Membangkitkan Kejayaan Tanah Pasundan

Dibalik Diskusi Buku Gunung Bandung: Sejarah, Lanskap, Budaya.

JGB Mencoba Mengangkat Kembali Kejayaan Nusantara di Tanah Pasundan

Dalam buku Architects of Deception: Secret History of Freemasonry, Juri Lina, penulis buku tersebut mengatakan bahwa ada tiga cara yang dilakukan kaum kolonialis dan imperialis untuk melemahkan serta menjajah suatu negeri. Pertama, mengaburkan sejarahnya. Kedua,  menghancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu hingga tidak bisa lagi diteliti atau dibuktikan kebenarannya dan yang terakhir memutuskan hubungan mereka dengan leluhurnya dengan memberikan stigma jika leluhur itu bodoh dan primitif.

Sepertinya, untuk menangkis hal itulah Komunitas Jelajah Gunung Bandung (JGB) berkiprah. Mungkin pada awal pendiriannya, tujuan Komunitas JGB yang lahir empat tahun lalu itu hanyalah sebentuk komitmen sekelompok orang yang memiliki hobi dan minat yang sama untuk memelihara kebersihan gunung dengan tidak meninggalkan sampah, peduli terhadap kondisi sosial-budaya masyarakat yang dilewati, serta misi ilmu-pengetahuan dalam setiap perjalanan.

Dok. Tedi Kurnia - Jelajah Gunung Bandung

Dok. Tedi Kurnia – Jelajah Gunung Bandung

Namun dalam perkembangannya kemudian, JGB ternyata telah berhasil mencatat hasil identifikasi visual terhadap 58 gunung di Bandung. Dalam pendataan yang digagas komunitas ini, ternyata Gunung di Kota Bandung jumlahnya melebihi dari data yang sementara ini ada. Karena itu, JGB kemudian berinisiatif melaporkan serta mengumpulkan data-data dari hasil penjelajahan mereka, dengan berencana menerbitkan buku “Gunung Bandung: Lansekap, Sejarah, dan Budaya.”

“Istilah gunung yang dimaksudkan adalah gunung-gunung sesuai sebutan masyarakat setempat. Masih banyak gunung-gunung lain di wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat yang belum tercatat,” kata aktivis JGB, Pepep DW.

Dok. Tedi Kurnia - Jelajah Gunung Bandung

Dok. Tedi Kurnia – Jelajah Gunung Bandung

Sebagai satu komunitas yang hanya berdasarkan minat dan hobi yang sama, menurut penulis, JGB memiliki nilai lebih dibanding organisasi pencinta alam yang makin berkembang subur saat ini. Apa pasal? Organisasi pencinta alam saat ini – diakui atau tidak – masih banyak yang belum mencintai arti kata “pencinta alam” dalam arti kata sebenar-benarnya. Masih banyak sampai saat ini para pencinta alam yang masih mengedepankan egonya hanya untuk dapat menjejakkan kaki di puncak sambil berselfie ria, seraya pongah menunjukkan kehebatannya usai melampaui tanjakan di gunung serta berbagai kondisi alam lainnya.

Dan inilah yang berbeda dengan JGB. Sebagai suatu komunitas, JGB bisa lebih fleksibel tenimbang organisasi yang terpatok oleh rule yang jelas yakni AD/ART. Bagi suatu komunitas, minat dan hobi yang sama akan kecintaan pada sejarah dan budaya yang melingkupi suatu wilayah/gunung/pedesaan akan membuka peluang lebih besar dalam menggali sejarah dan budaya suatu tempat yang dikunjungi.

Itu juga yang terungkap dalam diskusi yang digelar JGB dengan tema Gunung Bandung: Sejarah, Landscape, Budaya  sebagai sebuah diskusi yang menarik yang digelar di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monpera) pada 5 Juli lalu. Gunung di mata para penggiat JGB tidak harus selalu didefinisikan an sich sebagai bagian dari ilmu geologi semata, tapi dalam beberapa konteks ia memiliki peranan sebagai sebuah saksi satu penggalan peristiwa, sejarah, bahkan peradaban manusia itu sendiri.

“Gunung merupakan saksi sekaligus perekam sebuah kejadian, dan dalam konteks tertentu gunung telah menjadi artefak dari kebudayaan, dan sejarah manusia,” kata Unu Mihardja selaku ketua JGB.

Ini artinya bahwa di luar konteks geologi, gunung adalah sebuah monumen terpenting dalam membaca serta menyiratkan sejarah atau budaya yang sudah punah untuk kemudian digali kembali. Dengan kata lain, dalam konteks sejarah, sebuah gunung akan mampu mengetengahkan sebuah deskripsi tentang peristiwa-peristiwa besar di sekitar gunung dan kaki gunung termasuk dinamika perkembangan masyarakat di wilayah tersebut.

Pembahasan konteks budaya merupakan pembahasan yang mengetengahkan konteks manusia dalam kaitannya secara langsung dengan gunung. Salah satu contohnya misal; penamaan “afdeling kendeng” di Neglawangi kaki Gunung Kendang, keberadaan perkebunan, dan eksistensi Hindia Belanda pra-kemerdekaan menjadi catatan menarik dalam pembahasan Gunung Kendang. Atau eksistensi mitos aul di perkampungan Cibitung dan hubungannya dengan gunung-gunung sekitar seperti: Gunung Wayang, Windu, Bedil, dan Gambungsedaningsih.

Padahal di luar konteks itu, bisa jadi, seperti yang dicatat oleh Juri Lina dalam bukunya itu, kaum kolonialis dan imperialis yang menjajah bangsa ini dulunya telah mencuri berbagai lontar serta manuskrip kuno dari nusantara ini. Dari manuskrip kuno itu para kolonialis tahu jika di setiap gunung selalu berdiri satu kerajaan atau dikelilingi kerajaan yang hebat-hebat. Baik kerajaan yang besar ataupun yang kecil. Dan untuk menghapus keberadaan kerajaan-kerajaan tersebut maka digantilah nama gunung-gunung itu.

Akibatnya, generasi kita saat ini hanya mendengar tutur kata dari generasi sebelumnya bahwa gunung itu bernama gunung A, gunung ini bernama gunung B. Selama ini, kita tak pernah tahu jika dahulunya Gunung Galunggung itu aslinya bernama Gunung Kendyana, Gunung Perahu aslinya bernama Gunung Baito, Gunung Salak aslinya bernama Gunung Sapto Argo, Gunung Ciremai aslinya bernama Gunung Indrakila, Gunung Gede aslinya bernama Gunung Katong, Gunung Cikuray aslinya bernama Gunung Prawitha dan masih banyak lagi gunung-gunung yang selama ini kita kenal ternyata itu bukan nama sebenarnya!

