jalan-jalan yang terbentang di bumi” (Al Quran Surat Nuh: 19-20)

Kebahagiaan dan kesedihan di dunia juga bersifat sementara. Bertolak belakang dengan kebahagiaan atau kesedihan di akhirat yang semua bersifat abadi. Maka alangkah ruginya, orang yang hanya mengejar materi dan kesenangan semu di dunia, karena tidak lama lagi itu semua akan berakhir dengan kematian.

Diriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu-, ujarnya, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam duduk di mimbar sedangkan kami duduk di sekeliling beliau. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan pada diri kalian setelah peninggalanku ialah dibukakannya bunga dunia dan pernak-perniknya untuk kalian.” Pada ayat dan hadits tersebut di atas, kehidupan dunia diibaratkan sebagai bunga. Pertanyaaannya, apakah hubungan antara dunia dan bunga sehingga bunga dijadikan sebagai sample kehidupan dunia? Jawabannya dapat kita telaah sebagai berikut.

Ketika suatu tanaman yang hendak mengeluarkan buahnya, biasanya diawali dengan kemunculan bunga. Kadang kala bunga itu terlihat indah dan di saat lain terlihat begitu sangat menawan. Bahkan terkadang tidak sedikit orang yang memandangnya berhasrat untuk memetiknya dan dibawanya pergi. Namun tahukah kita sekiranya bunga tadi benar-benar dipetik sebelum berubah menjadi buah? Ternyata tidak akan berapa lama kemudian akan segera layu dan pada akhirnya akan dicampakan oleh sang pemetiknya. Memang jika masih berada di tangkai, terlihat begitu mempesona, namun jika diambil saat itu juga maka yang terjadi adalah malah justru menjadi layu, tak tahan lama. Berbeda ceritanya jika kita biarkan bunga itu terus berada di tangkainya sedikit agak lebih lama, tentu bunga tersebut akan berubah menjadi buah yang tidak saja indah dan menyejukkan pandangan jika dilihat, akan tetapi juga dapat dikonsumsi.

Dan gambaran dunia pun dapat dipastikan sebagaimana kisah bunga di atas. Kehidupan dunia itu terlihat begitu indah menawan di mata siapa saja yang melihat dan memandangnya. Tahta, jabatan, wanita, keturunan, harta, benda, dan seterusnya. Keseluruhannya itu nampak begitu menggoda dan membuai normalnya jiwa manusia tergoda dan berhasrat untuk menggapai dan menikmatinya. Akan tetapi sungguh, segala yang terlihat indah di mata itu sejatinya akan jauh lebih indah jika ditunggu sebentar saja nanti ketika datang kampung kekelan di akhirat. Adapun orang-orang yang terlena dan tergoda sehingga tak dapat menahan kecuali memetik dan menikmatinya, sungguh cepat ataupun lambat segala sesuatu yang dinikmatinya itu akan layu dan nampak suram dan bencana yang sangat mencekam. Demikianlah Allah menguji hamba-hamba-Nya agar dapat terlihat mana di antara mereka yang benar-benar jujur dan taat mematuhi segala titah-Nya, dan mana di antara mereka yang terburu-buru menikmati keindahan sebelum datang waktunya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah mengatakan, bahwa dunia itu laksana surga bagi orang kafir, dan penjara bagi orang mukmin (HR Muslim). Kenapa? Karena di dunia itu dipenuhi aturan-aturan yang sama sekali tak boleh diterjang. Ada halal-haram, ada perintah-larangan, ada ini dan itu. Kerap kali untuk menjalankan suatu perintah, harus meninggalkan beberapa perkara yang nampak indah dan di saat tertentu harus menelan rasa pahit. Seluruh perintah ini hanya akan dilaksanakan oleh orang-orang mukmin karena meraka bersabar dan yakin bahwa kehidupan sebenarnya yang terdapat berbagai kenikmatan hanya akan ada di akhirat, di dunia bukanlah tempat berfoya-foya dan leyeh-leyeh.

