Legenda Itu Bernama Roy

Cinta terlarang si petualang. Tak lekang dimakan zaman.

Legenda itu bernama Roy
Segurat nama dengan hanya tiga kata begitu terpatri kuat dalam ingatan saya, saat pertama kali baca Balada Si Roy(BSR) di sebuah majalah remaja. Saat itu, saya masih menjadi siswa berseragam putih biru. Ya, meski masih SMP atau dalam usia cabe-cabean–istilah zaman sekarang–tapi saya sudah membaca serial Balada Si Roy pertama, yakni Joe. Sebenarnya, pertemuan saya dengan BSR berlangsung secara tak sengaja. Kebetulan, kakak pertama saya yang kala itu berlangganan majalah HAI meminta saya untuk membaca serial pertama BSR yakni Joe.

Begitu membaca pertama kali itu, awal-awal kalimatnya saya hanya biasa saja. Karena saya pikir, seperti serial-serial lain di majalah tersebut, pasti biasa-biasa saja. Namun usai membaca sampai akhir, saya langsung jatuh cinta dengan BSR. Membaca BSR meski hanya salah satu judul saja, saya seperti membaca bagian hidup saya. Ada peran saya di situ, yang membuat saya seperti menjadi bagian dari kisah anak manusia bernama Roy. Dan banyak kalimat dan adegan di serial pertama itu yang menggugah emosi kanak-kanak saya menjelang remaja. Tentang arti dari rasa tanggungjawab, rasa kehilangan Roy pada Joe yang merupakan anjing peliharaan warisan dari papanya yang meninggal dalam suatu pendakian, membuat remaja Roy menjadi limbung dalam memaknai kehidupan selanjutnya.

Serial pertama JoCf4_hsCUEAESd5-e yang memikat, membuat saya tak sabar untuk kembali menunggu serial-serial berikutnya di majalah HAI. Bisa dibilang saat itu, tiap minggunya, saya hanya menanti majalah HAI hanya untuk membaca serial si Roy. Seiring berlalunya waktu dan beranjak remaja, serial Roy diterbitkan oleh percetakan Gramedia. Gantilah kini saya berburu buku-buku si Roy sehingga sampai akhirnya terkumpul lengkap serial BSR sampai buku terakhir yakni Epilog.

Membaca keseluruhan cerita BSR, membuat saya seperti berkaca dengan diri pribadi yang ingin menjadi pribadi atau sosok seperti Roy. Dan kelak, ketika usia semakin beranjak, beberapa hal yang terjadi di Roy saya mengalaminya sendiri, termasuk kecintaan saya pada bidang tulis-menulis dan bertualang.

Roy Itu Sebuah Bagian
Pada periode krisis seorang remaja, ia biasanya akan dihadapkan pada suatu keharusan untuk mencari jawaban atas makna hidupnya selama ini. Dan itu juga yang saya alami saat melalui periode tersebut. Pada saat-saat “jatuh” itu, Roy menjadi bagian dari sebuah perjuangan dan cita-cita saya yang belum rampung. Ia adalah penyemangat, dan padanya saya bisa berkaca, bergumam, mengeja makna hidup serta menuangkannya pada tulisan.

Diajarinya pada Roy tentang arti semangat, pantang menyerah dalam mengejar apapun, juga soal persahabatan yang tanpa ada embel-embel di dalamnya. Yang terpenting, lewat BSR, Roy mengajarkan akan arti sebuah cinta yang hakiki, cinta tanpa polesan, juga cinta yang hanya bisa dimanifestasikan dalam bentuk pengabdian ke seorang ibu.

Banyak adegan dan alur cerita di BSR, mengajarkan pada seorang remaja termasuk saya untuk menemukan jati diri. Dan jati diri bagi seorang remaja adalah persoalan kompleks jika tak mau dibilang ruwet bagai benang yang kusut.

Eaku-relgo yang besar, merasa paling benar dan selalu ingin menjadi pusat perhatian, menjadi dominan dalam diri seorang remaja termasuk saya. Namun Roy banyak mengajarkan berbagai hal, soal makna hidup dan tujuan hidup yang harus dicapai. Artinya, passion harus ditemukan tanpa menggantungkan pada siapa-siapa kecuali Allah Swt, dan sifat pantang menyerah.

