Legenda Itu Bernama Roy

Cinta terlarang si petualang. Tak lekang dimakan zaman.

Legenda itu bernama Roy
Segurat nama dengan hanya tiga kata begitu terpatri kuat dalam ingatan saya, saat pertama kali baca Balada Si Roy(BSR) di sebuah majalah remaja. Saat itu, saya masih menjadi siswa berseragam putih biru. Ya, meski masih SMP atau dalam usia cabe-cabean–istilah zaman sekarang–tapi saya sudah membaca serial Balada Si Roy pertama, yakni Joe. Sebenarnya, pertemuan saya dengan BSR berlangsung secara tak sengaja. Kebetulan, kakak pertama saya yang kala itu berlangganan majalah HAI meminta saya untuk membaca serial pertama BSR yakni Joe.

Begitu membaca pertama kali itu, awal-awal kalimatnya saya hanya biasa saja. Karena saya pikir, seperti serial-serial lain di majalah tersebut, pasti biasa-biasa saja. Namun usai membaca sampai akhir, saya langsung jatuh cinta dengan BSR. Membaca BSR meski hanya salah satu judul saja, saya seperti membaca bagian hidup saya. Ada peran saya di situ, yang membuat saya seperti menjadi bagian dari kisah anak manusia bernama Roy. Dan banyak kalimat dan adegan di serial pertama itu yang menggugah emosi kanak-kanak saya menjelang remaja. Tentang arti dari rasa tanggungjawab, rasa kehilangan Roy pada Joe yang merupakan anjing peliharaan warisan dari papanya yang meninggal dalam suatu pendakian, membuat remaja Roy menjadi limbung dalam memaknai kehidupan selanjutnya.

Serial pertama JoCf4_hsCUEAESd5-e yang memikat, membuat saya tak sabar untuk kembali menunggu serial-serial berikutnya di majalah HAI. Bisa dibilang saat itu, tiap minggunya, saya hanya menanti majalah HAI hanya untuk membaca serial si Roy. Seiring berlalunya waktu dan beranjak remaja, serial Roy diterbitkan oleh percetakan Gramedia. Gantilah kini saya berburu buku-buku si Roy sehingga sampai akhirnya terkumpul lengkap serial BSR sampai buku terakhir yakni Epilog.

Membaca keseluruhan cerita BSR, membuat saya seperti berkaca dengan diri pribadi yang ingin menjadi pribadi atau sosok seperti Roy. Dan kelak, ketika usia semakin beranjak, beberapa hal yang terjadi di Roy saya mengalaminya sendiri, termasuk kecintaan saya pada bidang tulis-menulis dan bertualang.

Roy Itu Sebuah Bagian
Pada periode krisis seorang remaja, ia biasanya akan dihadapkan pada suatu keharusan untuk mencari jawaban atas makna hidupnya selama ini. Dan itu juga yang saya alami saat melalui periode tersebut. Pada saat-saat “jatuh” itu, Roy menjadi bagian dari sebuah perjuangan dan cita-cita saya yang belum rampung. Ia adalah penyemangat, dan padanya saya bisa berkaca, bergumam, mengeja makna hidup serta menuangkannya pada tulisan.

Diajarinya pada Roy tentang arti semangat, pantang menyerah dalam mengejar apapun, juga soal persahabatan yang tanpa ada embel-embel di dalamnya. Yang terpenting, lewat BSR, Roy mengajarkan akan arti sebuah cinta yang hakiki, cinta tanpa polesan, juga cinta yang hanya bisa dimanifestasikan dalam bentuk pengabdian ke seorang ibu.

Banyak adegan dan alur cerita di BSR, mengajarkan pada seorang remaja termasuk saya untuk menemukan jati diri. Dan jati diri bagi seorang remaja adalah persoalan kompleks jika tak mau dibilang ruwet bagai benang yang kusut.

Eaku-relgo yang besar, merasa paling benar dan selalu ingin menjadi pusat perhatian, menjadi dominan dalam diri seorang remaja termasuk saya. Namun Roy banyak mengajarkan berbagai hal, soal makna hidup dan tujuan hidup yang harus dicapai. Artinya, passion harus ditemukan tanpa menggantungkan pada siapa-siapa kecuali Allah Swt, dan sifat pantang menyerah.

Itulah cara menjadi laki-laki! Kata Roy dalam satu kalimatnya di salah satu judul BSR. Menjadi laki-laki bukan harus selalu bergelut  dengan kepalan tinju atau mendompleng nama kebesaran orang tua dan bangga pakai fasilitas mereka, tapi menjadi laki-laki adalah berani untuk bertanggung jawab dalam segala hal. Bertanggung jawab akan masa depan, sekolah/studi dan juga cinta!

Roy Itu Adalah Sebuah Momentum
Semua ekspresi anak muda ada semua pada diri Roy. Kalau dulu kita pernah mengenal Catatan Si Boy yang menceritakan kesempurnaan seorang remaja bernama Boy: anak konglomerat, ganteng, gonta-ganti pacar, taat pada orangtua dan rajin shalat, Roy justru kebalikan dari semua itu! Pada diri Roy ada suatu pembelajaran berharga bagi seorang remaja tentang arti memaknai hidup lantas mengisi penuh gelas kehidupan itu dengan hal-hal yang bertanggungjawab! Roy adalah gambaran remaja badung yang bergejolak namun tak pernah lepas benaknya untuk menjadi “seseorang”! Hidupnya harus penuh warna, karena ia tahu bahwa hidup bukan cuma terdiri dari dua warna saja yakni hitam dan putih, tapi juga ada warna-warna lain yang terkadang harus dicecap oleh seorang anak manusia, baik itu suka atau pun duka, dan Roy menjalani semua itu lewat berbagai peran di perjalanan-perjalanannya.

Dan itu juga yang saya lakukan dalam satu bagian remaja yang saya alami. Mendepang punggungan gunung serta menancapkan kedua kaki di puncaknya, meloncat ke truk untuk menuju kota berikutnya, sampai-sampai menyalakan zippo dengan berbagai tehnik, terilhami dari salah satu judul di BSR. Oya, sama seperti Roy, jeans dekil dan baju kotak-kotak adalah baju kebesaran saya!

Roy begitu menginspirasi saya dalam menapaki episode di fase kehidupan saya berikutnya. Karenanya, saya tak pernah berpaling pada sosok berambut jambul yang hobinya makan permen karet, yang pernah menjadi fenomenal seiringan dengan Roy.

Bagi saya pribadi, ada perbedaan yang jelas diantara keduanya. Bukannya membanding-bandingkan, karena setiap remaja tentu memiliki sosok yang berbeda-beda untuk dianutnya. Tapi bagi saya, Roy begitu banyak menggambarkan kegelisahan dan kegalauan yang dialami setiap remaja, yang juga dialami saya pada fase itu. Ia jadi terasa begitu lekat, bahkan seolah-olah menggambarkan tentang kisah saya, kawan-kawan saya, percintaan saya, bagaikan de javu saya membacanya.

