Membangkitkan Kejayaan Tanah Pasundan

Dibalik Diskusi Buku Gunung Bandung: Sejarah, Lanskap, Budaya.

JGB Mencoba Mengangkat Kembali Kejayaan Nusantara di Tanah Pasundan

Dalam buku Architects of Deception: Secret History of Freemasonry, Juri Lina, penulis buku tersebut mengatakan bahwa ada tiga cara yang dilakukan kaum kolonialis dan imperialis untuk melemahkan serta menjajah suatu negeri. Pertama, mengaburkan sejarahnya. Kedua,  menghancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu hingga tidak bisa lagi diteliti atau dibuktikan kebenarannya dan yang terakhir memutuskan hubungan mereka dengan leluhurnya dengan memberikan stigma jika leluhur itu bodoh dan primitif.

Sepertinya, untuk menangkis hal itulah Komunitas Jelajah Gunung Bandung (JGB) berkiprah. Mungkin pada awal pendiriannya, tujuan Komunitas JGB yang lahir empat tahun lalu itu hanyalah sebentuk komitmen sekelompok orang yang memiliki hobi dan minat yang sama untuk memelihara kebersihan gunung dengan tidak meninggalkan sampah, peduli terhadap kondisi sosial-budaya masyarakat yang dilewati, serta misi ilmu-pengetahuan dalam setiap perjalanan.

Dok. Tedi Kurnia - Jelajah Gunung Bandung

Dok. Tedi Kurnia – Jelajah Gunung Bandung

Namun dalam perkembangannya kemudian, JGB ternyata telah berhasil mencatat hasil identifikasi visual terhadap 58 gunung di Bandung. Dalam pendataan yang digagas komunitas ini, ternyata Gunung di Kota Bandung jumlahnya melebihi dari data yang sementara ini ada. Karena itu, JGB kemudian berinisiatif melaporkan serta mengumpulkan data-data dari hasil penjelajahan mereka, dengan berencana menerbitkan buku “Gunung Bandung: Lansekap, Sejarah, dan Budaya.”

“Istilah gunung yang dimaksudkan adalah gunung-gunung sesuai sebutan masyarakat setempat. Masih banyak gunung-gunung lain di wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat yang belum tercatat,” kata aktivis JGB, Pepep DW.

Dok. Tedi Kurnia - Jelajah Gunung Bandung

Dok. Tedi Kurnia – Jelajah Gunung Bandung

Sebagai satu komunitas yang hanya berdasarkan minat dan hobi yang sama, menurut penulis, JGB memiliki nilai lebih dibanding organisasi pencinta alam yang makin berkembang subur saat ini. Apa pasal? Organisasi pencinta alam saat ini – diakui atau tidak – masih banyak yang belum mencintai arti kata “pencinta alam” dalam arti kata sebenar-benarnya. Masih banyak sampai saat ini para pencinta alam yang masih mengedepankan egonya hanya untuk dapat menjejakkan kaki di puncak sambil berselfie ria, seraya pongah menunjukkan kehebatannya usai melampaui tanjakan di gunung serta berbagai kondisi alam lainnya.

Dan inilah yang berbeda dengan JGB. Sebagai suatu komunitas, JGB bisa lebih fleksibel tenimbang organisasi yang terpatok oleh rule yang jelas yakni AD/ART. Bagi suatu komunitas, minat dan hobi yang sama akan kecintaan pada sejarah dan budaya yang melingkupi suatu wilayah/gunung/pedesaan akan membuka peluang lebih besar dalam menggali sejarah dan budaya suatu tempat yang dikunjungi.

Itu juga yang terungkap dalam diskusi yang digelar JGB dengan tema Gunung Bandung: Sejarah, Landscape, Budaya  sebagai sebuah diskusi yang menarik yang digelar di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monpera) pada 5 Juli lalu. Gunung di mata para penggiat JGB tidak harus selalu didefinisikan an sich sebagai bagian dari ilmu geologi semata, tapi dalam beberapa konteks ia memiliki peranan sebagai sebuah saksi satu penggalan peristiwa, sejarah, bahkan peradaban manusia itu sendiri.

