Fenomena Lima Ramo di Kawah Saat, Patuha

Bagi masyarakat penggiat alam terbuka, mungkin nama Kawah Putih yang berada di Gunung Patuha sudah tak asing lagi. Tapi jika disodorkan nama Kawah Saat, mungkin banyak alis yang agak menaut. Kawah Saat? Di mana itu lokasinya? Dibanding Kawah Putih, Kawah Saat memang jarang terekspos, padahal seperti Kawah Putih yang berada di Gunung Patuha, Kawah Saat juga berada di lokasi yang sama yakni Gunung Patuha.

Tak jauh berbeda dengan Kawah Putih yang masih dilingkupi berbagai misteri serta keindahan-keindahannya yang belum tergali secara maksimal, begitu juga dengan keberadaan Kawah Saat. Dengan gunung yang memiliki ketinggian 2.484 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Patuha sebenarnya memiliki dua kawah yakni Kawah Putih dan Kawah Saat. Dan Kawah Saat sendiri merupakan kawah yang letaknya tertinggi setelah puncak patuha.

Dok. Tedi Kurnia - Jelajah Gunung Bandung

Dok. Tedi Kurnia – Jelajah Gunung Bandung

Keindahan danau Kawah Putih Gunung Patuha diakui memang sangat mempesona dan menakjubkan. Bahkan, jika sudah mengetahui keajaiban alamnya, pasti akan mengatakan tak ada kawah yang seindah Kawah Putih. Namun sebelum ditemukannya danau Kawah Putih di puncak Gunung Patuha, masyarakat menganggap puncak itu sebagai daerah yang angker, hingga tak seorang pun berani menjamahnya. Bahkan, karena angkernya, burung yang melewati kawah pun akan mati.

Misteri keindahan danau kawah putih baru terungkap tahun 1837, oleh seorang ilmuwan Belanda peranakan Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn. Ketika itu, Junghuhn mengadakan perjalanan ke Gunung Patuha, dia sempat bertanya pada masyarakat setempat tentang suasana alam yang dirasakannya sangat hening dan sunyi. Ternyata dia mendapat jawaban, bahwa di kawasan tersebut merupakan daerah angker sebagai kerajaan jin dan tempat bersemayamnya roh para leluhur.

Namun, Junghuhn tidak mempercayai cerita itu begitu saja, sambil melanjutkan perjalanan menembus hutan belantara hingga akhirnya menemukan sebuah danau kawah yang indah. Dari dalam danau itu keluar semburan lava bau belerang yang menusuk hidung. Ternyata kondisi belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung enggan untuk terbang di atas permukaan kawah.

Tak jauh beda dengan Kawah Putih, Kawah Saat juga memiliki cerita tersendiri. Konon ada mitos warga lokal terkait keberadaan Kawah Saat yang ada di Gunung Patuha. Mitos itu soal adanya fenomena penampakan lima jari. Oleh warga lokal mitos itu disebut lima ramo. Mitosnya jari tersebut adalah untuk mencabut daerah tersebut yang tujuannya untuk memisahkan Sukabumi. Namun karena terlalu keras bebatuan itu menjadi gunung padang.

Tapi penampakan fenomena ini hanya bisa dilihat pada saat malam, atau lebih tepatnya pada saat terang bulan (caang bulan).

Sementara Gunung Patuha sendiri adalah gunung tempat bertapa Bujangga Manik bertapa hingga di akhir hayatnya yang kemudian beliau menghilang atau dalam bahasa Sunda-nya ‘ngahiang’.

Dan di Kawah Saat itulah Komunitas Jelajah Gunung Bandung (JGB), di mana penulis turut serta di dalamnya, menggelar Gathering untuk yang ketiga. Dengan tema Sadulur ngariung, gunung bandung, saluyu dilindung, para peserta JGB yang mengikuti gathering harus menempuh perjalanan selama 5-6 jam sampai tiba di Kawah Saat.

Alasan Komunitas JGB memilih lokasi gathering di Kawah Saat sederhana saja. Selain ingin sedikit menggali mitos warga lokal soal lima ramo tadi, juga karena lokasi Kawah Saat memiliki tegalan yang representatif serta lahan untuk berkumpul yang dapat menampung para peserta JGB lebih luas.

Lokasi Kawah Saat yang sedikit berada di bawah puncak Gunung Patuha membuat waktu perjalanan menjadi sedikit lebih molor dari jadwal yang ditentukan. Apalagi dengan kondisi peserta yang masing-masing berbeda-beda daya tahan fisiknya, membuat perjalanan ini menjadi sedikit tertantang. Namun rintangan-rintangan itu seketika dibayar lunas dengan keindahan perjalanan yang melewati perkebunan teh yang menghijau, hutan yang tertutup rapat dan asri, saat perjalanan menuju Kawah Saat.

Lelah yang menggayut seakan sirna dalam kekompakan dan keceriaan para anggota JGB saat mendaki lokasi Gunung Patuha yang terjal, begitu mendekati lokasi Kawah Saat. Di mana di jalur itu, para peserta harus menuruni jalur yang cukup terjal dengan bantuan tali sebagai pegangan, jika tak ingin terjatuh.