Bagi saya, buku Balada Si Roy adalah buku yang religius. Buku ini mengajarkan bahwa kebahagian itu harus diperjuangkan. Bukan dengan cara mengemis minta belas kasihan, rendah diri dan pasrah pada nasib.

Dan sosok Roy adalah lelaki sejati, berani, punya sikap, urakan tapi tidak kampungan, memegang teguh persahabatan, memiliki solidaritas tinggi, cinta keluarga, humanis, membumi, disukai perempuan, dan tentunya jago menulis.

Tak bisa dipungkiri, betapa tokoh Roy pada saat itu menjadi trend setter di dalam hati anak muda yang bergejolak. Betapa nikmatnya menjadi avonturir seperti Roy. Bebas melalang buana. Dan  dengan itu saya biarkan diri ini ditempa oleh alam, oleh kenyataan, dan belajar dari sana. Yang jelas, buku Balada si Roy mengubah hidup saya, kita dan mungkin jalan kamu juga.[] 

*Penulis membuat sebuah lagu untuk memoar, berjudul Balada Si Roy. Syair/lirik ditulis oleh Daniel Mahendra. Lagu tersebut dapat diunduh di soundcloud.com/edelweisbasah.

Tulisan ini dimuat di buruan.co http://www.buruan.co/legenda-itu-bernama-roy/

Advertisements
Posted in Artikel, Jejak Perjalanan, Potret Perjalanan, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

7 Puncak Gunung Bandung

12107249_1564662750463413_2748746613696084695_n

Orang boleh menafsirkan Bandung dengan banyak romantisme dan keindahan.    Tetapi, tanpa gunung-gunung Bandung bukanlah apa-apa.
– Pepep DW, Budayawan.

Bumi parahyangan ini sejatinya memantulkan sejarah akan kebudayaan masa silam. Jika kita berdiri di titik tertinggi di Kota Bandung, maka akan terlihat kota yang mendapat julukan Paris van Java ini akan seperti terlihat di kepung oleh gunung-gunung. Ibarat sebuah cawan, kota Bandung berada di bawah dasarnya dan gunung-gunung itu adalah pinggiran cawan yang menjulang.

Sekarang, kita balik ke masa silam, di tahun 20-15 juta tahun yang lalu, tatkala dataran tinggi Bandung masih terletak di dasar lautan. Pada waktu itu, pulau Jawa sebelah Utara masih merupakan samudera. Hanya bagian Selatannya saja yang berujud tanah dataran dengan pesisirnya tak jauh di sebelah Selatan Pengalengan sekarang. Beberapa pulau volkanik terdapat di depan pantai itu.

Sisa lapisan – lapisan yang diendapkan 20 juta tahun yang Ialu, kini masih bisa disaksikan di daerah Purwakarta dan Subang. Batuan – batuan Napal dan Gamping (karang) yang ditemukan mengandung fosil binatang laut Foraminifera, seperti Cyoloclypeus dan Lepidecyclina (Kusumadinata, 1959).

Secara bertahap pantai laut Jawa yang semula terletak di Selatan Pengalengan (Kabupaten Bandung), lama – lama bergeser makin ke Utara, tak jauh dari Kota Bandung. Ini terjadi pada periode revolusioner, di akhir jaman Miosen (25-14 juta tahun yang Ialu). Pergeseran pantai Laut Jawa ke arah utara Bandung diakibatkan oleh pembentukan gunung (orogenese) dan proses pelipatan lapisan bumi. Sedimen yang terlipat, kemudian muncul di atas laut.

Masa berikutnya kembali mengalami periode istirahat, di mana kegiatan vulkanik dan sedimentasi cekungan dalam laut di Utara Bandung mengakibatkan munculnya bukit bukit Selacau yang bentuknya mirip piramida. Pada akhir Pliosen (dua juta tahun yang lalu) terjadi lagi periode revolusioner berupa tekanan dari sedimen, hingga terjadi proses pembentukan gunung, disusul menghilangnya Selacau.

Pada permulaan periode Plestosen (1 juta tahun yang lalu), beberapa kegiatan volkanik di daerah Utara Bandung sempat membentuk kumpulan gunung api, ukuran dasarnya sebesar 20 km dengan ketinggian, antara 2.000-3.000 Mtr. Gunung ini dikenal sebagai Gunung Sunda, sebuah gunung raksasa dengan sebuah kaldera di puncaknya. Sedangkan Gunung Burangrang hanya merupakan parasit dari gunung itu (Prof.Dr.Th.H.F.Klompe, “The Geology of Bandung-, 1956).

Masih pada periode Plestosen itu juga, Gn.Sunda runtuh diikuti oleh terjadinya Patahan Lembang. Sebuah rekaman geologi dari periode itu, masih dapat dilihat dalam bentuk endapan binatang Vertebrata di penyayatan sungai Citarum sebelah barat Batujajar, seperti yang diteraukan oleh Stehn dan Umbgrove (1929).

Kemudian di zaman Holosen, 11 ribu tahun yang lalu, lahirlah Gunung Tangkubanparahu sebagai anak dari kaldera Gunung Sunda, dan gunungapi itu menutupi bagian timur sisa gunungapi lama. Paling tidak gunung itu telah mengalami 3 kali erupsi besar yang mengeluarkan lava dan abu yang menimpa daerah sebelah utara Bandung.

Erupsi besar kedua dari Gunung Tangkubanparahu, yang menurut Cerita Rakyat (Legenda) adalah “perahu” yang tertelungkup ditendang Sangkuriang yang kesiangan, terjadi 6.000 tahun yang lalu. Adapun muntahan dari erupsi besar kedua itu, tersebar di sebelah barat Ciumbuleuit (Bandung) dan sebagian lagi sempat menyumbat sungai Citarum yang mengalir di lembah Cimeta (utara Padalarang), sehingga terbentuklah “Danau Bandung”. Sebuah danau yang sering juga disebut oleh manusia jaman baheula sebagai “Situ Hiang”.

Baru sekitar 4000 – 3.000 tahun yang lewat, Danau Bandung mulai surut airnya dan muncullah Dataran Tinggi Bandung. Danau itu mulai kering menyusut, tatkala sungai Citarum yang tersumbat muntahan Gunung Tangkubanparahu atau Gunung Burangrang, bisa bebas mengalir kembali, dengan menembus bukit-bukit Rajamandala (sebelah barat Batujajar), melewati terowongan-alam Sanghiangtikoro.

Dataran tinggi Bandung yang terkenal akan kesuburannya, sekarang terletak ± 725 Mtr di atas permukaan laut, dikepung gunung api dan di sebelah barat terdapat bukit bukit batu gamping. Endapan batu gamping yang membentuk bukit-bukit kapur Padalarang adalah bukti, bahwa daerah tersebut pernah terbenam di dasar laut.