Dari sisi inilah, JGB bisa mengangkat kembali sisi lain lain sejarah dan budaya yang masih banyak tersembunyi atau disembunyikan, khususnya sejarah dan budaya Tanah Pasundan sendiri. Apalagi dengan telah diresmikannya Plakat Gunung Bandung di Monpera, sudah saatnya kejayaan Tanah Pasundan kembali diangkat ke permukaan. Sehingga dengan begitu, generasi mendatang tidak akan mengalami nasib yang sama seperti generasi saat ini, yang tak mengenal sejarah dan budayanya sendiri. Maju terus, JGB! ***

Tulisan ini dimuat di travelnatic.com edisi ke #10

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Fenomena Lima Ramo di Kawah Saat, Patuha

Bagi masyarakat penggiat alam terbuka, mungkin nama Kawah Putih yang berada di Gunung Patuha sudah tak asing lagi. Tapi jika disodorkan nama Kawah Saat, mungkin banyak alis yang agak menaut. Kawah Saat? Di mana itu lokasinya? Dibanding Kawah Putih, Kawah Saat memang jarang terekspos, padahal seperti Kawah Putih yang berada di Gunung Patuha, Kawah Saat juga berada di lokasi yang sama yakni Gunung Patuha.

Tak jauh berbeda dengan Kawah Putih yang masih dilingkupi berbagai misteri serta keindahan-keindahannya yang belum tergali secara maksimal, begitu juga dengan keberadaan Kawah Saat. Dengan gunung yang memiliki ketinggian 2.484 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Patuha sebenarnya memiliki dua kawah yakni Kawah Putih dan Kawah Saat. Dan Kawah Saat sendiri merupakan kawah yang letaknya tertinggi setelah puncak patuha.

Dok. Tedi Kurnia - Jelajah Gunung Bandung

Dok. Tedi Kurnia – Jelajah Gunung Bandung

Keindahan danau Kawah Putih Gunung Patuha diakui memang sangat mempesona dan menakjubkan. Bahkan, jika sudah mengetahui keajaiban alamnya, pasti akan mengatakan tak ada kawah yang seindah Kawah Putih. Namun sebelum ditemukannya danau Kawah Putih di puncak Gunung Patuha, masyarakat menganggap puncak itu sebagai daerah yang angker, hingga tak seorang pun berani menjamahnya. Bahkan, karena angkernya, burung yang melewati kawah pun akan mati.

Misteri keindahan danau kawah putih baru terungkap tahun 1837, oleh seorang ilmuwan Belanda peranakan Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn. Ketika itu, Junghuhn mengadakan perjalanan ke Gunung Patuha, dia sempat bertanya pada masyarakat setempat tentang suasana alam yang dirasakannya sangat hening dan sunyi. Ternyata dia mendapat jawaban, bahwa di kawasan tersebut merupakan daerah angker sebagai kerajaan jin dan tempat bersemayamnya roh para leluhur.

Namun, Junghuhn tidak mempercayai cerita itu begitu saja, sambil melanjutkan perjalanan menembus hutan belantara hingga akhirnya menemukan sebuah danau kawah yang indah. Dari dalam danau itu keluar semburan lava bau belerang yang menusuk hidung. Ternyata kondisi belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung enggan untuk terbang di atas permukaan kawah.

Tak jauh beda dengan Kawah Putih, Kawah Saat juga memiliki cerita tersendiri. Konon ada mitos warga lokal terkait keberadaan Kawah Saat yang ada di Gunung Patuha. Mitos itu soal adanya fenomena penampakan lima jari. Oleh warga lokal mitos itu disebut lima ramo. Mitosnya jari tersebut adalah untuk mencabut daerah tersebut yang tujuannya untuk memisahkan Sukabumi. Namun karena terlalu keras bebatuan itu menjadi gunung padang.

Tapi penampakan fenomena ini hanya bisa dilihat pada saat malam, atau lebih tepatnya pada saat terang bulan (caang bulan).

Sementara Gunung Patuha sendiri adalah gunung tempat bertapa Bujangga Manik bertapa hingga di akhir hayatnya yang kemudian beliau menghilang atau dalam bahasa Sunda-nya ‘ngahiang’.

Dan di Kawah Saat itulah Komunitas Jelajah Gunung Bandung (JGB), di mana penulis turut serta di dalamnya, menggelar Gathering untuk yang ketiga. Dengan tema Sadulur ngariung, gunung bandung, saluyu dilindung, para peserta JGB yang mengikuti gathering harus menempuh perjalanan selama 5-6 jam sampai tiba di Kawah Saat.

Alasan Komunitas JGB memilih lokasi gathering di Kawah Saat sederhana saja. Selain ingin sedikit menggali mitos warga lokal soal lima ramo tadi, juga karena lokasi Kawah Saat memiliki tegalan yang representatif serta lahan untuk berkumpul yang dapat menampung para peserta JGB lebih luas.

Lokasi Kawah Saat yang sedikit berada di bawah puncak Gunung Patuha membuat waktu perjalanan menjadi sedikit lebih molor dari jadwal yang ditentukan. Apalagi dengan kondisi peserta yang masing-masing berbeda-beda daya tahan fisiknya, membuat perjalanan ini menjadi sedikit tertantang. Namun rintangan-rintangan itu seketika dibayar lunas dengan keindahan perjalanan yang melewati perkebunan teh yang menghijau, hutan yang tertutup rapat dan asri, saat perjalanan menuju Kawah Saat.

Lelah yang menggayut seakan sirna dalam kekompakan dan keceriaan para anggota JGB saat mendaki lokasi Gunung Patuha yang terjal, begitu mendekati lokasi Kawah Saat. Di mana di jalur itu, para peserta harus menuruni jalur yang cukup terjal dengan bantuan tali sebagai pegangan, jika tak ingin terjatuh.

Setibanya di sana, barulah penulis bisa mengkaji sepenuhnya keberadaan Gunung Patuha beserta Kawah saat dan Kawah Putih-nya. T Bachtiar dalam bukunya bertajuk Bandung Purba memberikan catatan tersendiri tentang keberadaan gunung yang berada di Desa Alam Endah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, yang dikelola oleh KPH Perhutani Jawa Barat ini.