Setibanya di sana, barulah penulis bisa mengkaji sepenuhnya keberadaan Gunung Patuha beserta Kawah saat dan Kawah Putih-nya. T Bachtiar dalam bukunya bertajuk Bandung Purba memberikan catatan tersendiri tentang keberadaan gunung yang berada di Desa Alam Endah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, yang dikelola oleh KPH Perhutani Jawa Barat ini.

Dalam Buku Bandung Purba itu, Bachtiar menjelaskan bahwa Gunung Patuha konon berasal dari nama Pak Tua – masyarakat lebih sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh (tua), yang memiliki ketinggian 2.434 m dpl, dengan kisaran suhu 8-22 derajat Celsius. Di puncak Gunung Patuha itulah, terdapat Kawah Saat yang berada di bagian barat dan di bawahnya Kawah Putih dengan ketinggian 2.194 m dpl. Kedua kawah itu terbentuk akibat letusan yang terjadi pada abad X dan XII silam.

Ada perbedaan antara Kawah Putih Gunung Patuha, jika dibandingkan dengan sejumlah kawah yang berada di wilayah Jawa Barat. Danau Kawah Putih mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri. Air danau kawahnya selalu berubah-ubah warna. Terkadang berwarna hijau apel dan kebiru-biruan -bila terik matahari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu dan yang paling sering dijumpai adalah berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah. Bahkan, tatkala sore hari, air danau kawah pun, tiba-tiba pasang surut. Selain permukaan kawah yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi warna putih. Karenanya kawah itu dinamakan Kawah Putih.

Keajaiban alam pun akan terjadi, bila malam hari berkunjung ke Kawah Putih. Sekitar pukul 21.00 WIB, saat langit cerah dengan dihiasi bintang-bintang, maka dari danau Kawah Putih akan terlihat pancaran cahaya terang kehijau-hijauan menghiasi kawah. Kemudian, dari bias cahaya berwarna hijau itu akan membentuk sebuah lingkaran yang mampu menerangi seluruh lokasi kawah. Sementara aroma belerang pun mulai tercium, namun tak terlalu keras.

Keberadaaan danau Kawah Putih di puncak Gunung Patuha yang menurut penelitian masih tergolong aktif itu di batasi oleh dinding bebatuan terjal di sebelah utara dan di sebelah barat masih terdapat pancaran kawah yang bergolak. Jika ingin lebih dekat kawah bisa melalui pintu masuk di sebelah timur. Tak jauh dari lokasi kawah terdapat sebuah gua buatan sedalam 5 meter. Untuk menuju lokasi Danau Kawah Putih, dari pintu masuk hingga ke kawah jaraknya sekira 5 km atau memerlukan waktu sekira 20 menit, melalui jalan beraspal yang berkelok-kelok dengan pemandangan hutan tanaman Eucalyptus dan hutan alam dengan aneka ragam species hutan hujan tropis.

Daya tarik objek wisata Kawah Putih-Ciwidey, selain bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan, dapat pula ditempuh dengan berjalan kaki atau lintas jalan kaki sejauh 7 km dari objek wisata alam Punceuling, melalui jalan setapak hutan alam. Meski perjalanannya agak melelahkan, namun di sepanjang perjalanan akan terhibur dengan suasana hutan alam dan udara segar dan bersih. Bagi petualang, jalur ini menjadi alternatif yang cukup menantang hingga mencapai objek wisata kawah.

Dari pusat Kota Bandung, perjalanan dapat ditempuh menuju ke arah selatan sejauh kurang lebih 46 km, melewati Kota Ciwidey, yang merupakan daerah tujuan wisata di kawasan Bandung Selatan. Selain objek wisata Kawah Putih, wisatawan juga bisa mengunjungi beberapa objek wisata lainnya, seperti Ranca Upas dengan penangkaran rusa dan objek wisata Cimanggu dengan kolam renang air panas beryodium.

Keindahan danau Kawah Putih Gunung Patuha, memang sangat mempesona dan menakjubkan. Bahkan, jika sudah mengetahui keajaiban alamnya, pasti akan mengatakan tak ada kawah yang seindah Kawah Putih. ***

Tulisan ini dimuat di travelnatic.com Edisi 9.

Advertisements

About edelweisbasah

Sekuntum edelweisbasah menjadi sejarah kisah gundah bagi langkah-langkah penjelajah resah, atas nama patah, atas segala yang fana. Author Novel Bara Surat Terakhir Seorang Pengelana, Journalist Freelance, Penikmat kopi hitam. _____ Twitter: @edelweisbasah Instagram: @edelweisbasah Youtube: Edelweis Basah Contact: edelweisbasah_ [Line]
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Fenomena Lima Ramo di Kawah Saat, Patuha

  1. osvald16 says:

    Kemarin, kami “gagal” mencapai puncak Patuha lewat jalur air panas Pleuncing karena trek yang dikabarkan menuju ke Pemancar tidak terlihat dan putus, akhirnya perjalanan dihentikan karena pertimbangan membawa anak2 kecil. Dimanakah sebenarnya letak Pemancar dari arah Kawah Saat atau puncak Patuha? Thanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s