Sedangkan orang kafir terburu-buru dan tidak sabar menikmati kemewahan dunia yang tak ubahnya fatamorgana. Di dunia mereka berfoya-foya dengan disertai ejekan dan cemoohan pada orang-orang yang mau bersabar, kelak orang-orang kafir itu akan merasakan akibatnya. Ketika mereka sudah merasakan indahnya dunia, kelak di negeri kekal tak akan lagi merasakan indahnya surga. Nerakalah tempat teduh mereka.

Namun melihat fenomena kehidupan manusia dalam dua tahun terakhir ini, kian hari rasanya kian menggiriskan. Betapa tidak, diantara sesama sepertinya sudah tak ada lagi norma-norma dan etika yang tercipta. Berbagai kasus yang tak masuk akal kian mewarnai kehidupan manusia. Kehidupan moral yang carut-marut ini makin dipicu dengan kondisi sikap para penguasa yang makin menjungkirbalikkan akal sehat.

Betapa tidak? Kini sudah tak asing lagi, jika kebenaran hanya milik para penguasa saja. Kebenaran seolah-olah sembunyi di langit. Orang yang salah malah dianggap benar, dan sebaliknya orang yang benar malah dianggap salah. Perilaku orang-orang semakin ganjil, yang berhati mulia semakin terpencil. Yang batil dikatakan hak dan yang hak dikatakan batil.

Betapa kini kebenaran entah tengah bersembunyi di mana. Akhir zaman memang telah dekat. Manusia yang pada hakikatnya hanya bertualang sementara di dunia ini, seolah-olah merasa menjadi abadi. Merasa menjadi makhluk Immortal. Jadi antar sesama sepertinya sah-sah saja untuk saling bersitegang, berdebat dan menyalahkan satu sama lain.

Hidup di akhir zaman seperti saat ini membuat manusia jauh dari Tuhan. Hal ini dikarenakan perkara dalam agama baik ajaran maupun sampai pada aturan tidak lagi dianggap relevan dan tidak logis bahkan tidak trendy mengikuti zaman. Pola pikir mulai berubah drastis yang disebabkan kehidupan sangat materialistis, sehingga semuanya sangat berorientasi pada uang dan harta serta materi. Ini yang mengantarkan manusia terjebak dalam paham materialisme karena kecintaan terhadap dunia begitu mendalam yang berakibat sangat konsumtif dan liberatif.

Pada akhirnya, upaya manusia lebih banyak mendekati sesuatu yang dilarang, sebab yang dilarang sangat menguntungkan dan menghasilkan lebih banyak serta bisa melakukan apa saja yang sangat transaksional. Dari yang berbau makruh sampai haram atau dari yang riba sampai syubhat semua adalah pondasi utama hidup yang sangat dekat dengan hedonisme. Manusia inilah yang lidah dan lisannya paling lantang bicara agama dengan dalih menjual ayat, perkumpulan manusia soak alim dan suci, surga bukan cuma milik satu kelompok, nabi aja lemah lembut, taubat bisa kapan saja, menikmati masa kebebasan dan sebagainya.

Tapi tidak bagi yang berharap menjadi bagian ashabul jannah. Hari-harinya akan selalu diisi dengan kebaikan dan ketakwaan, meski dulunya ia pernah khilaf di masa jahiliyyahnya. Kini menjadi perindu surga, tak peduli seberapa buruk masa lalunya dan seberap hina, semuanya telah ditinggalkan serta tak akan lagi diulangi dengan kesalahan yang sama. Tidak pula menjadikan dirinya paling baik dan sempurna, melainkan selalu berusaha terus mengajak orang di sekelilingnya khususnya yang ia cintai agar bersama menuju surga. Sebab ia tahu jalan neraka itu nikmat dan mudah tapi akan banyak penyesalan serta masalah maupun kehancuran hidup.