Dalam Buku Bandung Purba itu, Bachtiar menjelaskan bahwa Gunung Patuha konon berasal dari nama Pak Tua – masyarakat lebih sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh (tua), yang memiliki ketinggian 2.434 m dpl, dengan kisaran suhu 8-22 derajat Celsius. Di puncak Gunung Patuha itulah, terdapat Kawah Saat yang berada di bagian barat dan di bawahnya Kawah Putih dengan ketinggian 2.194 m dpl. Kedua kawah itu terbentuk akibat letusan yang terjadi pada abad X dan XII silam.

Ada perbedaan antara Kawah Putih Gunung Patuha, jika dibandingkan dengan sejumlah kawah yang berada di wilayah Jawa Barat. Danau Kawah Putih mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri. Air danau kawahnya selalu berubah-ubah warna. Terkadang berwarna hijau apel dan kebiru-biruan -bila terik matahari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu dan yang paling sering dijumpai adalah berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah. Bahkan, tatkala sore hari, air danau kawah pun, tiba-tiba pasang surut. Selain permukaan kawah yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi warna putih. Karenanya kawah itu dinamakan Kawah Putih.

Keajaiban alam pun akan terjadi, bila malam hari berkunjung ke Kawah Putih. Sekitar pukul 21.00 WIB, saat langit cerah dengan dihiasi bintang-bintang, maka dari danau Kawah Putih akan terlihat pancaran cahaya terang kehijau-hijauan menghiasi kawah. Kemudian, dari bias cahaya berwarna hijau itu akan membentuk sebuah lingkaran yang mampu menerangi seluruh lokasi kawah. Sementara aroma belerang pun mulai tercium, namun tak terlalu keras.

Keberadaaan danau Kawah Putih di puncak Gunung Patuha yang menurut penelitian masih tergolong aktif itu di batasi oleh dinding bebatuan terjal di sebelah utara dan di sebelah barat masih terdapat pancaran kawah yang bergolak. Jika ingin lebih dekat kawah bisa melalui pintu masuk di sebelah timur. Tak jauh dari lokasi kawah terdapat sebuah gua buatan sedalam 5 meter. Untuk menuju lokasi Danau Kawah Putih, dari pintu masuk hingga ke kawah jaraknya sekira 5 km atau memerlukan waktu sekira 20 menit, melalui jalan beraspal yang berkelok-kelok dengan pemandangan hutan tanaman Eucalyptus dan hutan alam dengan aneka ragam species hutan hujan tropis.

Daya tarik objek wisata Kawah Putih-Ciwidey, selain bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan, dapat pula ditempuh dengan berjalan kaki atau lintas jalan kaki sejauh 7 km dari objek wisata alam Punceuling, melalui jalan setapak hutan alam. Meski perjalanannya agak melelahkan, namun di sepanjang perjalanan akan terhibur dengan suasana hutan alam dan udara segar dan bersih. Bagi petualang, jalur ini menjadi alternatif yang cukup menantang hingga mencapai objek wisata kawah.

Dari pusat Kota Bandung, perjalanan dapat ditempuh menuju ke arah selatan sejauh kurang lebih 46 km, melewati Kota Ciwidey, yang merupakan daerah tujuan wisata di kawasan Bandung Selatan. Selain objek wisata Kawah Putih, wisatawan juga bisa mengunjungi beberapa objek wisata lainnya, seperti Ranca Upas dengan penangkaran rusa dan objek wisata Cimanggu dengan kolam renang air panas beryodium.

Keindahan danau Kawah Putih Gunung Patuha, memang sangat mempesona dan menakjubkan. Bahkan, jika sudah mengetahui keajaiban alamnya, pasti akan mengatakan tak ada kawah yang seindah Kawah Putih. ***

Tulisan ini dimuat di travelnatic.com Edisi 9.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

7 Tips Penting Pendakian yang Sering Terlupakan

Hidup di tengah alam liar, sama sekali bukan piknik! – Jon Krakauer, In to the wild.

Mendaki gunung saat ini sudah menjadi trend gaya hidup. Dalam setiap perjalanan atau pendakian, saat saya menyempatkan istirahat karena lutut dan pinggang alias encok yang tak bisa diajak kompromi, saya selalu menyempatkan bertanya dengan orang-orang baru, teman-teman baru, saudara-saudara baru, motivasi apa yang bikin rela bersusah-susah mendaki. Jawaban mereka sangatlah beragam. Ada yang karena keilmuan, olahraga, ibadah mau pun pengenalan diri.

Bagi saya pribadi, mendaki gunung adalah perjalanan spiritual. Perjalanan menyembuhkan hati!

11202668_10207749821726792_2473450934231903244_n

Seiring dengan fenomena mendaki gunung yang menjadi trend saat ini, banyak sekali pendaki yang tidak memperhatikan prosedur persiapan mendaki gunung dengan baik. Ada pendaki yang menggunakan carrier melebihi berat beban , ada pula pendaki yang nggak bawa senter dan hanya memanfatkan cahaya bulan.

Sangat banyak tulisan mengenai tips pendakian. Kali ini saya akan memberikan tips-tips pendakian versi saya;

1. Membawa alat navigasi, berupa peta lokasi pendakian atau kompas

Seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan orientasi. Jangan pernah mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan memiliki pengetahuan mendalam tentang navigasi.

Saat ini, kebanyakan para pendaki hanya modal nekat saja untuk mendaki gunung. Padahal gunung dengan segala keindahan dan ketakjuban ciptaan-Nya, memiliki berbagai “surprise” bagi para pendaki pemula. Ada pepatah yang pernah saya dengar bahwa jika kita tersesat di gunung dan kita tak paham dengan navigasi, cara gampangnya kita turun saja ke bawah atau ikuti alur air. Padahal itu salah besar! Mengikuti alur air memang akan membawa kita turun karena sifat air sendiri yang mengalir dari permukaan tinggi ke permukaan rendah. Namun jangan silap, di tengah proses itu, air pun akan mengalir ke jurang-jurang dan tebing di gunung yang curam. Jadi kebayang kan jika kita tersesat kemudian menyakini air menjadi patokan jalan, itu bukannya menemukan jalur pulang malah kemungkinan akan menemukan jalan pulang ke akhirat! Jadi jangan coba-coba untuk menerapkan hal ini, karena sangat berbahaya. Ilmu navigasi dansurvival adalah hal wajib yang harus dimiliki oleh seorang pendaki.

2. Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat

Mendaki gunung itu jauh berbeda dengan kita ke mall. Di gunung tidak ada cafe atau apapun sebagai tempat beristirahat ataupun menghangatkan badan. Karena itulah, pastikan kondisi tubuh kita benar-benar dalam keadaan fit. Tak hanya fisik tapi juga mental. Apa pasal? Soalnya, jika fisik kuat namun mental melempem melihat tanjakan ‘anjing edan‘ alias tanjakan yang nyentuh lutut sampe ke dagu, maka secara otomatis fisik yang semula kuat akan tiba-tiba ngedrop dengan sendirinya. Begitu juga kalau mental kuat namun fisik nge-drop, sama saja hasilnya.

Mendaki gunung adalah kegiatan alam terbuka yang jujur. Tak bisa dimanipulasi dengan fisik yang pura-pura kuat atau mental yang pura-pura hebat. Karena sekecil apapun yang terjadi di gunung karena kondisi kita yang tak siap akan berakibat fatal bahkan bisa jadi akan membahayakan jiwa kita!

3. Bawalah peralatan yang sesuai

Mendaki gunung sangat berbeda dengan camping. Tak perlu kita membawa barang-barang seperti pindahan rumah. Apalagi saat ini peralatan mendaki gunung sudah dibuat se-praktis dan se-efisien mungkin. Dan yang perlu diperhatikan lagi adalah pemisahan barang-barang dalam ransel. Pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan. Senter, baterai, tenda, sleeping bag, dan matras.

Meski terkesan sepele namun pemisahan barang itu akan menjadi sangat penting dalam suatu pendakian. Bayangkan saja ketika mendaki gunung tiba-tiba turun hujan, kita pasti akan secepatnya mencari ponco atau jas hujan. Tapi karena kita menyimpannya asal-asalan ternyata ponco itu berada di bagian bawah ransel, otomatis kita akan membuka semua barang-barang di ransel sementara hujan semakin besar. Kalau seperti itu, jelas kita pasti akan basah kuyup sebelum menemukan ponco yang terletak dibagian bawah ransel.

4. Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik

Penghitungan konsumsi saat mendaki gunung juga perlu diperhatikan. Kalau ingin membawa beras, perhatikan juga keefisienan-nya. Soalnya nggak mungkin kita bawa beras sekaligus bawa rice cooker-nya juga. Karena itu, mie instan masih menjadi makanan favorit bagi para pendaki gunung. Atau yang lebih simpel, cokelat dan energy bar.

Kebutuhan logistik harus disesuaikan dengan lamanya perjalanan. Jangan kita mendaki gunung hanya satu hari tapi membawa perbekalan sampai dua karung, begitu juga sebaliknya. Intinya, harus membawa perbekalan yang disesuaikan dengan lamanya perjalanan. Dilebihkan tak apa-apa tapi jangan sampe perbekalan dikurangi.

5. Bawalah peralatan medis dan obat-obatan

Ini juga hal yang tak boleh diabaikan oleh para pendaki. Minimal standar P3K harus dan wajib dibawa! Memang gunung dengan alam ciptaan-Nya menyediakan obat-obatan asli yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman. Tapi alangkah lebih baiknya kita mempersiapkan sedini mungkin dengan membawa obat-obatan. Karena akan makan waktu jika kita diare atau terkena penyakit saat mendaki gunung, kita sibuk mencari tanaman obat-obat dulu. Kalau begitu, keburu si sakit ngap-ngapan menahan rasa sakit.

6. Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi pada siapapun yang lebih berpengalaman

Dengan banyak berdiskusi dan ngobrol dengan para pencinta alam lain, akan semakin menambah wawasan kita soal cara dan teknik mendaki gunung. Kita tak perlu malu untuk belajar dengan menanyakan hal-hal yang belum kita tahu soal kegiatan di alam terbuka. Apalagi saat ini, begitu banyak peluang menambah ilmu pengetahuan soal mendaki tidak dari diskusi saja, tapi dengan searching pada mbah google, semua yang kita tanyakan pasti ada.

7. Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang

Poin ini sebenarnya yang paling susah karena berkaitan dengan ego dan gengsi yang dimiliki para pendaki. Tapi bila kita memahami kalo mendaki gunung itu sebenarnya adalah usaha untuk mengalahkan ego sendiri, maka kita bisa ukur kemampuan diri kita sendiri. Tak perlu malu untuk menyatakan tak sanggup jika memang kita tak sanggup untuk mendaki, tenimbang pada akhirnya kita akan merepotkan kawan seperjalanan atau malah membahayakan jiwa kita, akan lebih baik kita nyatakan tak sanggup dan balik kanan pulang meski puncak gunung sudah ada didepan mata kita.

Rugi? Memang iya! Tapi lebih baik rugi tenimbang akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Kecelakaan yang terjadi digunung kebanyakan karena pendaki mengabaikan hal-hal ini. Lebih baik kita mencoba ulang kembali naik gunung yang gagal didaki tenimbang kita memaksakan diri hanya untuk gengsi atau ego menggapai puncak.

***

Tulisan ini dimuat di phinemo.com

http://phinemo.com/7-tips-penting-pendakian-yang-sering-terlupakan/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hidupku Adalah Petualanganku

Hidupku Adalah Petualanganku

– Irfan Ramdhani, Tabah Sampai Akhir

“Percayalah, badai selalu menyisakan pohon-pohon terkuat!”

Setelah panas yang terik, gerimis biasanya akan turun untuk menyejukkan. Dan di pagi yang dingin, mentari akan hadir untuk menghangatkan para penghuni bumi. Antara rintik dan mentari, Allah SWT kemudian menghadirkan bianglala yang indah. Beranjak malam, bulan dan bintang hadir untuk menenangkan.

Dok. Irfan Ramdhani

Dok. Irfan Ramdhani

Namun dalam perpaduan alam antara siang dan malam, terkadang alam juga memberi petir sekedar untuk mengingatkan. Bahkan terkadang guntur hadir untuk menyadarkan umat manusia akan keberadaannya yang merupakan bagian dari Sang Pencipta. Lalu kemudian angin ribut pun datang, yang kehadirannya datang untuk membersihkan. Itulah konektivitas alam. Agar bumi tak lalai, langit tak hanya memberi ketenangan tapi kadang juga memberi peringatan. Petir, misalnya.