Luas dataran tinggi yang di masa silam pernah jadi Situ Hiang (Danau Bandung), membentang dari Cicalengka di timur sampai Padalarang di arah barat, sejauh kurang lebih 50 km. Dari bukit Dago di utara sampai ke batas Soreang – Ciwidey di selatan berjarak 30 km. Kalau dihitung luas Danau Bandung keseluruhan, hampir tiga kali lipat DKI Jakarta. Suatu wilayah yang insya’allah bakal jadi daerah “Bandung Raya” di kemudian hari.

Sekedar ilustrasi tentang kedalaman Danau Bandung jaman baheula, yang airnya menggenangi sebagian besar Kota Bandung sekarang; tepian sebelah utara terletak di Jalan Siliwangi, utara Kampus ITB sekarang. Tinggi air di Stasiun Kereta Api diperkirakan 25 meter, sedangkan Alun-alun Bandung terbenam 30 meter. Menurut Geologiwan S.Darsoprajitno, kedalaman air 30 meter dapat mengapungkan kapal laut sebesar lebih dari 50.000 ton.

Tapi Bandung zaman purba jelas jauh berbeda dengan zaman sekarang. Saat ini, Kota Bandung adalah satu-satunya ibukota Propinsi di Indonesia yang berada di dataran tinggi yakni lebih 730 mdpl. Keindahan dan keelokannya yang mempesona membuat banyak julukan bagi kota ini, seperti: Kota Kembang (Kota Bunga), Parijs van Java (Kota Parisnya di Pulau Jawa), Europa in de Tropen (Eropanya Daerah Tropis), dan lain-lain.

Tak hanya itu, hawa di wilayah Bandung yang cukup sejuk dan segar adalah berkat keberadaan gunung-gunung yang berdiri tegak membentengi di sekelilingnya. Jika kita berdiri di Lapangan Gasibu atau Gedung Sate, memandang ke sebelah utara maka akan tampaklah Gunung Tangkuban Parahu, di mana diameter gunung ini persis di muka kita. Tampak elok, asri dan anggun. Di samping kirinya berdiri Gn. Burangrang di daerah Cisarua dan Gn. Putri berupa bukit di depannya.

Jauh ke sebelah kanan, menjulang puncak Gn. Bukittunggul, yang dari arah kota Bandung terhalang oleh deretan Gn Palasari dan Gn. Manglayang seolah tak lelah memandangi aktivitas penduduk kesehariannya. Di sebelah barat dibatasi Gn. Masigit dan Bukit Lagadar menjadi ikon daerah Cimahi dan Padalarang. Sementara gunung di sebelah selatan terbilang cukup rapat, yakni Gn. Patuha, Gn. Tikukur, Gn. Puntang, Gn. Malabar, Gn. Papandayan, Gn. Wayang-Windu, Gn. Tilu, dan sebagainya.

Benteng kokoh di sebelah timur yakni Gn. Mandalawangi dan Gn. Geulis menjadi batas daerah Bandung dengan kabupaten tetangganya. Dari semua gunung di atas, Gn. Tangkubanparahu, Gn. Patuha, Gn. Wayang Windu, Gn. Papandayan, dan Gn. Kamojang merupakan gunung berapi aktif yang sesekali menunjukkan aktivitasnya. Gunung ini merupakan bagian Sabuk Alpide yang berawal dari gunung-gunung perairan Maluku, Nusatenggara, Jawa kemudian menyambung ke deretan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera, Pegunungan Himalaya, Mediteriania berakhir di pegunungan di Laut Atlantik.

Dan seperti pepatah mengatakan bahwa, “Semakin banyak tahu maka semakin banyak yang tak tahu”, maka seperti itulah jawaban akan keberadaan sejarah serta budaya masa silam dari gunung-gunung yang melingkari Kota Bandung. Artinya, meski Bandung saat ini telah begitu “bersolek” dan berkembang pesat namun dalam banyak hal ternyata ia tak bisa dipisahkan dari gunung yang mengelilinginya. Tanpa disadari keberadaaan gunung-gunung di Bandung sangatlah vital dalam konteks kehidupan di Bandung.

Atas dasar itulah dan sejalan dengan jargon Komunitas Jelajah Gunung Bandung (JGB) itu sendiri, yakni sejarah lanskap dan budaya, meliputi keterkaitan hubungan gunung dengan manusia. Maka dalam hajatan JGB di tahun yang kelima ini, sebuah mimpi dan harapan untuk lebih menguak keberadaan gunung-gunung di Bandung dicetuskan oleh JGB dengan merencanakan pendakian seven summit gunung Bandung.

12094764_1887348418157527_8378176086956245885_o

Runtime 7sGB

Runtime 7sGB

Dari data yang ada dapat diketahui bahwa gunung-gunung dengan elevasi ketinggian hampir mengalahkan seluruh barisan gunung yang berada di wilayah Bandung raya terletak di daerah Bandung Selatan yang berbatasan dengan sebagian wilayah Kabupaten Garut. Namun untuk dapat mewakili seluruh barisan Gunung Bandung maka pemilihan 7 Puncak Gunung Bandung didasarkan pada pembagian wilayah dimana gunung-gunung yang akan dipilih berada, untuk menentukan wilayahnya sendiri komunitas JGB dengan haluan Sejarah Lanskap dan Budaya kemudian berpijak pada catatan sejarah tentang pembagian wilayah yang menjadi awal terbentuknya daerah Bandung (Priangan) hingga seperti saat ini.

Tercatat dalam naskah yang terhimpun dalam Katalog Naskah Sunda bahwa sebelum Kabupaten Bandung berdiri, daerah Bandung dikenal dengan sebutan Tatar Ukur. Dan menurut Naskah Sadjarah Bandung, Tatar Ukur adalah termasuk daerah Kerajaan Timbanganten dengan Ibukota Tegalluar. Kerajaan itu berada dibawah dominasi Kerajaan Sunda Pajajaran. Sejak pertengahan abad ke-15, Kerajaan Timbanganten diperintah secara turun temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur.

Pada masa pemernahan Dipati Agung, pengganti Prabu Pandaan Ukur, daerahnya mencakup 8 wilayah dengan menggunakan nama Ukur sebagai nama depannya :

Ukur Maraja;
Ukur Pasirpanjang;
Ukur Karawang;
Ukur Biru (dua daerah);
Ukur Curugagung Kuripan;
Ukur Manabaya;
Ukur Sagaraherang.

Dipati Agung digantikan menantunya Raden wangsanata, dikenal sebagai Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan Dipati Ukur inilah 8 wilayah tersebut mengalami pemernahan kembali, dengan nama istilah yang dikenal sebagai Tatar Ukur. Tatar Ukur sendiri merupakan suatu daerah yang cukup luas, mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, Wilayah kekuasaan Tatar Ukur meliputi 9 daerah yang disebut Ukur Sasanga, yaitu:

Ukur Bandung (Wilayah Banjaran dan Cipeujeuh);
Ukur Pasirpanjang (Wilayah Majalaya dan Tanjungsari);
Ukur Biru (Wilayah Ujungberung Wetan);
Ukur Kuripan (Wilayah Ujungberung Kulon, Cimahi, dan Rajamandala);
Ukur Curugagung (Wilayah Cihea);
Ukur Aranon (Wilayah Wanayasa);
Ukur Sagaraherang (Wilayah Pamanukan dan Ciasem);
Ukur Nagara Agung (Wilayah Gandasoli, Adiarsa, Sumedangan);
Ukur Batulayang (Wilayah Kopo, Rongga, dan Cisondari).