“Gunung merupakan saksi sekaligus perekam sebuah kejadian, dan dalam konteks tertentu gunung telah menjadi artefak dari kebudayaan, dan sejarah manusia,” kata Unu Mihardja selaku ketua JGB.

Ini artinya bahwa di luar konteks geologi, gunung adalah sebuah monumen terpenting dalam membaca serta menyiratkan sejarah atau budaya yang sudah punah untuk kemudian digali kembali. Dengan kata lain, dalam konteks sejarah, sebuah gunung akan mampu mengetengahkan sebuah deskripsi tentang peristiwa-peristiwa besar di sekitar gunung dan kaki gunung termasuk dinamika perkembangan masyarakat di wilayah tersebut.

Pembahasan konteks budaya merupakan pembahasan yang mengetengahkan konteks manusia dalam kaitannya secara langsung dengan gunung. Salah satu contohnya misal; penamaan “afdeling kendeng” di Neglawangi kaki Gunung Kendang, keberadaan perkebunan, dan eksistensi Hindia Belanda pra-kemerdekaan menjadi catatan menarik dalam pembahasan Gunung Kendang. Atau eksistensi mitos aul di perkampungan Cibitung dan hubungannya dengan gunung-gunung sekitar seperti: Gunung Wayang, Windu, Bedil, dan Gambungsedaningsih.

Padahal di luar konteks itu, bisa jadi, seperti yang dicatat oleh Juri Lina dalam bukunya itu, kaum kolonialis dan imperialis yang menjajah bangsa ini dulunya telah mencuri berbagai lontar serta manuskrip kuno dari nusantara ini. Dari manuskrip kuno itu para kolonialis tahu jika di setiap gunung selalu berdiri satu kerajaan atau dikelilingi kerajaan yang hebat-hebat. Baik kerajaan yang besar ataupun yang kecil. Dan untuk menghapus keberadaan kerajaan-kerajaan tersebut maka digantilah nama gunung-gunung itu.

Akibatnya, generasi kita saat ini hanya mendengar tutur kata dari generasi sebelumnya bahwa gunung itu bernama gunung A, gunung ini bernama gunung B. Selama ini, kita tak pernah tahu jika dahulunya Gunung Galunggung itu aslinya bernama Gunung Kendyana, Gunung Perahu aslinya bernama Gunung Baito, Gunung Salak aslinya bernama Gunung Sapto Argo, Gunung Ciremai aslinya bernama Gunung Indrakila, Gunung Gede aslinya bernama Gunung Katong, Gunung Cikuray aslinya bernama Gunung Prawitha dan masih banyak lagi gunung-gunung yang selama ini kita kenal ternyata itu bukan nama sebenarnya!

Dari sisi inilah, JGB bisa mengangkat kembali sisi lain lain sejarah dan budaya yang masih banyak tersembunyi atau disembunyikan, khususnya sejarah dan budaya Tanah Pasundan sendiri. Apalagi dengan telah diresmikannya Plakat Gunung Bandung di Monpera, sudah saatnya kejayaan Tanah Pasundan kembali diangkat ke permukaan. Sehingga dengan begitu, generasi mendatang tidak akan mengalami nasib yang sama seperti generasi saat ini, yang tak mengenal sejarah dan budayanya sendiri. Maju terus, JGB! ***

Tulisan ini dimuat di travelnatic.com edisi ke #10

Advertisements

About edelweisbasah

Sekuntum edelweisbasah menjadi sejarah kisah gundah bagi langkah-langkah penjelajah resah, atas nama patah, atas segala yang fana. Author Novel Bara Surat Terakhir Seorang Pengelana, Journalist Freelance, Penikmat kopi hitam. _____ Twitter: @edelweisbasah Instagram: @edelweisbasah Youtube: Edelweis Basah Contact: edelweisbasah_ [Line]
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s