Begitu juga kehidupan seorang anak manusia. Kata Soe Hok Gie, hidup adalah soal keberanian menghadapi tanda tanya! Kita tak pernah tahu, dalam beberapa menit ke depan apakah hidup kita akan menemui terang secerah langit biru, gelap tertutup awan, atau musibah yang tiba-tiba datang bagai petir yang menghentak, atau bisa jadi menghadapi angin ribut yang meluluhlantakkan semuanya.

Tapi apapun persoalannya, masalah hidup justru sebenarnya adalah filter yang membedakan antara manusia yang lemah dan yang kuat, yang cengeng dan yang tegar, yang pantang menyerah dan yang mudah putus asa. Karena apapun bentuknya, masalah memang sengaja dihadirkan oleh Allah SWT guna menyaring siapa yang patut jadi pahlawan dan siapa yang jadi pecundang!

11651231_10207440010101695_495721397_n

Itulah yang terungkap usai membaca buku Tabah Sampai Akhir-nya (TSA) yang dikarang oleh Irfan Ramadhani. Layaknya hidup seorang anak muda, seorang petualang sekaligus penggiat alam bebas, energi masa muda yang meletup-letup membuat seolah-olah hanya untuk bertualang. Tapi saat tiba-tiba petir menghentak dalam kehidupannya, dengan lumpuhnya Irfan akibat terjatuh dari ketinggian 10 meter. Barulah berbagai tanda tanya berkelebat dalam benaknya.

Tanda tanya apakah ia bisa duduk kembali saat sudah divonis lumpuh oleh dokter? Tanda tanya apakah ia bisa kembali naik gunung, usai jatuh dari ketinggian 10 meter dan kemudian divonis lumpuh? Tanda tanya-tanda tanya itu ternyata mampu dijawab oleh Irfan dengan suatu bukti nyata, bahwa optimis, semangat pantang menyerah akan mampu mengalahkan segalanya. Dan Irfan sudah membuktikan hal ini.

Buku Tabah Sampai Akhir, buku yang luar biasa dan patut dibaca oleh remaja dan penggiat alam terbuka. Banyak yang bisa dipetik soal semangat dan pantang menyerah Irfan yang tak larut dalam ratapan tak berujung, saat ia menerima vonis kedua kakinya lumpuh. Juga soal sahabat, yang ternyata mempunyai andil positif yang besar mendukung keberhasilan Irfan, hingga bisa seperti saat ini.

11637846_10207440010221698_301686117_n

Bagi para petualang, hidup diibaratkan seperti naik gunung. Saat lelah mendera, meluruskan kaki adalah jawabannya. Usai itu, kembali langkah menapaki tanjakan dan rintangan sampai akhirnya puncak bisa dijejaki.

Jiwa itulah mungkin yang ada pada diri Irfan Ramdhani. Dalam buku Tabah Sampai Akhir (TSA) yang ditulisnya, Irfan mengajarkan semangat dan pantang menyerah yang tak pernah mati. Meski sakit tak tertahankan begitu mencecapnya usai jatuh saat berlatih panjat tebing, Irfan tak mau menyerah begitu saja jalani hari-hari dengan ratapan penyesalan. Semangat dan jiwa mudanya begitu melonjak untuk bisa kembali bangkit.

1107035-irfan-di-ranu-kumbolo-620X310

Hal yang tak bisa dipungkiri lagi adalah bantuan spirit dari kawan-kawan pencinta alamnya. Mental yang terlatih dalam ganasnya rimba serta corps de spirit anak-anak gunung yang sudah terkenal senasib sepenanggungan, turut membangkitkan kondisi Irfan yang tengah terpuruk.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca bukan hanya bagi kalangan pencinta alam saja, tapi juga para remaja yang makin tergerus arus modernisasi yang semakin tak jelas. Mungkin masih bisa dihitung dengan jari kalangan generasi muda yang terus maju meski kondisi fisik sudah tak memungkinkan lagi, jika memakai akal sehat. Bagaimana mungkin, seorang pendaki yang kedua kakinya tak berfungsi normal masih aktif berkegiatan di alam terbuka, layaknya orang normal?

11653474_10207440011581732_1083008618_n

Tapi itulah hidup. Selalu ada proses seleksi dalam kehidupan. Pendaki yang sampai ke puncak hanyalah pendaki yang tangguh. Pejuang yang sampai ke kesuksesan, hanyalah yang sabar. Dan kita diberi pilihan, menjadi manusia yang mudah rapuh oleh tantangan atau justru makin menghebat seiring hebatnya rintangan, seperti yang dialami Irfan dalam hidupnya. Apapun itu, percayalah, bahwa badai yang terkuat sekalipun pasti akan selalu menyisakan pohon-pohon terkuat.

God be with the brave man!! ***

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sha

Hidup bukan untuk mencari perhentian, namun untuk melakukan perjalanan.

Namanya Sha. Sha namanya. Bukan nama pasaran. Bukan pula nama yang mudah ditemui di daftar buku telepon sekalipun. Sha, begitulah ibunya memberi nama depan. Seperti yang tercantum di akte kelahiran. Tetapi ia terlanjur dikenal sebagai Ine Febriyanti. Sha Ine Febriyanti lengkapnya.

Perempuan kelahiran Semarang, 18 Februari 1976 ini bukanlah pendatang baru yang menyelonong atau melintas begitu saja di panggung teater maupun sinema Indonesia. Ada sederet pementasan teater, sinetron, telesinema, film layar lebar, bahkan kerja penyutradaraan yang telah dilakoninya.

Sha namanya. Ia laksana lotus. Bagaikan teratai di air yang tenang. Jauh dari hiruk-pikuk gemerlapan artis ibukota. Ia minim gosip. Kehidupan pribadinya cenderung sehat serta jauh dari sorotan kamera. “Saya bukan public figure melainkan seniman. Saya main teater, kebetulan bikin film. Saya pekerja seni,” tukasnya suatu hari.

Dok. Ine Febriyanti

Dok. Ine Febriyanti

Semua bermula saat Sha menjadi juara Cover Girl Majalah Mode pada medio 1992. Tak lama dari sana, Sha mulai membintangi Darah Biru, sebuah sinetron di mana ia mesti beradu peran dengan aktor senior Sophan Sophiaan. Siapa nyana, dari sana sutradara muda Aria Kusumadewa menggaetnya untuk ikut bermain dalam telesinema Siluet. Tak sampai di situ, Aria malah kembali mengajak Sha untuk bergabung dalam sinetron Dewi Selebriti.

