7 Puncak Gunung Bandung

12107249_1564662750463413_2748746613696084695_n

Orang boleh menafsirkan Bandung dengan banyak romantisme dan keindahan.    Tetapi, tanpa gunung-gunung Bandung bukanlah apa-apa.
– Pepep DW, Budayawan.

Bumi parahyangan ini sejatinya memantulkan sejarah akan kebudayaan masa silam. Jika kita berdiri di titik tertinggi di Kota Bandung, maka akan terlihat kota yang mendapat julukan Paris van Java ini akan seperti terlihat di kepung oleh gunung-gunung. Ibarat sebuah cawan, kota Bandung berada di bawah dasarnya dan gunung-gunung itu adalah pinggiran cawan yang menjulang.

Sekarang, kita balik ke masa silam, di tahun 20-15 juta tahun yang lalu, tatkala dataran tinggi Bandung masih terletak di dasar lautan. Pada waktu itu, pulau Jawa sebelah Utara masih merupakan samudera. Hanya bagian Selatannya saja yang berujud tanah dataran dengan pesisirnya tak jauh di sebelah Selatan Pengalengan sekarang. Beberapa pulau volkanik terdapat di depan pantai itu.

Sisa lapisan – lapisan yang diendapkan 20 juta tahun yang Ialu, kini masih bisa disaksikan di daerah Purwakarta dan Subang. Batuan – batuan Napal dan Gamping (karang) yang ditemukan mengandung fosil binatang laut Foraminifera, seperti Cyoloclypeus dan Lepidecyclina (Kusumadinata, 1959).

Secara bertahap pantai laut Jawa yang semula terletak di Selatan Pengalengan (Kabupaten Bandung), lama – lama bergeser makin ke Utara, tak jauh dari Kota Bandung. Ini terjadi pada periode revolusioner, di akhir jaman Miosen (25-14 juta tahun yang Ialu). Pergeseran pantai Laut Jawa ke arah utara Bandung diakibatkan oleh pembentukan gunung (orogenese) dan proses pelipatan lapisan bumi. Sedimen yang terlipat, kemudian muncul di atas laut.

Masa berikutnya kembali mengalami periode istirahat, di mana kegiatan vulkanik dan sedimentasi cekungan dalam laut di Utara Bandung mengakibatkan munculnya bukit bukit Selacau yang bentuknya mirip piramida. Pada akhir Pliosen (dua juta tahun yang lalu) terjadi lagi periode revolusioner berupa tekanan dari sedimen, hingga terjadi proses pembentukan gunung, disusul menghilangnya Selacau.

Pada permulaan periode Plestosen (1 juta tahun yang lalu), beberapa kegiatan volkanik di daerah Utara Bandung sempat membentuk kumpulan gunung api, ukuran dasarnya sebesar 20 km dengan ketinggian, antara 2.000-3.000 Mtr. Gunung ini dikenal sebagai Gunung Sunda, sebuah gunung raksasa dengan sebuah kaldera di puncaknya. Sedangkan Gunung Burangrang hanya merupakan parasit dari gunung itu (Prof.Dr.Th.H.F.Klompe, “The Geology of Bandung-, 1956).

Masih pada periode Plestosen itu juga, Gn.Sunda runtuh diikuti oleh terjadinya Patahan Lembang. Sebuah rekaman geologi dari periode itu, masih dapat dilihat dalam bentuk endapan binatang Vertebrata di penyayatan sungai Citarum sebelah barat Batujajar, seperti yang diteraukan oleh Stehn dan Umbgrove (1929).

Kemudian di zaman Holosen, 11 ribu tahun yang lalu, lahirlah Gunung Tangkubanparahu sebagai anak dari kaldera Gunung Sunda, dan gunungapi itu menutupi bagian timur sisa gunungapi lama. Paling tidak gunung itu telah mengalami 3 kali erupsi besar yang mengeluarkan lava dan abu yang menimpa daerah sebelah utara Bandung.