Menjadi bagian para penghuni surga tentunya berkumpul dengan orang soleh dan solehah, memperdalam ilmu khususnya ilmu keagamaan agar semakin dekat dan mampu mengamalkan kebaikan atas dasar pengetahuan. Sebab semakin banyak dan dalam ilmu yang terus dipelajari dari berbagai cara, maka semakin meningkat keimanan dan ketakwaan dan semakin meningkat pula ujian dan cobaan. Belajar dari guru atau ustadz yang membimbing, mengikuti kajian ilmu, membaca banyak buku, mendalami kitab, menyimak ceramah dan sebagainya.

Memilih jalan ketaatan itu tidak mudah, terasa berat dan seakan meninggalkan segala sesuatu pekerjaan dan urusan yang mengasyikkan. Karena kehidupan dunia selalu menggoda dan menghibur yang sering kali membuat manusia jadi lalai akan hakikat hidup. Belum lagi cemoohan atau sindirian dari berbagai kalangan yang terus nyinyir tiada habisnya, mulai tuduhan sok alim sampai surga milik sendiri semua ada dan rasanya penuh warna warni kehidupan.

Ashabul jannah yang artinya para penghuni surga maupun sahabat surga penting untuk ditemukan agar secara bersama bisa bahagia kelak dan bertemu kembali. Karena menggapai surga tidak hanya menunggu bagaikan giliran antrian atau hanya dengan sebuah sogokkan atau suap pada malaikat dan Tuhan. Melainkan semua harus diupayakan, ditempuh, dijalani, dipelajari, diamalkan, dilaksanakan, diteguhkan, ditingkatkan, diikhlasakan dan dirasakan.

Tidak ada yang instan dan cepat, semua butuh proses baik dari masa pra hijrah, proses hijrah, pasca hijrah dan menuju hakikat hijrah. Yang jelas jalan menuju surga itu tampak pasti dan benar adanya tidak ada rekayasa serta kebohongan, sehingga tak ada lagi keraguan di dalamnya. Sejauh mungkin dan sebisa mungkin jauh dari Ashabun Nar yakini para penghuni neraka atau sahabat neraka. Itu pun tampak jelas dan begitu menyedihkan. Menjadi sahabat surga tanpa meninggalkan dunia dan tanpa harus terlena dengan kehidupan dunia, sebab di sinilah ladang amal untuk di akhirat kelak serta dapat membantu dan membawa semua orang yang tercinta tentunya tanpa mengabaikan dunia dan tetap mencapai akhirat.

Sebagai petualang di akhir zaman seperti saat ini, sudah selayaknya kita memilih menjadi para petualang yang merindukan Jannah. Para petualang yang berkeinginan untuk dikumpulkan bersama-sama orang yang dicintai. Dan para petualang yang menyakini, bahwa dunia benar-benar hanya sementara. Semoga! ***

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Konservasi Alam dalam Islam

“Kehancuran dan bencana alam yang datang menimpa manusia pada awalnya disebabkan keserakahan oleh ulah manusia juga. Dan sudah sepatutnya dengan melestarikan alam, kita tidak saja sedang menjaga, tapi menjaga diri kita dari musibah dan bencana.”

22196164_2003299199891462_908870744368019740_n

Berbicara atau menulis konservasi alam, erat kaitannya dengan pelestarian alam. Ia tak bisa dipisahkan, satu kesatuan, dan terikat satu sama lain. Baik dalam pengertian kontekstual maupun dalam aplikasi di lapangan. Namun, berbicara soal konservasi alam, jauh sebelum kita memasuki abad modern seperti saat ini, Islam sebenarnya sudah mengajarkan soal pelestarian alam. Ini artinya, jangan menilai jika sebutan pelestarian alam atau istilah konservasi baru dikenal di abad 20 saja, tapi jauh ke belakang, pelestarian alam sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Sebagai agama yang rahmatan lil alamin, kehadiran Islam hakekatnya tak hanya diperuntukkan bagi manusia saja, tetapi juga untuk alam semesta ini, dengan tujuan agar berlangsung secara seimbang rotasi kehidupan di muka bumi. Itulah esensi dari rahmatan lil alamien. Yakni, manusia yang ditunjuk sebagai khalifah harus memberikan rahmat dan manfaat bagi seluruh alam semesta ini.

