7 Tips Penting Pendakian yang Sering Terlupakan

Hidup di tengah alam liar, sama sekali bukan piknik! – Jon Krakauer, In to the wild.

Mendaki gunung saat ini sudah menjadi trend gaya hidup. Dalam setiap perjalanan atau pendakian, saat saya menyempatkan istirahat karena lutut dan pinggang alias encok yang tak bisa diajak kompromi, saya selalu menyempatkan bertanya dengan orang-orang baru, teman-teman baru, saudara-saudara baru, motivasi apa yang bikin rela bersusah-susah mendaki. Jawaban mereka sangatlah beragam. Ada yang karena keilmuan, olahraga, ibadah mau pun pengenalan diri.

Bagi saya pribadi, mendaki gunung adalah perjalanan spiritual. Perjalanan menyembuhkan hati!

11202668_10207749821726792_2473450934231903244_n

Seiring dengan fenomena mendaki gunung yang menjadi trend saat ini, banyak sekali pendaki yang tidak memperhatikan prosedur persiapan mendaki gunung dengan baik. Ada pendaki yang menggunakan carrier melebihi berat beban , ada pula pendaki yang nggak bawa senter dan hanya memanfatkan cahaya bulan.

Sangat banyak tulisan mengenai tips pendakian. Kali ini saya akan memberikan tips-tips pendakian versi saya;

1. Membawa alat navigasi, berupa peta lokasi pendakian atau kompas

Seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan orientasi. Jangan pernah mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan memiliki pengetahuan mendalam tentang navigasi.

Saat ini, kebanyakan para pendaki hanya modal nekat saja untuk mendaki gunung. Padahal gunung dengan segala keindahan dan ketakjuban ciptaan-Nya, memiliki berbagai “surprise” bagi para pendaki pemula. Ada pepatah yang pernah saya dengar bahwa jika kita tersesat di gunung dan kita tak paham dengan navigasi, cara gampangnya kita turun saja ke bawah atau ikuti alur air. Padahal itu salah besar! Mengikuti alur air memang akan membawa kita turun karena sifat air sendiri yang mengalir dari permukaan tinggi ke permukaan rendah. Namun jangan silap, di tengah proses itu, air pun akan mengalir ke jurang-jurang dan tebing di gunung yang curam. Jadi kebayang kan jika kita tersesat kemudian menyakini air menjadi patokan jalan, itu bukannya menemukan jalur pulang malah kemungkinan akan menemukan jalan pulang ke akhirat! Jadi jangan coba-coba untuk menerapkan hal ini, karena sangat berbahaya. Ilmu navigasi dansurvival adalah hal wajib yang harus dimiliki oleh seorang pendaki.

2. Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat

Mendaki gunung itu jauh berbeda dengan kita ke mall. Di gunung tidak ada cafe atau apapun sebagai tempat beristirahat ataupun menghangatkan badan. Karena itulah, pastikan kondisi tubuh kita benar-benar dalam keadaan fit. Tak hanya fisik tapi juga mental. Apa pasal? Soalnya, jika fisik kuat namun mental melempem melihat tanjakan ‘anjing edan‘ alias tanjakan yang nyentuh lutut sampe ke dagu, maka secara otomatis fisik yang semula kuat akan tiba-tiba ngedrop dengan sendirinya. Begitu juga kalau mental kuat namun fisik nge-drop, sama saja hasilnya.

Mendaki gunung adalah kegiatan alam terbuka yang jujur. Tak bisa dimanipulasi dengan fisik yang pura-pura kuat atau mental yang pura-pura hebat. Karena sekecil apapun yang terjadi di gunung karena kondisi kita yang tak siap akan berakibat fatal bahkan bisa jadi akan membahayakan jiwa kita!

3. Bawalah peralatan yang sesuai

Mendaki gunung sangat berbeda dengan camping. Tak perlu kita membawa barang-barang seperti pindahan rumah. Apalagi saat ini peralatan mendaki gunung sudah dibuat se-praktis dan se-efisien mungkin. Dan yang perlu diperhatikan lagi adalah pemisahan barang-barang dalam ransel. Pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan. Senter, baterai, tenda, sleeping bag, dan matras.