Erupsi besar kedua dari Gunung Tangkubanparahu, yang menurut Cerita Rakyat (Legenda) adalah “perahu” yang tertelungkup ditendang Sangkuriang yang kesiangan, terjadi 6.000 tahun yang lalu. Adapun muntahan dari erupsi besar kedua itu, tersebar di sebelah barat Ciumbuleuit (Bandung) dan sebagian lagi sempat menyumbat sungai Citarum yang mengalir di lembah Cimeta (utara Padalarang), sehingga terbentuklah “Danau Bandung”. Sebuah danau yang sering juga disebut oleh manusia jaman baheula sebagai “Situ Hiang”.

Baru sekitar 4000 – 3.000 tahun yang lewat, Danau Bandung mulai surut airnya dan muncullah Dataran Tinggi Bandung. Danau itu mulai kering menyusut, tatkala sungai Citarum yang tersumbat muntahan Gunung Tangkubanparahu atau Gunung Burangrang, bisa bebas mengalir kembali, dengan menembus bukit-bukit Rajamandala (sebelah barat Batujajar), melewati terowongan-alam Sanghiangtikoro.

Dataran tinggi Bandung yang terkenal akan kesuburannya, sekarang terletak ± 725 Mtr di atas permukaan laut, dikepung gunung api dan di sebelah barat terdapat bukit bukit batu gamping. Endapan batu gamping yang membentuk bukit-bukit kapur Padalarang adalah bukti, bahwa daerah tersebut pernah terbenam di dasar laut.

Luas dataran tinggi yang di masa silam pernah jadi Situ Hiang (Danau Bandung), membentang dari Cicalengka di timur sampai Padalarang di arah barat, sejauh kurang lebih 50 km. Dari bukit Dago di utara sampai ke batas Soreang – Ciwidey di selatan berjarak 30 km. Kalau dihitung luas Danau Bandung keseluruhan, hampir tiga kali lipat DKI Jakarta. Suatu wilayah yang insya’allah bakal jadi daerah “Bandung Raya” di kemudian hari.

Sekedar ilustrasi tentang kedalaman Danau Bandung jaman baheula, yang airnya menggenangi sebagian besar Kota Bandung sekarang; tepian sebelah utara terletak di Jalan Siliwangi, utara Kampus ITB sekarang. Tinggi air di Stasiun Kereta Api diperkirakan 25 meter, sedangkan Alun-alun Bandung terbenam 30 meter. Menurut Geologiwan S.Darsoprajitno, kedalaman air 30 meter dapat mengapungkan kapal laut sebesar lebih dari 50.000 ton.

Tapi Bandung zaman purba jelas jauh berbeda dengan zaman sekarang. Saat ini, Kota Bandung adalah satu-satunya ibukota Propinsi di Indonesia yang berada di dataran tinggi yakni lebih 730 mdpl. Keindahan dan keelokannya yang mempesona membuat banyak julukan bagi kota ini, seperti: Kota Kembang (Kota Bunga), Parijs van Java (Kota Parisnya di Pulau Jawa), Europa in de Tropen (Eropanya Daerah Tropis), dan lain-lain.

Tak hanya itu, hawa di wilayah Bandung yang cukup sejuk dan segar adalah berkat keberadaan gunung-gunung yang berdiri tegak membentengi di sekelilingnya. Jika kita berdiri di Lapangan Gasibu atau Gedung Sate, memandang ke sebelah utara maka akan tampaklah Gunung Tangkuban Parahu, di mana diameter gunung ini persis di muka kita. Tampak elok, asri dan anggun. Di samping kirinya berdiri Gn. Burangrang di daerah Cisarua dan Gn. Putri berupa bukit di depannya.

Jauh ke sebelah kanan, menjulang puncak Gn. Bukittunggul, yang dari arah kota Bandung terhalang oleh deretan Gn Palasari dan Gn. Manglayang seolah tak lelah memandangi aktivitas penduduk kesehariannya. Di sebelah barat dibatasi Gn. Masigit dan Bukit Lagadar menjadi ikon daerah Cimahi dan Padalarang. Sementara gunung di sebelah selatan terbilang cukup rapat, yakni Gn. Patuha, Gn. Tikukur, Gn. Puntang, Gn. Malabar, Gn. Papandayan, Gn. Wayang-Windu, Gn. Tilu, dan sebagainya.