Untuk mereposisikan wilayah Tatar Ukur pada saat ini diakui memang sangat sulit, catatan sejarah sangat terbatas untuk menunjukan batas-batas wilayah tersebut, namun setidaknya referensi pustaka yang didapat masih bisa menunjukan beberapa daerah yang bisa dijadikan sebagai patok pedoman wilayah untuk menentukan pemilihan 7 Puncak Gunung Bandung yang akan mewakili jajaran gunung-gunung megah yang ada di daerah Bandung dalam koridor Tatar Ukur.

Komunitas JGB pertama-tama melakukan reposisi wilayah dengan relevansi Wilayah Bandung Raya saat ini, dari wilayah Ukur Sasanga kemudian beberapa Ukur dilebur menjadi satu wilayah dengan pendekatan wilayah administratif, penataan ulang Ukur bertujuan untuk mendapatkan 7 wilayah Ukur yang relevan. Dari 7 wilayah Ukur tersebut selanjutnya akan diambil Gunung tertinggi yang mewakili wilayah Ukur masing-masing dan masuk dalam daftar 7 Puncak Gunung Bandung.

Dari hasil reposisi, Ke-7 wilayah Ukur tersebut adalah sebagai berikut :

Ukur Bandung (Wilayah Banjaran dan Cipeujeuh);
Ukur Pasirpanjang (Wilayah Majalaya dan Tanjungsari);
Ukur Biru (Wilayah Ujungberung Wetan);
Ukur Kuripan (Wilayah Ujungberung Kulon, Cimahi, dan Rajamandala);
Ukur Curug Nagara Agung (Wilayah Cihea, Wilayah Gandasoli, Adiarsa, Sumedangan);
Ukur Aranon Sagaraherang (Wilayah Wanayasa, Subang, Ciasem dan Pamanukan);
Ukur Batulayang (Wilayah Kopo, Rongga, dan Cisondari).

Demikian terbagilah wilayah Ukur hasil reposisi saat ini, selanjutnya setelah JGB melakukan inventaris data keberadaan gunung-gunung diwilayah reposisi Ukur, diambilah 7 Gunung Bandung dari masing-masing wilayah Ukur, yang selanjutnya masuk dalam daftar 7 Puncak Gunung Bandung [Tatar Ukur], gunung-gunung tersebut yaitu:

Ukur Bandung – Gunung Malabar (2341Mdpl)
Ukur Pasirpanjang – Gunung Mandalawangi (1650Mdpl)
Ukur Biru – Gunung Bukittunggul (2206Mdpl)
Ukur Kuripan – Gunung Burangrang (2064Mdpl)
Ukur Curug Nagara Agung – Gunung Parang (915Mdpl)
Ukur Aranon Sagaraherang – Gunung Sunda (1854Mdpl)
Ukur Batulayang – Gunung Masigit (2094Mdpl)

Begitulah. Masa silam telah berganti. Nenek moyang telah pergi. Tradisi, adat, bahasa dan gunung-gunung yang melingkari Kota Bandung adalah sebuah warisan yang tak ternilai. Ia masih perlu dikuak lebih lanjut, diraba denyut perjalanannya lewat Seven Summit Gunung Bandung, agar semua warisan ini tak berhenti hanya dalam satu generasi ke depan saja. Semoga! ***

*Tulisan ini dimuat di buruan.co 14/10/2015.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perih Jenderal!

Wisata Kabut Asap? Perih Jendral!

Gambar diunduh dari google

Gambar diunduh dari google

Seorang kawan memposting DP di status BBM-nya, perbandingan soal ikan Salai sebelum diasapi dan sesudah diasapi. Di bawah DP-nya yang terbagi menjadi empat kotak itu, ada juga gambar orang Riau yang masih cakep karena belum terkena asap dengan orang Riau yang sudah terkena asap, yang akhirnya seperti manusia dari Irian Jaya sana.

Memang, sudah hampir sebulan ini, masalah kabut asap yang melanda Sumatera menjadi bahan gunjingan. Ada yang serius membahas di headline koran koran, ada juga yang sekedar mempost gambar-gambar satire  soal asap ini. Tapi seperti tahun kemarin, saya khawatir saat musim hujan tiba dan memadamkan api api di rimba dan ladang ladang itu, semuanya akan lupa kembali kalau tahun depan asap akan datang lagi.

Tapi karena asap sudah menjadi tamu “rutin” di Riau, sepertinya untuk di Sumatera musim kita sudah bertambah. Musim Kemarau, Musim Hujan diantara keduanya ada Musim Asap. Itupun khusus daerah Sumatera Bagian Timur dan Kalimantan Bagian Barat.

Dan tahukah kalian, bahwa untuk anggaran dana penanggulangan asap tahun 2015 yang mencapai Rp.385 Milliar sudah disiapkan, meski sampai sekarang belum turun-turun juga. Lucunya, anggaran itu takkan turun jika status Siaga tidak dinaikkan menjadi Tanggap Darurat Kabut Asap. Jadi bukan hanya para pejabat saja yang bisa naik, masalah kabut asap pun statusnya ada naik dan turunnya.

Meme. Diunduh dari google

Meme. Diunduh dari google

Di Riau khususnya, persoalan masalah kabut asap terus bergulir di media-media local. Bayangkan saja ketika kita bangun dan nampak langit masih redup seperti masih jam 6-7 pagi namun ternyata jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, itu dikarenakan kabut asap yang makin menggila. Dan jangan bayangkan kabut asap itu seperti kabut-kabut yang seperti kita alami dan rasakan di puncak. Di sini, kabut asap tak mengenal dingin karena yang terasa mata kita tiba-tiba perih dan dada terasa sesak karena kebanyakan menghirup kabut asap.

Para pedagang masker dengan berbagai motif laku terjual. Dari yang model gambarnya Mickey Mouse sampai masker yang seperti kutang item karena memang berwarna hitam tanpa gambar, jadi persis penampung payudara meski cuma sebelah.

Tapi tahun ini bencana asap agak lebih pahit. Bukan karna lebih tebal dan kandungan racunnya yang semakin bertambah, tapi lantaran asap datang tak tahu diri dan tak tahu kapan perginya! Asap datang saat harga dollar lagi malas turun sehingga  harga makin mencekik, asap datang saat harga sawit cuma dihargai lembaran seratusan tidak sampai ribuan. Itu artinya, sebelum asap datang saja saja sebenarnya nafas sudah “sesak”. Bayangkanlah bila rasa “sesak” harga sawit, ditambah “sesak” harga dipasar becek, dan “sesak” sungguhan dari asap ini digabungkan!