Namun, saat ini memang kenyataannya berbanding terbalik. Agama seolah hanya untuk manusia saja, bukan untuk bumi. Bumi hanya menjadi second class atau kelas kedua. Karena selama ini alam semesta hanya dinilai sebagai kelas kedua maka pada akhirnya ia hanya menjadi obyek eksploitasi dari kita sebagai manusia, yang ditunjuk Tuhan sebagai wakilnya di muka bumi. Padahal diutusnya kita manusia sebagai wakil Tuhan di bumi atau khalifah fi al-ardhi bukan lantas berhak jadi sewenang-wenang atas alam, bahkan menilai alam menjadi lebih rendah sehingga pantas untuk dieksploitasi.

Bukan untuk maksud dan tujuan seperti itu Allah Swt. menciptakan kita. Namun, sebagai makhluk yang tertinggi, justru Allah menciptakan kita agar dapat memperlakukan alam dengan penuh kasih sayang. Namun sekarang, lihat sekeliling kita, lingkungan kita. Betapa manusia begitu menyia-nyiakan alam yang telah menjadi anugerah dari Allah. Pohon-pohon dibabat habis, hutan dibakar. Dalam hal ini, Al-Qur’an sendiri telah menyatakan bahwa segala jenis kerusakan yang terjadi di permukaan bumi merupakan akibat dari ulah tangan manusia dalam berinteraksi terhadap lingkungan hidupnya. Jadi, jika kini kita merasakan kabut asap yang tiap tahun melanda, atau bencana banjir jika musim hujan tiba, itu akibat dari perbuatan kita sendiri yang berasal dari hawa nafsu kita.

Salah satu pakar Islam yakni Ibnu Taimiyah dalam Taqi ad-Din Ahmad ibn Taimiyah mengatakan, “Telah diketahui bahwa dalam makhluk-makhluk ini Allah menunjukkan maksud-maksud yang lain dari melayani manusia, dan lebih besar dari melayani manusia: Dia hanya menjelaskan kepada anak-cucu Adam apa manfaat yang ada padanya dan apa anugrah yang Allah berikan kepada ummat manusia.”

Ini berarti bahwa secara sistematik, para pakar Islam terdahulu sesungguhnya telah mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan hidup dan konservasi alam, sebagaimana tercermin dari kata-kata Ibnu Taimiyah diatas. Pasalnya, Islam membawa kemaslahatan dan perbaikan (ishlah) terhadap bumi.

Sebagai utusan Allah Swt. di muka bumi, teladan Rasulullah Saw. begitu nyata terlihat. Beliau menunjukkan kepeduliannya pada soal pelestarian alam.  Meskipun, istilahnya bukan konservasi, melainkan prinsip, semangat dan praktek konservasi telah dilakukan Rasulullah dan sahabatnya melalui kawasan lindung (hima), kawasan larangan (al Harim), dan menghidupkan lahan yang terlantar (Ihya al mawaat) serta pemenuhan hak-hak kehidupan liar, baik satwa maupun tumbuhan.

Dalam catatan sejarah, meskipun keterangannya masih diragukan, masyarakat Arab telah mengenal hima sebagai instrumen konservasi. Sebelum kedatangan Rasulullah Saw. Pada era pra-Islam, hima sering digunakan untuk melindungi suku-suku nomaden tertentu dari musim kemarau yang panjang. Hima yang cenderung subur karena mengandung banyak air dan rumput digunakan sebagai tempat menggembala ternak. Para pemimpin suku saat itu mengartikan bahwa hima merupakan salah satu istilah yang tepat untuk diterjemahkan menjadi kawasan lindung atau protected area (dalam istilah sekarang). Hima juga merupakan istilah yang paling mewakili untuk diketengahkan sebagai perbandingan kata dan istilah untuk kawasan konservasi: taman nasional, suaka alam, hutan lindung, dan suaka margasatwa.