Benteng kokoh di sebelah timur yakni Gn. Mandalawangi dan Gn. Geulis menjadi batas daerah Bandung dengan kabupaten tetangganya. Dari semua gunung di atas, Gn. Tangkubanparahu, Gn. Patuha, Gn. Wayang Windu, Gn. Papandayan, dan Gn. Kamojang merupakan gunung berapi aktif yang sesekali menunjukkan aktivitasnya. Gunung ini merupakan bagian Sabuk Alpide yang berawal dari gunung-gunung perairan Maluku, Nusatenggara, Jawa kemudian menyambung ke deretan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera, Pegunungan Himalaya, Mediteriania berakhir di pegunungan di Laut Atlantik.

Dan seperti pepatah mengatakan bahwa, “Semakin banyak tahu maka semakin banyak yang tak tahu”, maka seperti itulah jawaban akan keberadaan sejarah serta budaya masa silam dari gunung-gunung yang melingkari Kota Bandung. Artinya, meski Bandung saat ini telah begitu “bersolek” dan berkembang pesat namun dalam banyak hal ternyata ia tak bisa dipisahkan dari gunung yang mengelilinginya. Tanpa disadari keberadaaan gunung-gunung di Bandung sangatlah vital dalam konteks kehidupan di Bandung.

Atas dasar itulah dan sejalan dengan jargon Komunitas Jelajah Gunung Bandung (JGB) itu sendiri, yakni sejarah lanskap dan budaya, meliputi keterkaitan hubungan gunung dengan manusia. Maka dalam hajatan JGB di tahun yang kelima ini, sebuah mimpi dan harapan untuk lebih menguak keberadaan gunung-gunung di Bandung dicetuskan oleh JGB dengan merencanakan pendakian seven summit gunung Bandung.

12094764_1887348418157527_8378176086956245885_o

Runtime 7sGB

Runtime 7sGB

Dari data yang ada dapat diketahui bahwa gunung-gunung dengan elevasi ketinggian hampir mengalahkan seluruh barisan gunung yang berada di wilayah Bandung raya terletak di daerah Bandung Selatan yang berbatasan dengan sebagian wilayah Kabupaten Garut. Namun untuk dapat mewakili seluruh barisan Gunung Bandung maka pemilihan 7 Puncak Gunung Bandung didasarkan pada pembagian wilayah dimana gunung-gunung yang akan dipilih berada, untuk menentukan wilayahnya sendiri komunitas JGB dengan haluan Sejarah Lanskap dan Budaya kemudian berpijak pada catatan sejarah tentang pembagian wilayah yang menjadi awal terbentuknya daerah Bandung (Priangan) hingga seperti saat ini.

Tercatat dalam naskah yang terhimpun dalam Katalog Naskah Sunda bahwa sebelum Kabupaten Bandung berdiri, daerah Bandung dikenal dengan sebutan Tatar Ukur. Dan menurut Naskah Sadjarah Bandung, Tatar Ukur adalah termasuk daerah Kerajaan Timbanganten dengan Ibukota Tegalluar. Kerajaan itu berada dibawah dominasi Kerajaan Sunda Pajajaran. Sejak pertengahan abad ke-15, Kerajaan Timbanganten diperintah secara turun temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur.

Pada masa pemernahan Dipati Agung, pengganti Prabu Pandaan Ukur, daerahnya mencakup 8 wilayah dengan menggunakan nama Ukur sebagai nama depannya :

Ukur Maraja;
Ukur Pasirpanjang;
Ukur Karawang;
Ukur Biru (dua daerah);
Ukur Curugagung Kuripan;
Ukur Manabaya;
Ukur Sagaraherang.