Perih jendral perih…!!!

Oya pernah kalian bayangkan bagaimana susahnya orang memadamkan api di lahan yang terbakar? Jangan bayangkan seperti memadamkan rumah atau gedung, karena jauh sekali berbeda tantangannya. Apalagi di Riau, lahannya kebanyakan dari gambut. Dan gambut itu kedalamannya bisa sampai 1-2 meter. Dan itu artinya, api merayap bak hantu. Soalnya hanya asap yang terlihat, sedang bara apinya merambat bak api dalam sekam. Karena api berada di bawah permukaan tanah sampai satu dua meter. Jadi selang air bukan di semprot ke udara selayaknya memadamkan Kebakaran. Tapi di semprotkan ke tanah, berharap merembes mematikan bara.

Sekarang semua sudah seperti ikan salai. Dan anak-anak sudah sebulan lebih tak melihat dan merasakan panasnya matahari.

Perih jendral!

Cintai alam sepenuh hati agar bumi bernafas kembali.

Cintai alam sepenuh hati agar bumi bernafas kembali.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Membangkitkan Kejayaan Tanah Pasundan

Dibalik Diskusi Buku Gunung Bandung: Sejarah, Lanskap, Budaya.

JGB Mencoba Mengangkat Kembali Kejayaan Nusantara di Tanah Pasundan

Dalam buku Architects of Deception: Secret History of Freemasonry, Juri Lina, penulis buku tersebut mengatakan bahwa ada tiga cara yang dilakukan kaum kolonialis dan imperialis untuk melemahkan serta menjajah suatu negeri. Pertama, mengaburkan sejarahnya. Kedua,  menghancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu hingga tidak bisa lagi diteliti atau dibuktikan kebenarannya dan yang terakhir memutuskan hubungan mereka dengan leluhurnya dengan memberikan stigma jika leluhur itu bodoh dan primitif.

Sepertinya, untuk menangkis hal itulah Komunitas Jelajah Gunung Bandung (JGB) berkiprah. Mungkin pada awal pendiriannya, tujuan Komunitas JGB yang lahir empat tahun lalu itu hanyalah sebentuk komitmen sekelompok orang yang memiliki hobi dan minat yang sama untuk memelihara kebersihan gunung dengan tidak meninggalkan sampah, peduli terhadap kondisi sosial-budaya masyarakat yang dilewati, serta misi ilmu-pengetahuan dalam setiap perjalanan.

Dok. Tedi Kurnia - Jelajah Gunung Bandung

Dok. Tedi Kurnia – Jelajah Gunung Bandung

Namun dalam perkembangannya kemudian, JGB ternyata telah berhasil mencatat hasil identifikasi visual terhadap 58 gunung di Bandung. Dalam pendataan yang digagas komunitas ini, ternyata Gunung di Kota Bandung jumlahnya melebihi dari data yang sementara ini ada. Karena itu, JGB kemudian berinisiatif melaporkan serta mengumpulkan data-data dari hasil penjelajahan mereka, dengan berencana menerbitkan buku “Gunung Bandung: Lansekap, Sejarah, dan Budaya.”

“Istilah gunung yang dimaksudkan adalah gunung-gunung sesuai sebutan masyarakat setempat. Masih banyak gunung-gunung lain di wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat yang belum tercatat,” kata aktivis JGB, Pepep DW.

Dok. Tedi Kurnia - Jelajah Gunung Bandung

Dok. Tedi Kurnia – Jelajah Gunung Bandung

Sebagai satu komunitas yang hanya berdasarkan minat dan hobi yang sama, menurut penulis, JGB memiliki nilai lebih dibanding organisasi pencinta alam yang makin berkembang subur saat ini. Apa pasal? Organisasi pencinta alam saat ini – diakui atau tidak – masih banyak yang belum mencintai arti kata “pencinta alam” dalam arti kata sebenar-benarnya. Masih banyak sampai saat ini para pencinta alam yang masih mengedepankan egonya hanya untuk dapat menjejakkan kaki di puncak sambil berselfie ria, seraya pongah menunjukkan kehebatannya usai melampaui tanjakan di gunung serta berbagai kondisi alam lainnya.

Dan inilah yang berbeda dengan JGB. Sebagai suatu komunitas, JGB bisa lebih fleksibel tenimbang organisasi yang terpatok oleh rule yang jelas yakni AD/ART. Bagi suatu komunitas, minat dan hobi yang sama akan kecintaan pada sejarah dan budaya yang melingkupi suatu wilayah/gunung/pedesaan akan membuka peluang lebih besar dalam menggali sejarah dan budaya suatu tempat yang dikunjungi.

Itu juga yang terungkap dalam diskusi yang digelar JGB dengan tema Gunung Bandung: Sejarah, Landscape, Budaya  sebagai sebuah diskusi yang menarik yang digelar di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monpera) pada 5 Juli lalu. Gunung di mata para penggiat JGB tidak harus selalu didefinisikan an sich sebagai bagian dari ilmu geologi semata, tapi dalam beberapa konteks ia memiliki peranan sebagai sebuah saksi satu penggalan peristiwa, sejarah, bahkan peradaban manusia itu sendiri.

“Gunung merupakan saksi sekaligus perekam sebuah kejadian, dan dalam konteks tertentu gunung telah menjadi artefak dari kebudayaan, dan sejarah manusia,” kata Unu Mihardja selaku ketua JGB.

Ini artinya bahwa di luar konteks geologi, gunung adalah sebuah monumen terpenting dalam membaca serta menyiratkan sejarah atau budaya yang sudah punah untuk kemudian digali kembali. Dengan kata lain, dalam konteks sejarah, sebuah gunung akan mampu mengetengahkan sebuah deskripsi tentang peristiwa-peristiwa besar di sekitar gunung dan kaki gunung termasuk dinamika perkembangan masyarakat di wilayah tersebut.

Pembahasan konteks budaya merupakan pembahasan yang mengetengahkan konteks manusia dalam kaitannya secara langsung dengan gunung. Salah satu contohnya misal; penamaan “afdeling kendeng” di Neglawangi kaki Gunung Kendang, keberadaan perkebunan, dan eksistensi Hindia Belanda pra-kemerdekaan menjadi catatan menarik dalam pembahasan Gunung Kendang. Atau eksistensi mitos aul di perkampungan Cibitung dan hubungannya dengan gunung-gunung sekitar seperti: Gunung Wayang, Windu, Bedil, dan Gambungsedaningsih.

Padahal di luar konteks itu, bisa jadi, seperti yang dicatat oleh Juri Lina dalam bukunya itu, kaum kolonialis dan imperialis yang menjajah bangsa ini dulunya telah mencuri berbagai lontar serta manuskrip kuno dari nusantara ini. Dari manuskrip kuno itu para kolonialis tahu jika di setiap gunung selalu berdiri satu kerajaan atau dikelilingi kerajaan yang hebat-hebat. Baik kerajaan yang besar ataupun yang kecil. Dan untuk menghapus keberadaan kerajaan-kerajaan tersebut maka digantilah nama gunung-gunung itu.