Dalam sebuah Riwayat Muslim dijelaskan, bahwa sesungguhnya pionir hima dicontohkan pada dua kota suci yakni Mekkah dan Madinah sejak zaman Rasulullah Saw. Beliau mengumumkan hal itu saat penaklukan Mekah melalui sabdanya, “Suci karena kesucian yang diterapkan Allah padanya hingga hari kebangkitan. Belukar pohon-pohonnya tidak boleh ditebang, hewan-hewannya tidak boleh diganggu dan rerumputan yang baru tumbuh tidak boleh dipotong.”

Bahkan dalam Hadist Riwayat Muslim dikatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah mencagarkan kawasan sekitar Madinah sebagai hima guna melindungi lembah, padang rumput, dan tumbuhan yang ada di dalamnya. Sabdanya, “Sesungguhnya Ibrahim memaklumkan Mekkah sebagai tempat suci dan sekarang aku memaklumkan Madinah, yang terletak antara dua lava mengalir (lembah), sebagai tempat suci. Pohon-pohonnya tidak boleh ditebang dan binatang-binatangnya tidak boleh diburu.”

Sahabat Abu Hurairah mengatakan, “Bila aku menemukan rusa di tempat antara dua lava mengalir, aku tidak akan mengganggunya; dan dia (Nabi) juga menetapkan dua belas mil sekeliling Madinah sebagai kawasan terlindung (hima).” (HR. Muslim). Dalam riwayat Al-Bukhari, Nabi juga melarang masyarakat mengolah tanah tersebut karena lahan itu untuk kemaslahatan umum dan kepentingan pelestarian. Dalam sebuah hadistnya, Rasulullah Saw. bersabda: tidak ada hima kecuali milik Allah dan Rasulnya (Riwayat Al Bukhari).

Oleh karena itu, hima sebagai upaya konservasi alam dalam ajaran Islam telah berumur lebih dari 1.400 tahun. Praktek ini merupakan cara konservasi tertua yang dijumpai di Semenanjung Arabia, bahkan mungkin tertua di dunia. Hal ini diakui FAO sebagai contoh pengelolaan kawasan lindung paling bertahan di dunia.

Lihatlah, betapa konservasi alam sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup Rasulullah Saw. Tugasnya sebagai nabi, ternyata tak hanya meluruskan akhlak umat manusia, tapi juga perlakuan kita terhadap alam yang notabene adalah benda mati secara harfiah. Sekarang, bandingkan dengan istilah konservasi yang kerap didengung-dengungkan oleh para elit politik yang penuh dengan kepentingan. Alih-alih berkoar-koar pelestarian alam, sadar kawasan dan cagar alam namun dengan dalih potensi wisata yang mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan, rambu-rambu pelestarian alam pun dilabrak.

Inilah yang saat ini tengah terjadi pada Pulau Sempu yang berada di Provinsi Jawa Timur. Pulau yang kerap disebut sebagai salah satu serpihan surga yang jatuh di Indonesia ini, nasibnya kini berada dalam ancaman para wisatawan. Hal ini menyusul adanya rencana akan dibukanya taman wisata alam di pulau seluas 887 hektare tersebut.

Dikutip di laman http://www.radarmalang.id, ihwal terancamnya Pulau Sempu itu berawal dari surat permohonan pemerintah Desa Tambakrejo, Sumbermanjing Wetan pada 2015 lalu. Dalam permohonan itu, pemerintah desa ingin agar keindahan Pulau Sempu yang berada di kawasan Pantai Sendangbiru itu bisa dinikmati masyarakat umum.