Bagaikan memiliki “chemistry”, lagi-lagi sutradara Aris Kusumadewa menggandeng Sha sebagai pemeran utama dalam Beth, sebuah film independen di mana Sha mesti beradu akting bersama Bucek Depp.

Tak berhenti sampai di situ. Bertubi-tubi tawaran lakon teater pun menghampirinya untuk tampil di atas panggung. Sha pun terlibat dalam penggarapan Miss Julie, semua lakon drama karya dramawan Swedia, Johan August Strindberg. Dimainkan bersama Teater Lembaga Institut Kesenian Jakarta di Graha Bhakti Budaya, di Taman Ismail Marzuki, pada September 1999.

Dok. Ine Febriyanti

Dok. Ine Febriyanti

Bagaikan kejatuhan bintang, sutradara kenamaan Teater Koma, Nano Riantiarno, menggamit Sha untuk tampil sebagai Miss Kedjora dalam lakon Opera Primadona di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah pada tahun 2000. Tak pernah Sha kira sama sekali, penampilannya sebagai Miss Kedjora menarik perhatian seorang pejabat Japan Fondation. Sha bersama tujuh rekan dari berbagai kelompok teater di Indonesia untuk terlibat dalam sebuah pementasan kolaborasi teater di Jepang, dengan judul The Whale on The South Sea. Tak tanggung-tanggung, pementasanya sendiri berlangsung sebanyak 27 kali. 23 kali di Tokyo dan 4 kali di Okinawa.

Pada 2006, Sha kembali terlibat dalam pementasan teater. Selain Kentut di Gede Institut, Sha pun tampil dalam lakon Nyai Ontosoroh, pertunjukkan adaptasi dari roman Bumi Manusia karya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer.

Sha seperti ogah untuk berhenti berkarya. Bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), organisasi Tranparency International Indonesia, Management Systems International, USAID, serta Cangkir Kopi, melakukan kampanye antikorupsi melalui film ombibus dengan judul Kita vs Korupsi di mana Sha didapuk menjadi salah seorang sutradaranya.

Makin lama Sha makin tak terbendung. Setelah Kita vs Korupsi, karya lain pun menyusul, seperti Tuhan Pada Jam 10 Malam, serta Cinderella. Atas usahanya, ia pun diganjar beasiswa, menjadi salah seorang dari ratusan peserta yang mendaftar di Asia Film Academy Busan pada 2012.

Di awal tahun 2015 ini, tiba-tiba bunga Sha kembali bermekaran. Sha digaet oleh Djenar Maesa Ayu, penulis cerpen dan novel yang belakangan terjun ke dunia film, untuk bermain dalam film layar lebar berjudul Nay.

Nay

Film Nay berkisah tentang pergulatan seorang perempuan bernama Nay. Filmnya cukup unik. Sepanjang film Sha akan tampil sendirian. Menjadi satu-satunya aktris dalam film. Menggunakan gaya monolog interior.

Dalam film ini, hampir keseluruhan adegan memang dilakukan dalam sebuah mobil di malam hari. Djenar sang sutradara memang mengakui bahwa ia terinspirasi dengan salah satu karakter pertunjukkan Monolog Tiga Perempuan bernama Nayla yang memang diperankan oleh Sha.

Sementara orang-orang di balik layar Nay pun terhitung tak main-main. Ada penggarap film-film Habibie & Ainun, Pintu Terlarang, Janji Joni, 5cm, Supernova, Lovely Man, The Raid, Rumah Dara, dan Sang Pencerah.

CEisEKiUsAAUP4W

Konsepnya menggunakan crowd funding #mendukungNAY di mana masyarakat pecinta film Indonesia dapat ikut bergabung dalam bentuk penggalangan dana.

Sha memang tak pernah berhenti. Namun tetap tenang bagaikan lotus. Laksana teratai. Ya, Sha, Hidup bukan untuk mencari perhentian, namun untuk melakukan perjalanan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

7 Ancala, 7 Pengembara.

Kemiringan lereng semakin terjal. Tapak-tapak sepatu gunung makin menjejaki tanah yang tak datar. Ransel-ransel sarat beban terpanggul di punggung mereka. Sementara keringat pun mulai bercucuran membasahi kaus. Namun lebatnya hutan hujan pegunungan rendah dan tinggi membuat pendakian terasa lebih sejuk meneduhi para pendaki yang tengah menenteng kamera.

Lihatlah, di ketinggian 1.000 hingga 2.000 mdpl, tampak bermacam-macam beringin, garu, serta perkebunan penduduk yang ditanami kol bawang, cabai, juga kentang. Ini belum setengah perjalanan. Masih butuh satu hingga dua malam lagi untuk betul-betul sampai ke puncak. Ini masih permulaan. Keringat pun mereka seka sejenak.

Ada banyak pejalan, traveler, backpacker, maupun pendaki gunung, tetapi sedikit sekali yang betul-betul merekam perjalanan mereka ke dalam bentuk dokumentasi. Entah itu tulisan, foto,  maupun film. Memang tak ada yang salah mendaki gunung dengan semangat tamasya, bersenang-senang, melepaskan penat serta bergembira. Tak ada yang melarang hal itu. Tetapi mendaki tujuh gunung lantas merekamnya untuk sebuah film perjalanan?

Dok. Aksa 7

Dok. Aksa 7

Adalah Anggi Frisca, Wihana Erlangga, Jogie Kresna Muda Nadeak, Rivan Hanggarai, Yohanes Christian Pattiasina, serta Teguh Rahmadi yang tergabung dalam Aksa 7 Artspedition. Mereka yang terdiri dari sinematografer, penata artistik film, asisten kamera, pendaki gunung, serta tergabung dalam organisasi pecinta alam tersebut menenteng tujuh kamera, merambati tujuh gunung tertinggi di Indonesia. Merekam jejak pendakian dari sudut pandang masing-masing untuk kemudian disatukan dan diracik menjadi sebuah film dokumenter. Bukankah itu hal yang tak biasa?