Akibatnya, generasi kita saat ini hanya mendengar tutur kata dari generasi sebelumnya bahwa gunung itu bernama gunung A, gunung ini bernama gunung B. Selama ini, kita tak pernah tahu jika dahulunya Gunung Galunggung itu aslinya bernama Gunung Kendyana, Gunung Perahu aslinya bernama Gunung Baito, Gunung Salak aslinya bernama Gunung Sapto Argo, Gunung Ciremai aslinya bernama Gunung Indrakila, Gunung Gede aslinya bernama Gunung Katong, Gunung Cikuray aslinya bernama Gunung Prawitha dan masih banyak lagi gunung-gunung yang selama ini kita kenal ternyata itu bukan nama sebenarnya!

Dari sisi inilah, JGB bisa mengangkat kembali sisi lain lain sejarah dan budaya yang masih banyak tersembunyi atau disembunyikan, khususnya sejarah dan budaya Tanah Pasundan sendiri. Apalagi dengan telah diresmikannya Plakat Gunung Bandung di Monpera, sudah saatnya kejayaan Tanah Pasundan kembali diangkat ke permukaan. Sehingga dengan begitu, generasi mendatang tidak akan mengalami nasib yang sama seperti generasi saat ini, yang tak mengenal sejarah dan budayanya sendiri. Maju terus, JGB! ***

Tulisan ini dimuat di travelnatic.com edisi ke #10

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Fenomena Lima Ramo di Kawah Saat, Patuha

Bagi masyarakat penggiat alam terbuka, mungkin nama Kawah Putih yang berada di Gunung Patuha sudah tak asing lagi. Tapi jika disodorkan nama Kawah Saat, mungkin banyak alis yang agak menaut. Kawah Saat? Di mana itu lokasinya? Dibanding Kawah Putih, Kawah Saat memang jarang terekspos, padahal seperti Kawah Putih yang berada di Gunung Patuha, Kawah Saat juga berada di lokasi yang sama yakni Gunung Patuha.

Tak jauh berbeda dengan Kawah Putih yang masih dilingkupi berbagai misteri serta keindahan-keindahannya yang belum tergali secara maksimal, begitu juga dengan keberadaan Kawah Saat. Dengan gunung yang memiliki ketinggian 2.484 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Patuha sebenarnya memiliki dua kawah yakni Kawah Putih dan Kawah Saat. Dan Kawah Saat sendiri merupakan kawah yang letaknya tertinggi setelah puncak patuha.

Dok. Tedi Kurnia - Jelajah Gunung Bandung

Dok. Tedi Kurnia – Jelajah Gunung Bandung

Keindahan danau Kawah Putih Gunung Patuha diakui memang sangat mempesona dan menakjubkan. Bahkan, jika sudah mengetahui keajaiban alamnya, pasti akan mengatakan tak ada kawah yang seindah Kawah Putih. Namun sebelum ditemukannya danau Kawah Putih di puncak Gunung Patuha, masyarakat menganggap puncak itu sebagai daerah yang angker, hingga tak seorang pun berani menjamahnya. Bahkan, karena angkernya, burung yang melewati kawah pun akan mati.

Misteri keindahan danau kawah putih baru terungkap tahun 1837, oleh seorang ilmuwan Belanda peranakan Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn. Ketika itu, Junghuhn mengadakan perjalanan ke Gunung Patuha, dia sempat bertanya pada masyarakat setempat tentang suasana alam yang dirasakannya sangat hening dan sunyi. Ternyata dia mendapat jawaban, bahwa di kawasan tersebut merupakan daerah angker sebagai kerajaan jin dan tempat bersemayamnya roh para leluhur.

Namun, Junghuhn tidak mempercayai cerita itu begitu saja, sambil melanjutkan perjalanan menembus hutan belantara hingga akhirnya menemukan sebuah danau kawah yang indah. Dari dalam danau itu keluar semburan lava bau belerang yang menusuk hidung. Ternyata kondisi belerang yang sangat tinggi itulah yang menyebabkan burung enggan untuk terbang di atas permukaan kawah.

Tak jauh beda dengan Kawah Putih, Kawah Saat juga memiliki cerita tersendiri. Konon ada mitos warga lokal terkait keberadaan Kawah Saat yang ada di Gunung Patuha. Mitos itu soal adanya fenomena penampakan lima jari. Oleh warga lokal mitos itu disebut lima ramo. Mitosnya jari tersebut adalah untuk mencabut daerah tersebut yang tujuannya untuk memisahkan Sukabumi. Namun karena terlalu keras bebatuan itu menjadi gunung padang.

Tapi penampakan fenomena ini hanya bisa dilihat pada saat malam, atau lebih tepatnya pada saat terang bulan (caang bulan).

Sementara Gunung Patuha sendiri adalah gunung tempat bertapa Bujangga Manik bertapa hingga di akhir hayatnya yang kemudian beliau menghilang atau dalam bahasa Sunda-nya ‘ngahiang’.

Dan di Kawah Saat itulah Komunitas Jelajah Gunung Bandung (JGB), di mana penulis turut serta di dalamnya, menggelar Gathering untuk yang ketiga. Dengan tema Sadulur ngariung, gunung bandung, saluyu dilindung, para peserta JGB yang mengikuti gathering harus menempuh perjalanan selama 5-6 jam sampai tiba di Kawah Saat.

Alasan Komunitas JGB memilih lokasi gathering di Kawah Saat sederhana saja. Selain ingin sedikit menggali mitos warga lokal soal lima ramo tadi, juga karena lokasi Kawah Saat memiliki tegalan yang representatif serta lahan untuk berkumpul yang dapat menampung para peserta JGB lebih luas.

Lokasi Kawah Saat yang sedikit berada di bawah puncak Gunung Patuha membuat waktu perjalanan menjadi sedikit lebih molor dari jadwal yang ditentukan. Apalagi dengan kondisi peserta yang masing-masing berbeda-beda daya tahan fisiknya, membuat perjalanan ini menjadi sedikit tertantang. Namun rintangan-rintangan itu seketika dibayar lunas dengan keindahan perjalanan yang melewati perkebunan teh yang menghijau, hutan yang tertutup rapat dan asri, saat perjalanan menuju Kawah Saat.

Lelah yang menggayut seakan sirna dalam kekompakan dan keceriaan para anggota JGB saat mendaki lokasi Gunung Patuha yang terjal, begitu mendekati lokasi Kawah Saat. Di mana di jalur itu, para peserta harus menuruni jalur yang cukup terjal dengan bantuan tali sebagai pegangan, jika tak ingin terjatuh.

