Bertualang Dalam Islam

Jangan beritahu aku seberapa berpedidikannya kamu, beri tahu aku seberapa banyak kau telah melakukan perjalanan. – Nabi Muhammad SAW

Banyak peribahasa mengatakan, “Dunia ini tidak selebar daun kelor!” Atau ada ungkapan lain yang mengatakan, “Jangan seperti katak dalam tempurung!” Dan banyak lagi peribahasa atau ungkapan-ungkapan lain yang kesimpulan artinya merujuk bahwa dunia ini luas, semesta ini penuh pesona dan keajaiban. Banyak yang harus digali dan dilihat sepanjang Allah Swt memberi napas di dunia ini.

Itu artinya, kita tak bisa berdiam di satu titik sepanjang hayat dikandung badan. Meski tak ada aturan yang mengikat hal tersebut atau bahkan hadis yang memperbolehkan dan tidak jika kita hanya berdiam di satu tempat seumur hidup, tanpa mengenal daerah lain. Namun memang tak semestinya dalam batasan hidup yang diberi jatah sampai usia 63 tahun – mengacu pada usia Nabi Muhammad SAW – kita hanya berdiam di satu tempat.

16230264_165808927153504_432030369462616064_n

Ah, betapa membosankan dan menjenuhkan hidup seorang anak manusia jika sepanjang hayatnya hanya hidup di lingkungan yang sama, sampai menutup mata. Terbayang gak sih kita hanya menemui lingkungan yang itu-itu saja dari waktu ke waktu, orang yang itu-itu saja. Memang kita akan tahu perubahan lingkungan tersebut dari detik ke detik. Si A matinya kapan dan karena apa, si B nikahnya sama siapa dan punya anak berapa, atau si C dan si D yang meninggalnya karena apa, tapi apa bisa kita menjadi diri yang tinggal di satu lokasi, dari mulai lahir sampai mati?

Karena itu, bepergian lah! Mulai lah bepergian keluar lingkunganmu dulu, baru setelah itu lebih luas lagi. Bayangkanlah, bagaimana kita mengetahui ada kejadian apa di lokasi B jika kita seumur hidup hanya nagen di lokasi A saja? Bagaimana bisa kita merasakan masyarakat yang megap-megap karena kabut asap, sementara kita hanya berdiam di Bandung tanpa mengunjungi lokasi yang terkena kabut asap itu sendiri?

Suatu perjalanan, biasanya, bermula dari mimpi atau imajinasi. Tahap berikutnya, ia akan menggumpal menjadi cita-cita. Lihatlah Jules Verne dengan Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari, Chritopher Columbus lewat ekspedisi Samudra Atlantik-nya, Karl May dengan legenda Old Shaterhand-nya, George Orwell dalam 1984  dan Animal Farm, atau Jhon Lennon dengan curahan Imagine-nya.

Edmund Hillary mendaki Everest bermula dari mimpi; Thomas Alva Edison, sang penemu lampu, tak kenal putus asa karena bermimpi untuk menciptakan lampu pijar, atau presiden RI kita, Sukarno, menyatakan proklamasi Indonesia, apakah tidak berawal dari mimpi tentang arti kebebasan?

Mereka semua adalah para pemimpi. Para pemimpi yang bisa mewujudkan impian-impiannya, yang semula hanya sekedar angan-angan saja. Dan memang sebuah perjalanan berawal dari mimpi. Kemudian turun ke otak bawah sadar, mengendap dan menggumpal menjadikan suatu keinginan yang kuat tertanam dalam benak. Usai itu, tangan-tangan semesta akan dengan sendirinya bergerak secara rahasia mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.

Perjalanan, kini tak hanya didominasi oleh kaum laki-laki saja. Tapi semua orang pasti memiliki mimpi besar dalam hidupnya. Dan itu tak mengenal jenis kelamin, namun mimpi tentang perjalanan hanya dibatasi oleh usia. Ya karena tidak mungkin anak balita sudah memiliki keinginan untuk melakukan perjalanan keluar dari area bermainnya. Bisa hilang nanti!

Dalam konteks Islam, ternyata bepergian rupanya sangat dianjurkan. Allah Swt sendiri dengan tegas memerintahkan manusia untuk beperjalanan ke muka bumi, apalagi jika tiap kali kita bepergian diniatkan sebagai ibadah hanya untuk-Nya.

Merunut ke masa-masa awal Islam tumbuh dan mulai tersebar, bepergian adalah salah satu anasir yang menyebabkan Islam tersebar luas. Makam Saad bin Abi Waqqas yang terdapat di Cina adalah salah satu bukti betapa giatnya para sahabat berpergian untuk menyebarkan Islam.

Pada proses selanjutnya, kegiatan bepergian juga menjadi kunci majunya ilmu pengetahuan Islam. Lihatlah bagaimana proses pembuatan kitab “Sahih Bukhari”, Imam Bukhari kerap melakukan perjalanan yang sangat jauh ‘hanya’ untuk memverifikasi satu hadis pendek.

Padahal kitab tersebut memuat ribuan hadis. Tak terbayangkan berapa orang yang ia jumpai dan berapa jauh perjalanan yang ia lakukan. Sampai-sampai Imam Khatib Al Baghdadi, seorang ulama salafusshalih, menyusun kitab yang khusus membahas ‘perjalanan’ hadis-hadis tersebut, yaitu Al Rihlah Fii Thalabil Hadis (Perjalanan Mencari Hadis).

Bahkan, jauh sebelum Saad bin Abi Waqqas pergi ke Cina, dan Imam Bukhari keliling dunia memverifikasi hadis, Rasulullah saw juga telah melakukan berbagai perjalanan jauh untuk berdagang. Kisah-kisah ini adalah bukti bahwa seorang Muslim sudah seharusnya memiliki wawasan global.

Dalam kitab suci Al-Qur’an, surat Al-Mulk ayat 15 menjelaskan soal bepergian ini. Firman-Nya, “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Jelas sekali di ayat ini Allah memerintahkan umat Islam untuk menjelajahi Bumi.

Begitulah, bepergian ternyata diatur oleh Islam dengan begitu indahnya. Selain banyak manfaat yang didapat dari perjalanan, namun yang terpenting dengan bepergian kita makin tahu betapa kecilnya kita dan betapa Mahanya Dia. ***

  • Tulisan ini dimuat di buruan.co | http://www.buruan.co/bertualang/
Advertisements

About edelweisbasah

Sekuntum edelweisbasah menjadi sejarah kisah gundah bagi langkah-langkah penjelajah resah, atas nama patah, atas segala yang fana.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s