Padahal, selama ini, Pulau Sempu sudah menjadi kawasan konservasi. Karena kawasan konservasi, maka pulau tersebut terbatas hanya untuk penelitian dan kajian ilmu pengetahuan. Jadi, tak sembarang orang bisa masuk, kecuali ada izin khusus dari Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Surabaya. Namun, meski ada larangan berwisata ke kawasan cagar alam itu, toh faktanya, setiap hari ada ratusan orang masuk ke Pulau Sempu secara ilegal. Karena itu, daripada berwisata sembunyi-sembunyi, pemerintah desa meminta agar Pulau Sempu dilegalkan untuk menjadi wisata umum.

Ironisnya lagi, setali tiga uang dengan Pemdes, Bupati Malang Rendra Kresna mendukung jika Pulau Sempu dibuka untuk wisatawan. Namun, ada syarat khusus, yakni tak boleh ada pembangunan fisik permanen berbahan bata dan semen di dalam Pulau Sempu. Selain itu, status konservasi tetap harus dijaga.

Lagi dan lagi, kita kerap berlindung di balik penyingkapan informasi akan suatu daerah atau alasan lainnya yang sekiranya bisa masuk akal, sehingga menjadi sah untuk dijadikan lokasi kegiatan alam terbuka. Pulau Sempu dan cagar-cagar alam lainnya perlahan tapi pasti akan bernasib sama, hanya tinggal menunggu waktu saja. Apalagi jika para pemegang keputusan di daerah tersebut adalah orang-orang partai yang notabene berkecimpung dalam politik, maka cagar alam yang berpotensi menjadi wisata yang diandalkan, hanya tinggal menunggu momentum yang tepat saja untuk digantikan menjadi kawasan wisata.

Tak percaya? Lihat saja Gunung Burangrang di Bandung, Jawa Barat. Gunung yang punya ketinggian 2.064 meter diatas permukasaan laut termasuk cagar alam. Ini dibuktikan dengan adanya Surat Keputusan Mentri Pertanian Nomor 479/Kpts/Um/8/1979. Namun, lihatlah yang terjadi selama ini. Bukan rahasia umum lagi, jika sampai saat ini gunung yang terletak di kawasan Bandung utara (KBU) dan terpisahkan oleh sebuah lembah besar dengan Gunung Tangkuban Perahu itu, menjadi arena atau lokasi spesial dalam berkegiatan di alam terbuka.

Padahal, di mana aturannya cagar alam boleh dijadikan kawasan untuk berkegiatan di alam terbuka. Dalam konteks pengertian cagar alam jelas sudah, bahwa cagar alam adalah suatu kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Cagar alam menjadi bagian dari kawasan konservasi (Kawasan Suaka Alam), maka kegiatan wisata atau kegiatan lain yang bersifat komersial, tak boleh dilakukan di dalam area cagar alam.

Kawasan itu disebut cagar alam karena dalam kawasan tersebut dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. Artinya, pengelolaan cagar alam sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan kawasan. Upaya pengawetan kawasan cagar alam dilaksanakan dalam bentuk kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan, inventarisasi potensi kawasan, dan penelitian serta pengembangan yang menunjang pengawetan.

Upaya pengawetan itu dilaksanakan dengan ketentuan dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan Kawasan Cagar Alam dan Kawasan Suaka Margasatwa. Dan, termasuk dalam pengertian kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan keutuhan kawasan di antaranya, melakukan perburuan terhadap satwa yang berada di dalam kawasan; memasukkan jenis-jenis tumbuhan dan satwa bukan asli kedalam kawasan; memotong, merusak, mengambil, menebang, dan memusnahkan tumbuhan dan satwa dalam dan dari kawasan; menggali atau membuat lubang pada tanah yang mengganggu kehidupan. Tumbuhan dan satwa dalam kawasan; atau mengubah bentang alam kawasan yang mengusik atau mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa.