Itulah cara menjadi laki-laki! Kata Roy dalam satu kalimatnya di salah satu judul BSR. Menjadi laki-laki bukan harus selalu bergelut  dengan kepalan tinju atau mendompleng nama kebesaran orang tua dan bangga pakai fasilitas mereka, tapi menjadi laki-laki adalah berani untuk bertanggung jawab dalam segala hal. Bertanggung jawab akan masa depan, sekolah/studi dan juga cinta!

Roy Itu Adalah Sebuah Momentum
Semua ekspresi anak muda ada semua pada diri Roy. Kalau dulu kita pernah mengenal Catatan Si Boy yang menceritakan kesempurnaan seorang remaja bernama Boy: anak konglomerat, ganteng, gonta-ganti pacar, taat pada orangtua dan rajin shalat, Roy justru kebalikan dari semua itu! Pada diri Roy ada suatu pembelajaran berharga bagi seorang remaja tentang arti memaknai hidup lantas mengisi penuh gelas kehidupan itu dengan hal-hal yang bertanggungjawab! Roy adalah gambaran remaja badung yang bergejolak namun tak pernah lepas benaknya untuk menjadi “seseorang”! Hidupnya harus penuh warna, karena ia tahu bahwa hidup bukan cuma terdiri dari dua warna saja yakni hitam dan putih, tapi juga ada warna-warna lain yang terkadang harus dicecap oleh seorang anak manusia, baik itu suka atau pun duka, dan Roy menjalani semua itu lewat berbagai peran di perjalanan-perjalanannya.

Dan itu juga yang saya lakukan dalam satu bagian remaja yang saya alami. Mendepang punggungan gunung serta menancapkan kedua kaki di puncaknya, meloncat ke truk untuk menuju kota berikutnya, sampai-sampai menyalakan zippo dengan berbagai tehnik, terilhami dari salah satu judul di BSR. Oya, sama seperti Roy, jeans dekil dan baju kotak-kotak adalah baju kebesaran saya!

Roy begitu menginspirasi saya dalam menapaki episode di fase kehidupan saya berikutnya. Karenanya, saya tak pernah berpaling pada sosok berambut jambul yang hobinya makan permen karet, yang pernah menjadi fenomenal seiringan dengan Roy.

Bagi saya pribadi, ada perbedaan yang jelas diantara keduanya. Bukannya membanding-bandingkan, karena setiap remaja tentu memiliki sosok yang berbeda-beda untuk dianutnya. Tapi bagi saya, Roy begitu banyak menggambarkan kegelisahan dan kegalauan yang dialami setiap remaja, yang juga dialami saya pada fase itu. Ia jadi terasa begitu lekat, bahkan seolah-olah menggambarkan tentang kisah saya, kawan-kawan saya, percintaan saya, bagaikan de javu saya membacanya.

Bagi saya, buku Balada Si Roy adalah buku yang religius. Buku ini mengajarkan bahwa kebahagian itu harus diperjuangkan. Bukan dengan cara mengemis minta belas kasihan, rendah diri dan pasrah pada nasib.

Dan sosok Roy adalah lelaki sejati, berani, punya sikap, urakan tapi tidak kampungan, memegang teguh persahabatan, memiliki solidaritas tinggi, cinta keluarga, humanis, membumi, disukai perempuan, dan tentunya jago menulis.

Tak bisa dipungkiri, betapa tokoh Roy pada saat itu menjadi trend setter di dalam hati anak muda yang bergejolak. Betapa nikmatnya menjadi avonturir seperti Roy. Bebas melalang buana. Dan  dengan itu saya biarkan diri ini ditempa oleh alam, oleh kenyataan, dan belajar dari sana. Yang jelas, buku Balada si Roy mengubah hidup saya, kita dan mungkin jalan kamu juga.[] 

*Penulis membuat sebuah lagu untuk memoar, berjudul Balada Si Roy. Syair/lirik ditulis oleh Daniel Mahendra. Lagu tersebut dapat diunduh di soundcloud.com/edelweisbasah.

Tulisan ini dimuat di buruan.co http://www.buruan.co/legenda-itu-bernama-roy/

Advertisements

About edelweisbasah

Sekuntum edelweisbasah menjadi sejarah kisah gundah bagi langkah-langkah penjelajah resah, atas nama patah, atas segala yang fana.
This entry was posted in Artikel, Jejak Perjalanan, Potret Perjalanan, Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s