Ada yang mendaki Kerinci (3.805 mdpl) di Sumatera, ada yang mendaki Semeru (3.676 mdpl) di Jawa, ada yang mendaki Rinjani (3.726 mdpl) di Lombok, ada yang mendaki Bukit Raya (2.278 mdpl) di Kalimantan, ada yang mendaki Rantemario (3.430 mdpl) di Sulawesi, ada yang mendaki Binaiya (3.027 mdpl) di Maluku, serta ada yang mendaki Cartensz (4.884 mdpl) di Papua. Kesemuanya merupakan puncak-puncak tertinggi yang ada di Indonesia.

Mengusung tema “AKU”. Berangkat dari kata-kata Edmund Hillary, orang pertama yang berhasil nangkring di puncan Everest, “It is not the mountain we conquer, but ourselves”. Maka setiap pendaki yang tergabung dalam Aksa 7 diminta memaknai konsep AKU dalam pengambilan gambar maupun suara.

Dengan alat perekam gambar dan suara, mereka merekam pemandangan, proses pendakian dari kaki hingga puncak, perbincangan antar anggota ekspedisi, wawancara dengan penduduk sekitar, video diary juga voice diary yang kesemuanya diambil tanpa efek visual. Mereka pun dibekali alat pendukung gambar, seperti tripod, monopod, underwater casing, motion control, RC Helicopter (drone), juga tongsis.

Dok. Aksa 7

Gunung itu ibarat mimpi, mimpinya gak kemana-mana. Sama kaya gunung tapi gimana cara kita menggapai mimpi itu. – Anggi Frisca Foto: Dok Aksa 7

Ekspedisi ini sendiri sudah mulai bergerak sejak 28 November 2014. Hingga kini, sudah empat gunung tertinggi di Indonesia mereka sambangi (Kerinci, Semeru, Rinjani, serta Bukitraya). Sisanya (Rantemario, Binaiya, dan Cartensz) akan menyusul kemudian. Nantinya, hasil rekam jejak ketujuh kamera yang ditenteng tujuh pendaki ini bakal diedit dan disatukan menjadi sebuah film dokumenter dengan durasi 90-120 menit serta ditayangkan di bioskop.

Seperti Film: Gunung Bicara Apa Adanya.

http://majalahcobra.com/blog/seperti-film-gunung-bicara-apa-adanya.html

Ada yang menarik dari apa yang dikatakan Anggi Frisca, seorang sinematografer yang juga pencetus ide tentang Aksa 7. Menurutnya, orang akan melihat serta merasakan keindahan dan “kesunyian” sebuah gunung tak hanya dari bentuknya saja, tetapi dari perspektif seorang pembuat film. Bagaimana sebuah subyektivitas filmmaker menjadi alat ucapnya ketika merasa mendaki gunung dan merasakan kesunyian sekaligus keindahan.

Alhasil, aksi ketujuh pemuda Aksa 7 ini diharap mampu membakar semangat siapapun yang menonton agar kali ini mau menantang diri sendiri untuk keluar dari zona individualnya yang nyaman, serta secara sederhana menjadi pernyataan bahwa pencapaian bisa dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja.

Sudah saat kita mendaki gunung, menyusuri alam, melakukan perjalanan tak lagi berangkat dengan semangat piknik, bersenang-senang, melakukan selfie hingga mengumpulkan ratusan foto untuk kemudian sekadar diunggah ke media sosial. Memang, tak ada yang salah dengan semua hal itu. Tetapi menyeberangi semesta alam dengan merekamnya sebagai jejak perjalanan untuk dapat menggugah orang lain agar berani melakukan hal-hal positif di setiap perjalanan yang dilakukan, memang sebuah keberanian tersendiri.

Seperti yang mereka katakan dalam blog Aksa 7: ini bukan perjalanan mudah, bukan tamasya. Ini bukan kehidupan glamor layar lebar yang membawa selebritis, puluhan kru, serta tenda catering naik gunung. Ini hanya tujuh pemuda menantang tujuh gunung nusantara, dengan harapan dapat menaklukan diri sendiri.

Sebuah usaha tak biasa yang patut diacungi dua jempol!

#SupportAksa7

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menguak Keindahan Tersembunyi Danau Ciharus.

Saksi Kelam Sejarah Ladang Pembantaian.

Danau Ciharus dari puncak Rakutak.

Danau Ciharus dari puncak Rakutak.

Menyusuri keindahan Danau Ciharus yang berada di Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, kita bagai terlempar kembali ke salah satu masa paling gelap dalam sejarah tanah air. Salah satunya dengan pemberontakan dari sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Sekarmadji Kartosuwiryo.

Pada masanya, DI/TII selain dianggap sebagai pengancam keamanan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bagi masyarakat sekitar keberadaan gerombolan DI/TII dirasakan juga sebagai biang kekacauan yang meresahkan masyarakat. Terlepas dari urusan ideologi, perbedaan politik atau apapun namanya, nyatanya DI/TII bermaksud menyimpang dari tujuan yang diinginkan oleh para founding father negara ini.
Dan untuk menumpas para pemberontak yang pusatnya berada di Jawa Barat ini, Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi menggelar apa yang dinamakan Operasi Pagar Betis.  Operasi ini menjalankan misi menumpas para pemberontak. Teknik penumpasannya, melakukan pengepungan sekaligus penggiringan para pemberontak agar masuk ke dalam suatu lokasi yang telah ditentukan oleh aparat keamanan. Yakni masuk pada suatu wilayah hutan yang ada di perbatasan antara Bandung dan Garut yaitu Gunung Rakutak. Akibat pengepungan ini, pada akhirnya para pemberontak pun banyak yang menyerah, kemudian ditumpas habis oleh aparat keamanan.

Bahkan pucuk pimpinan DI/TII, SM Kartosuwiryo, berhasil ditangkap hidup-hidup dan beberapa tahun kemudian harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan regu penembak. Namun ternyata tak semua para pengikut DI/TII berhasil ditumpas saat terkepung itu, dikarenakan banyak juga pengikut Kartosuwiryo yang lari lebih jauh ke dalam hutan atau menaiki Gunung Rakutak guna menghindar dari kejaran tentara.
Di sisi lain, ada juga para pemberontak yang dalam kondisi terdesak dan tak tentu arah itu, nekat menceburkan diri ke sebuah danau bernama Danau Ciharus. Bagi yang bisa berenang mungkin tak menjadi persoalan, tapi bagi pemberontak yang tak bisa berenang, maka terjun ke Danau Ciharus sama saja dengan bunuh diri.
Itu hanya sekelumit cerita mengenai Danau Ciharus yang pernah menggema dan menjadi cerita. Bahkan, kini sudah banyak jadi literasi di berbagai perpustakaan.