Dipati Agung digantikan menantunya Raden wangsanata, dikenal sebagai Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan Dipati Ukur inilah 8 wilayah tersebut mengalami pemernahan kembali, dengan nama istilah yang dikenal sebagai Tatar Ukur. Tatar Ukur sendiri merupakan suatu daerah yang cukup luas, mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, Wilayah kekuasaan Tatar Ukur meliputi 9 daerah yang disebut Ukur Sasanga, yaitu:

Ukur Bandung (Wilayah Banjaran dan Cipeujeuh);
Ukur Pasirpanjang (Wilayah Majalaya dan Tanjungsari);
Ukur Biru (Wilayah Ujungberung Wetan);
Ukur Kuripan (Wilayah Ujungberung Kulon, Cimahi, dan Rajamandala);
Ukur Curugagung (Wilayah Cihea);
Ukur Aranon (Wilayah Wanayasa);
Ukur Sagaraherang (Wilayah Pamanukan dan Ciasem);
Ukur Nagara Agung (Wilayah Gandasoli, Adiarsa, Sumedangan);
Ukur Batulayang (Wilayah Kopo, Rongga, dan Cisondari).

Untuk mereposisikan wilayah Tatar Ukur pada saat ini diakui memang sangat sulit, catatan sejarah sangat terbatas untuk menunjukan batas-batas wilayah tersebut, namun setidaknya referensi pustaka yang didapat masih bisa menunjukan beberapa daerah yang bisa dijadikan sebagai patok pedoman wilayah untuk menentukan pemilihan 7 Puncak Gunung Bandung yang akan mewakili jajaran gunung-gunung megah yang ada di daerah Bandung dalam koridor Tatar Ukur.

Komunitas JGB pertama-tama melakukan reposisi wilayah dengan relevansi Wilayah Bandung Raya saat ini, dari wilayah Ukur Sasanga kemudian beberapa Ukur dilebur menjadi satu wilayah dengan pendekatan wilayah administratif, penataan ulang Ukur bertujuan untuk mendapatkan 7 wilayah Ukur yang relevan. Dari 7 wilayah Ukur tersebut selanjutnya akan diambil Gunung tertinggi yang mewakili wilayah Ukur masing-masing dan masuk dalam daftar 7 Puncak Gunung Bandung.

Dari hasil reposisi, Ke-7 wilayah Ukur tersebut adalah sebagai berikut :

Ukur Bandung (Wilayah Banjaran dan Cipeujeuh);
Ukur Pasirpanjang (Wilayah Majalaya dan Tanjungsari);
Ukur Biru (Wilayah Ujungberung Wetan);
Ukur Kuripan (Wilayah Ujungberung Kulon, Cimahi, dan Rajamandala);
Ukur Curug Nagara Agung (Wilayah Cihea, Wilayah Gandasoli, Adiarsa, Sumedangan);
Ukur Aranon Sagaraherang (Wilayah Wanayasa, Subang, Ciasem dan Pamanukan);
Ukur Batulayang (Wilayah Kopo, Rongga, dan Cisondari).

Demikian terbagilah wilayah Ukur hasil reposisi saat ini, selanjutnya setelah JGB melakukan inventaris data keberadaan gunung-gunung diwilayah reposisi Ukur, diambilah 7 Gunung Bandung dari masing-masing wilayah Ukur, yang selanjutnya masuk dalam daftar 7 Puncak Gunung Bandung [Tatar Ukur], gunung-gunung tersebut yaitu:

Ukur Bandung – Gunung Malabar (2341Mdpl)
Ukur Pasirpanjang – Gunung Mandalawangi (1650Mdpl)
Ukur Biru – Gunung Bukittunggul (2206Mdpl)
Ukur Kuripan – Gunung Burangrang (2064Mdpl)
Ukur Curug Nagara Agung – Gunung Parang (915Mdpl)
Ukur Aranon Sagaraherang – Gunung Sunda (1854Mdpl)
Ukur Batulayang – Gunung Masigit (2094Mdpl)

Begitulah. Masa silam telah berganti. Nenek moyang telah pergi. Tradisi, adat, bahasa dan gunung-gunung yang melingkari Kota Bandung adalah sebuah warisan yang tak ternilai. Ia masih perlu dikuak lebih lanjut, diraba denyut perjalanannya lewat Seven Summit Gunung Bandung, agar semua warisan ini tak berhenti hanya dalam satu generasi ke depan saja. Semoga! ***

*Tulisan ini dimuat di buruan.co 14/10/2015.

Advertisements

About edelweisbasah

Sekuntum edelweisbasah menjadi sejarah kisah gundah bagi langkah-langkah penjelajah resah, atas nama patah, atas segala yang fana.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s