Meski terkesan sepele namun pemisahan barang itu akan menjadi sangat penting dalam suatu pendakian. Bayangkan saja ketika mendaki gunung tiba-tiba turun hujan, kita pasti akan secepatnya mencari ponco atau jas hujan. Tapi karena kita menyimpannya asal-asalan ternyata ponco itu berada di bagian bawah ransel, otomatis kita akan membuka semua barang-barang di ransel sementara hujan semakin besar. Kalau seperti itu, jelas kita pasti akan basah kuyup sebelum menemukan ponco yang terletak dibagian bawah ransel.

4. Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik

Penghitungan konsumsi saat mendaki gunung juga perlu diperhatikan. Kalau ingin membawa beras, perhatikan juga keefisienan-nya. Soalnya nggak mungkin kita bawa beras sekaligus bawa rice cooker-nya juga. Karena itu, mie instan masih menjadi makanan favorit bagi para pendaki gunung. Atau yang lebih simpel, cokelat dan energy bar.

Kebutuhan logistik harus disesuaikan dengan lamanya perjalanan. Jangan kita mendaki gunung hanya satu hari tapi membawa perbekalan sampai dua karung, begitu juga sebaliknya. Intinya, harus membawa perbekalan yang disesuaikan dengan lamanya perjalanan. Dilebihkan tak apa-apa tapi jangan sampe perbekalan dikurangi.

5. Bawalah peralatan medis dan obat-obatan

Ini juga hal yang tak boleh diabaikan oleh para pendaki. Minimal standar P3K harus dan wajib dibawa! Memang gunung dengan alam ciptaan-Nya menyediakan obat-obatan asli yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman. Tapi alangkah lebih baiknya kita mempersiapkan sedini mungkin dengan membawa obat-obatan. Karena akan makan waktu jika kita diare atau terkena penyakit saat mendaki gunung, kita sibuk mencari tanaman obat-obat dulu. Kalau begitu, keburu si sakit ngap-ngapan menahan rasa sakit.

6. Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi pada siapapun yang lebih berpengalaman

Dengan banyak berdiskusi dan ngobrol dengan para pencinta alam lain, akan semakin menambah wawasan kita soal cara dan teknik mendaki gunung. Kita tak perlu malu untuk belajar dengan menanyakan hal-hal yang belum kita tahu soal kegiatan di alam terbuka. Apalagi saat ini, begitu banyak peluang menambah ilmu pengetahuan soal mendaki tidak dari diskusi saja, tapi dengan searching pada mbah google, semua yang kita tanyakan pasti ada.

7. Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang

Poin ini sebenarnya yang paling susah karena berkaitan dengan ego dan gengsi yang dimiliki para pendaki. Tapi bila kita memahami kalo mendaki gunung itu sebenarnya adalah usaha untuk mengalahkan ego sendiri, maka kita bisa ukur kemampuan diri kita sendiri. Tak perlu malu untuk menyatakan tak sanggup jika memang kita tak sanggup untuk mendaki, tenimbang pada akhirnya kita akan merepotkan kawan seperjalanan atau malah membahayakan jiwa kita, akan lebih baik kita nyatakan tak sanggup dan balik kanan pulang meski puncak gunung sudah ada didepan mata kita.

Rugi? Memang iya! Tapi lebih baik rugi tenimbang akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Kecelakaan yang terjadi digunung kebanyakan karena pendaki mengabaikan hal-hal ini. Lebih baik kita mencoba ulang kembali naik gunung yang gagal didaki tenimbang kita memaksakan diri hanya untuk gengsi atau ego menggapai puncak.

***

Tulisan ini dimuat di phinemo.com

http://phinemo.com/7-tips-penting-pendakian-yang-sering-terlupakan/

Advertisements

About edelweisbasah

Sekuntum edelweisbasah menjadi sejarah kisah gundah bagi langkah-langkah penjelajah resah, atas nama patah, atas segala yang fana. Author Novel Bara Surat Terakhir Seorang Pengelana, Journalist Freelance, Penikmat kopi hitam. _____ Twitter: @edelweisbasah Instagram: @edelweisbasah Youtube: Edelweis Basah Contact: edelweisbasah_ [Line]
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s