Terlepas dari sisi kelam masa lalu, Danau Ciharus sebenarnya memiliki berbagai potensi untuk dikembangkan sebagai obyek wisata alam dan obyek wisata sejarah. Pasalnya, Danau Ciharus beserta wilayah yang berada di sekitarnya termasuk Gunung Rakutak adalah saksi hidup “nyata” bagaimana hebatnya Kodam Siliwangi melakukan Operasi Pagar Betis guna menumpas para pemberontak DI/TII. Artinya, sejarah soal penumpasan DI/TII tak hanya diajarkan secara tutur kata saja namun generasi muda bisa melihat langsung bukti nyata lokasi yang masih terpampang secara alami sampai saat ini.
Memang, selama ini Kodam Siliwangi selalu memelopori “napak tilas” saat mengejar para pemberontak DI/TII di wilayah ini dengan melewati jalur-jalur hutan tertentu sehingga sampai ke Gunung rakutak. Tapi mungkin hanya sebatas itu saja tanpa ada kegiatan-kegiatan detail lainnya yang mengarah pada penjelasan sejarah soal lokasi serta obyek saat tentara menumpas habis para pemberontak di wilayah ini. Bahkan mungkin saja, lokasi sebenarnya saat Kartosuwiryo tertangkap yang konon di wilayah Gunung Rakutak itu, kini telah hilang tergerus arus modernisasi.
Begitu juga dengan potensi wisata alam di Danau Ciharus sendiri. Saat penulis bertandang ke Danau Ciharus beberapa waktu lalu, kondisi Danau Ciharus jauh dari keindahan. Pasalnya, sebagai sebuah lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk, semestinya lokasi ini bisa terjaga dengan baik.

Hal ini terbukti dari banyaknya sampah-sampah yang berserakan di sepanjang sisi danau. Belum lagi raungan gas motor yang memakai jalur sekitar danau, sungguh membuat keindahan serta kenyamanan danau begitu terusik. Tak hanya itu, penulis juga melihat kedalaman danau menjadi dangkal dan airnya hampir surut.

Bila melihat situasi ini, kondisi serupa juga pernah terjadi di Jayagiri yang berada di salah satu lembah Gunung Tangkuban perahu. Lokasi yang pernah tenar di era 80-90 an itu dulu sempat menjadi primadona bagi para pencinta alam di masa itu. Boleh dibilang saat itu, tak ada pencinta alam atau penjelajah alam di Bandung khususnya yang tak mengenal Jayagiri. Kalau tak mengenal, berarti belum disebut anak-anak pencinta alam! Karena itu, tiap malam minggu, Jayagiri selalu dipenuhi oleh para pencinta alam yang ingin menghabiskan weekend-nya dengan berdingin-dingin di Jayagiri. Tapi saat arus modernisasi mulai tiba, perlahan namun pasti Jayagiri pun makin jauh dari eksotisme yang pernah dirasakan para penggiat alam terbuka di era 80-90 an.
Dan itulah yang kini dikhawatirkan terjadi juga pada Danau Ciharus ke depannya. Pasalnya, saat menuju lokasi Danau Ciharus saja, jalur ke sana harus berebut dengan penggiat motor trail. Saat sampai di lokasi, banyaknya sampah serta surutnya air Danau Ciharus menjadikan danau yang memiliki nuansa sejarah ini tak seindah yang saya bayangkan saat membaca di literature-literature yang ada.
Dari penuturan pemilik warung yang berada di sekitar lokasi Danau Ciharus, Aceng (45), bahwa Danau Ciharus memang terkenal bagi para penggiat motor. Karena itu, lokasi ini kerap dipakai bagi para penggiat hobby ekstrem ini.

Secara financial ekonomi, Aceng merasa senang karena banyaknya pengunjung yang datang ke lokasi ini berarti masukan yang berarti bagi warungnya. Namun tanpa disadari, Aceng dan juga para penduduk serta penggiat motor trail sepertinya tak menyadari jika Danau Ciharus kini telah menyurut airnya.

Aktivis lingkungan setempat, Nurman Fasya Nugraha mengatakan, kerusakan Danau Ciharus yang berada di hulu Sungai Citarum saat ini kian parah. Apalagi ada sumber mata air di danau tersebut yang sudah mati.
“Ya, memang ada sumber air yang sudah tertutup di sana. Jadi jika main ke Danau Ciharus saat kemarau, maka danau akan terlihat dangkal dan airnya kering,” kata anggota Generasi Muda Majalaya Kabupaten Bandung ini.
Nurman menegaskan bahwa saat ini sebagian dari sumber mata air yang ada di kawasan Danau Ciharus itu mengalir ke Sungai Citarum. Namun ironisnya, saat ini kondisi lingkungannya mengalami kerusakan karena aktivitas masyarakat.
“Ya, sekarang di kawasan Danau Ciharus sudah ada warung-warung permanen. Padahal di kawasan Danau Ciharus merupakan hutan lindung yang tidak boleh ada bangunan. Kondisi ini juga diperparah dengan banyaknya sampah-sampah  berserakan yang ditingalkan para pengunjung,” keluhnya.
Menurut Nurman, untuk menanggulangi kerusakan Danau Ciharus itu, pihaknya pernah mengadakan program peduli danau tersebut  dengan melibatkan swadaya masyarakat.
“Tak hanya itu, kami juga sudah melakukan pembinaan dan penanaman di 18 desa di kawasan daerah aliran Sungai Citarum sebanyak  7,6 juta pohon pada lahan 2.147 hektare dengan melibatkan 1.303 petani binaan,” tandasnya.
Namun, apapun yang dilakukan untuk melestarikan keindahan Danau Ciharus akan sia-sia jika tak ada kesadaran bersama yang nyata dari semua lapisan masyarakat. Terutama lagi buat para penggiat motor trail yang menjadikan kawasan tersebut menjadi salah satu jalur kegiatan mereka.

“Di samping itu, sekiranya para wakil rakyat bisa mendorong para penggiat alam terbuka untuk bersama-sama memperbaiki lingkungan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum,” pungkasnya. ***

Kontributor Bandung Ekspress – dimuat Jumat 08 Mei 2015.

Kontributor Bandung Ekspress                          dimuat Jumat 08 Mei 2015.

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment