Suka Kau (tak) Suka Orang

Selalu ada yang tak suka dengan yang kau lakukan. Terima saja, itulah hidup.Kadang-kadang kau juga perlu merasa heran kalau-kalau semua orang suka dengan yang kau lakukan. Jangan-jangan ada yang salah dengan diri kau, atau barangkali dengan orang-orang itu. Bisa saja orang-orang menjadi suka karena ada maunya, atau bisa jadi mau toleran saja, atau malah, ya sudah hopeless (bahasa gaulnya begitukan?), “…biarlah, memang begitu orangnya….”

Kalau orang tak suka, lantas mau apa? Mengikuti kemauan orang lain? Menjadi budak keinginan orang lain? Tak perlulah kawan. Ini Cuma soal bagaimana kau dan orang lain hidup berdampingan. Maksudnya? Begini, kau punya kesukaan, orang lain pun sama. Kau pun ada rasa tak sukanya, begitu juga yang lain. Misalnya, kau tak suka melihat kawanmu terlalu berlebihan mengekspresikan perasaan kepada pasangannya. Ketidaksukaanmu itu juga berlaku buat orang lain. Kawanmu itu mungkin pula tak suka kau menunjukkan ke-lebay-anmu (bahasa apa ini sebenarnya?) dengan pacarmu. Nah, jadi janganlah kau tunjukkan kelakuan yang jelas-jelas kau cerca kepada orang lain, kau buat pula dihadapan orang lain. Itu sama saja dengan Melempar Tai memercik ke muka sendiri!

Jadi pada pokoknya, seperti sudah kusinggung di depan, ini cuma soal bagaimana kau dan orang lain bisa hidup berdampingan. Ada sense, ada rasa. Kalau dalam bahasa sosialnya, sikap toleran, sikap saling; saling menjaga, menghormati, dan mengerti.

Tentu kau mau protes, “ah, terlalu rumit, berbelit, dan sok melangit. Suka-sukalah apa yang mau kubuat. Ngapain repot memikirkan orang lain, apa yang kusuka ya kulakukan, orang tak suka, terserah.”

Tapi menurutku, apa saja yang kau lakukan, ingat-ingat satu hal, bahwa ada orang lain yang mengukur, yang menilai. Tentu saja kau boleh tidak peduli, hakmu sama dengan orang yang mau peduli. Cuma masalahnya, kau hidup tidak sendiri, setidaknya belum sampai kau mati.

Inilah yang kumaksud dengan Suka Kau tak Suka Orang, tak Suka Kau Suka Orang. Seperti yang kubilang di awal, Terima saja, itulah hidup. Dan ini juga satu sikap toleran. Setidaknya menurutku, terserah kau. Kau bingung dengan catatan ini, terserah kau. Tapi percayalah, ketika kau bingung, sesungguhnya aku pun sedang bingung (kalimat terakhir ini kukutip dari Kang Jalal, kiai Majnun yang toleran, dan aku kagum). ***

Advertisements

About edelweisbasah

Sekuntum edelweisbasah menjadi sejarah kisah gundah bagi langkah-langkah penjelajah resah, atas nama patah, atas segala yang fana. Author Novel Bara Surat Terakhir Seorang Pengelana, Journalist Freelance, Penikmat kopi hitam. _____ Twitter: @edelweisbasah Instagram: @edelweisbasah Youtube: Edelweis Basah Contact: edelweisbasah_ [Line]
This entry was posted in Jejak Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s