Suatu kegiatan dapat dianggap sebagai tindakan permulaan melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam poin 2, apabila melakukan perbuatan, memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan; atau membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, mengangkut, menebang, membelah, merusak, berburu, memusnahkan satwa dan tumbuhan ke dan dari dalam kawasan. Sepertinya, pemahaman seperti ini yang takkan pernah masuk bagi para pejabat yang memiliki berbagai kepentingan.

Sebagai khalifah, pada dasarnya manusia memiliki tugas untuk memanfaatkan, mengelola, dan memelihara alam semesta. Allah telah menciptakan alam semesta untuk kepentingan dan kesejahteraan semua makhluk-Nya, khususnya manusia. Bukan malah merusaknya. Keserakahan dan perlakuan buruk sebagian manusia terhadap alam pada saat ini, jelas dapat menyengsarakan manusia itu sendiri. Tanah longsor, banjir, penebangan dan pembakaran hutan, kekeringan, tata ruang daerah yang tak karuan, dan udara serta air yang tercemar adalah buah kelakuan dari kita sebagai manusia yang justru merugikan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Dalam Surah Al A’raf ayat 56-58, Allah menyinggung juga soal Peduli Lingkungan. Firman-Nya: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadanya rasa takut (tak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu. Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami)bagi orang-orang yang bersyukur.”

Bumi yang kita tempati ini adalah milik Allâh Azza wa Jalla, kita cuma sementara saja tinggal, numpang, ngontrak istilahnya sampai batas waktu yang ditetapkan. Dan, karena kita diberi amanah ini oleh Sang Majikan, maka kita tak boleh semena-mena mengeksplorasi alam tanpa memikirkan akibat yang muncul.

Allah menciptakan alam ini bukan tanpa tujuan. Alam ini merupakan sarana bagi manusia untuk melaksanakan tugas pokok mereka yang merupakan tujuan diciptakan jin dan manusia. Alam adalah tempat beribadah hanya kepada Allah semata. Syariat Islam sangat memperhatikan kelestarian alam, meskipun dalam kondisi jihad fi sabilillah.

Kaum Muslimin tak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan dan keperluan yang jelas. Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang kita saksikan sekarang ini merupakan akibat dari perbuatan umat manusia. Jika dalam kondisi perang saja, Islam sudah mengatur soal pelestarian alam. Ini malah dalam kondisi tak perang, justru pelestarian alam malah dijungkir balikkan dengan berbagai argumen.

Namun, sesungguhnya, apa yang terjadi pada Pulau Sempu dan Gunung Tangkuban Perahu saat ini, sepertinya telah sesuai dengan firman-Nya dalam Surat Ar-Rum ayat 41; “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Wallahu a’lam bisshawab.

Tulisan ini dimuat di buruan.co | http://www.buruan.co/konservasi-alam-dalam-islam-2/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bara – Surat Terakhir Seorang Pengelana.

IMG_20170802_000733Novel Bara, tersedia di toko buku Gramedia.

Penerbit: Mediakita
Tagline: Surat Terakhir Seorang Pengelana
Penulis: Febrialdi R.

Ukuran: 14.5 x 21 cm
Genre: Novel/Fiksi
Jumlah Halaman: 384 halaman
Bahan Isi: BP 57 gram
Bahan Cover: AC 230 gram
Jilid: Lem Punggung
ISBN: 978-979-794-542-8
Tahun Terbit: 2017
Harga: Rp89.000

 

Bara, seorang lelaki muda, pendaki gunung, relawan, sekaligus penulis kisah-kisah petualangan. Latar belakang keluarganya yang berantakan membuat hidupnya liar, keras, dan bebas. Setelah neneknya meninggal dunia, ibunya pergi entah ke mana, dan ayahnya di penjara. Ia pun hijrah dari Indramayu ke Bandung, meneruskan SMA, kuliah, dan kehidupan barunya. ***

Posted in Uncategorized | 2 Comments