Setibanya di sana, barulah penulis bisa mengkaji sepenuhnya keberadaan Gunung Patuha beserta Kawah saat dan Kawah Putih-nya. T Bachtiar dalam bukunya bertajuk Bandung Purba memberikan catatan tersendiri tentang keberadaan gunung yang berada di Desa Alam Endah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, yang dikelola oleh KPH Perhutani Jawa Barat ini.

Dalam Buku Bandung Purba itu, Bachtiar menjelaskan bahwa Gunung Patuha konon berasal dari nama Pak Tua – masyarakat lebih sering menyebutnya dengan Gunung Sepuh (tua), yang memiliki ketinggian 2.434 m dpl, dengan kisaran suhu 8-22 derajat Celsius. Di puncak Gunung Patuha itulah, terdapat Kawah Saat yang berada di bagian barat dan di bawahnya Kawah Putih dengan ketinggian 2.194 m dpl. Kedua kawah itu terbentuk akibat letusan yang terjadi pada abad X dan XII silam.

Ada perbedaan antara Kawah Putih Gunung Patuha, jika dibandingkan dengan sejumlah kawah yang berada di wilayah Jawa Barat. Danau Kawah Putih mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri. Air danau kawahnya selalu berubah-ubah warna. Terkadang berwarna hijau apel dan kebiru-biruan -bila terik matahari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu dan yang paling sering dijumpai adalah berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah. Bahkan, tatkala sore hari, air danau kawah pun, tiba-tiba pasang surut. Selain permukaan kawah yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitarnya pun didominasi warna putih. Karenanya kawah itu dinamakan Kawah Putih.

Keajaiban alam pun akan terjadi, bila malam hari berkunjung ke Kawah Putih. Sekitar pukul 21.00 WIB, saat langit cerah dengan dihiasi bintang-bintang, maka dari danau Kawah Putih akan terlihat pancaran cahaya terang kehijau-hijauan menghiasi kawah. Kemudian, dari bias cahaya berwarna hijau itu akan membentuk sebuah lingkaran yang mampu menerangi seluruh lokasi kawah. Sementara aroma belerang pun mulai tercium, namun tak terlalu keras.

Keberadaaan danau Kawah Putih di puncak Gunung Patuha yang menurut penelitian masih tergolong aktif itu di batasi oleh dinding bebatuan terjal di sebelah utara dan di sebelah barat masih terdapat pancaran kawah yang bergolak. Jika ingin lebih dekat kawah bisa melalui pintu masuk di sebelah timur. Tak jauh dari lokasi kawah terdapat sebuah gua buatan sedalam 5 meter. Untuk menuju lokasi Danau Kawah Putih, dari pintu masuk hingga ke kawah jaraknya sekira 5 km atau memerlukan waktu sekira 20 menit, melalui jalan beraspal yang berkelok-kelok dengan pemandangan hutan tanaman Eucalyptus dan hutan alam dengan aneka ragam species hutan hujan tropis.

Daya tarik objek wisata Kawah Putih-Ciwidey, selain bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan, dapat pula ditempuh dengan berjalan kaki atau lintas jalan kaki sejauh 7 km dari objek wisata alam Punceuling, melalui jalan setapak hutan alam. Meski perjalanannya agak melelahkan, namun di sepanjang perjalanan akan terhibur dengan suasana hutan alam dan udara segar dan bersih. Bagi petualang, jalur ini menjadi alternatif yang cukup menantang hingga mencapai objek wisata kawah.

Dari pusat Kota Bandung, perjalanan dapat ditempuh menuju ke arah selatan sejauh kurang lebih 46 km, melewati Kota Ciwidey, yang merupakan daerah tujuan wisata di kawasan Bandung Selatan. Selain objek wisata Kawah Putih, wisatawan juga bisa mengunjungi beberapa objek wisata lainnya, seperti Ranca Upas dengan penangkaran rusa dan objek wisata Cimanggu dengan kolam renang air panas beryodium.

Keindahan danau Kawah Putih Gunung Patuha, memang sangat mempesona dan menakjubkan. Bahkan, jika sudah mengetahui keajaiban alamnya, pasti akan mengatakan tak ada kawah yang seindah Kawah Putih. ***

Tulisan ini dimuat di travelnatic.com Edisi 9.

Posted in Uncategorized | 1 Comment

7 Tips Penting Pendakian yang Sering Terlupakan

Hidup di tengah alam liar, sama sekali bukan piknik! – Jon Krakauer, In to the wild.

Mendaki gunung saat ini sudah menjadi trend gaya hidup. Dalam setiap perjalanan atau pendakian, saat saya menyempatkan istirahat karena lutut dan pinggang alias encok yang tak bisa diajak kompromi, saya selalu menyempatkan bertanya dengan orang-orang baru, teman-teman baru, saudara-saudara baru, motivasi apa yang bikin rela bersusah-susah mendaki. Jawaban mereka sangatlah beragam. Ada yang karena keilmuan, olahraga, ibadah mau pun pengenalan diri.

Bagi saya pribadi, mendaki gunung adalah perjalanan spiritual. Perjalanan menyembuhkan hati!

11202668_10207749821726792_2473450934231903244_n

Seiring dengan fenomena mendaki gunung yang menjadi trend saat ini, banyak sekali pendaki yang tidak memperhatikan prosedur persiapan mendaki gunung dengan baik. Ada pendaki yang menggunakan carrier melebihi berat beban , ada pula pendaki yang nggak bawa senter dan hanya memanfatkan cahaya bulan.

Sangat banyak tulisan mengenai tips pendakian. Kali ini saya akan memberikan tips-tips pendakian versi saya;

1. Membawa alat navigasi, berupa peta lokasi pendakian atau kompas

Seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan orientasi. Jangan pernah mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan memiliki pengetahuan mendalam tentang navigasi.

Saat ini, kebanyakan para pendaki hanya modal nekat saja untuk mendaki gunung. Padahal gunung dengan segala keindahan dan ketakjuban ciptaan-Nya, memiliki berbagai “surprise” bagi para pendaki pemula. Ada pepatah yang pernah saya dengar bahwa jika kita tersesat di gunung dan kita tak paham dengan navigasi, cara gampangnya kita turun saja ke bawah atau ikuti alur air. Padahal itu salah besar! Mengikuti alur air memang akan membawa kita turun karena sifat air sendiri yang mengalir dari permukaan tinggi ke permukaan rendah. Namun jangan silap, di tengah proses itu, air pun akan mengalir ke jurang-jurang dan tebing di gunung yang curam. Jadi kebayang kan jika kita tersesat kemudian menyakini air menjadi patokan jalan, itu bukannya menemukan jalur pulang malah kemungkinan akan menemukan jalan pulang ke akhirat! Jadi jangan coba-coba untuk menerapkan hal ini, karena sangat berbahaya. Ilmu navigasi dansurvival adalah hal wajib yang harus dimiliki oleh seorang pendaki.

2. Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat

Mendaki gunung itu jauh berbeda dengan kita ke mall. Di gunung tidak ada cafe atau apapun sebagai tempat beristirahat ataupun menghangatkan badan. Karena itulah, pastikan kondisi tubuh kita benar-benar dalam keadaan fit. Tak hanya fisik tapi juga mental. Apa pasal? Soalnya, jika fisik kuat namun mental melempem melihat tanjakan ‘anjing edan‘ alias tanjakan yang nyentuh lutut sampe ke dagu, maka secara otomatis fisik yang semula kuat akan tiba-tiba ngedrop dengan sendirinya. Begitu juga kalau mental kuat namun fisik nge-drop, sama saja hasilnya.

Mendaki gunung adalah kegiatan alam terbuka yang jujur. Tak bisa dimanipulasi dengan fisik yang pura-pura kuat atau mental yang pura-pura hebat. Karena sekecil apapun yang terjadi di gunung karena kondisi kita yang tak siap akan berakibat fatal bahkan bisa jadi akan membahayakan jiwa kita!

3. Bawalah peralatan yang sesuai

Mendaki gunung sangat berbeda dengan camping. Tak perlu kita membawa barang-barang seperti pindahan rumah. Apalagi saat ini peralatan mendaki gunung sudah dibuat se-praktis dan se-efisien mungkin. Dan yang perlu diperhatikan lagi adalah pemisahan barang-barang dalam ransel. Pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan. Senter, baterai, tenda, sleeping bag, dan matras.

Meski terkesan sepele namun pemisahan barang itu akan menjadi sangat penting dalam suatu pendakian. Bayangkan saja ketika mendaki gunung tiba-tiba turun hujan, kita pasti akan secepatnya mencari ponco atau jas hujan. Tapi karena kita menyimpannya asal-asalan ternyata ponco itu berada di bagian bawah ransel, otomatis kita akan membuka semua barang-barang di ransel sementara hujan semakin besar. Kalau seperti itu, jelas kita pasti akan basah kuyup sebelum menemukan ponco yang terletak dibagian bawah ransel.

4. Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik

Penghitungan konsumsi saat mendaki gunung juga perlu diperhatikan. Kalau ingin membawa beras, perhatikan juga keefisienan-nya. Soalnya nggak mungkin kita bawa beras sekaligus bawa rice cooker-nya juga. Karena itu, mie instan masih menjadi makanan favorit bagi para pendaki gunung. Atau yang lebih simpel, cokelat dan energy bar.

Kebutuhan logistik harus disesuaikan dengan lamanya perjalanan. Jangan kita mendaki gunung hanya satu hari tapi membawa perbekalan sampai dua karung, begitu juga sebaliknya. Intinya, harus membawa perbekalan yang disesuaikan dengan lamanya perjalanan. Dilebihkan tak apa-apa tapi jangan sampe perbekalan dikurangi.

5. Bawalah peralatan medis dan obat-obatan

Ini juga hal yang tak boleh diabaikan oleh para pendaki. Minimal standar P3K harus dan wajib dibawa! Memang gunung dengan alam ciptaan-Nya menyediakan obat-obatan asli yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman. Tapi alangkah lebih baiknya kita mempersiapkan sedini mungkin dengan membawa obat-obatan. Karena akan makan waktu jika kita diare atau terkena penyakit saat mendaki gunung, kita sibuk mencari tanaman obat-obat dulu. Kalau begitu, keburu si sakit ngap-ngapan menahan rasa sakit.

6. Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi pada siapapun yang lebih berpengalaman

Dengan banyak berdiskusi dan ngobrol dengan para pencinta alam lain, akan semakin menambah wawasan kita soal cara dan teknik mendaki gunung. Kita tak perlu malu untuk belajar dengan menanyakan hal-hal yang belum kita tahu soal kegiatan di alam terbuka. Apalagi saat ini, begitu banyak peluang menambah ilmu pengetahuan soal mendaki tidak dari diskusi saja, tapi dengan searching pada mbah google, semua yang kita tanyakan pasti ada.

7. Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang

Poin ini sebenarnya yang paling susah karena berkaitan dengan ego dan gengsi yang dimiliki para pendaki. Tapi bila kita memahami kalo mendaki gunung itu sebenarnya adalah usaha untuk mengalahkan ego sendiri, maka kita bisa ukur kemampuan diri kita sendiri. Tak perlu malu untuk menyatakan tak sanggup jika memang kita tak sanggup untuk mendaki, tenimbang pada akhirnya kita akan merepotkan kawan seperjalanan atau malah membahayakan jiwa kita, akan lebih baik kita nyatakan tak sanggup dan balik kanan pulang meski puncak gunung sudah ada didepan mata kita.

Rugi? Memang iya! Tapi lebih baik rugi tenimbang akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Kecelakaan yang terjadi digunung kebanyakan karena pendaki mengabaikan hal-hal ini. Lebih baik kita mencoba ulang kembali naik gunung yang gagal didaki tenimbang kita memaksakan diri hanya untuk gengsi atau ego menggapai puncak.

***

Tulisan ini dimuat di phinemo.com

http://phinemo.com/7-tips-penting-pendakian-yang-sering-terlupakan/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hidupku Adalah Petualanganku

Hidupku Adalah Petualanganku

– Irfan Ramdhani, Tabah Sampai Akhir

“Percayalah, badai selalu menyisakan pohon-pohon terkuat!”

Setelah panas yang terik, gerimis biasanya akan turun untuk menyejukkan. Dan di pagi yang dingin, mentari akan hadir untuk menghangatkan para penghuni bumi. Antara rintik dan mentari, Allah SWT kemudian menghadirkan bianglala yang indah. Beranjak malam, bulan dan bintang hadir untuk menenangkan.

Dok. Irfan Ramdhani

Dok. Irfan Ramdhani

Namun dalam perpaduan alam antara siang dan malam, terkadang alam juga memberi petir sekedar untuk mengingatkan. Bahkan terkadang guntur hadir untuk menyadarkan umat manusia akan keberadaannya yang merupakan bagian dari Sang Pencipta. Lalu kemudian angin ribut pun datang, yang kehadirannya datang untuk membersihkan. Itulah konektivitas alam. Agar bumi tak lalai, langit tak hanya memberi ketenangan tapi kadang juga memberi peringatan. Petir, misalnya.

Begitu juga kehidupan seorang anak manusia. Kata Soe Hok Gie, hidup adalah soal keberanian menghadapi tanda tanya! Kita tak pernah tahu, dalam beberapa menit ke depan apakah hidup kita akan menemui terang secerah langit biru, gelap tertutup awan, atau musibah yang tiba-tiba datang bagai petir yang menghentak, atau bisa jadi menghadapi angin ribut yang meluluhlantakkan semuanya.

Tapi apapun persoalannya, masalah hidup justru sebenarnya adalah filter yang membedakan antara manusia yang lemah dan yang kuat, yang cengeng dan yang tegar, yang pantang menyerah dan yang mudah putus asa. Karena apapun bentuknya, masalah memang sengaja dihadirkan oleh Allah SWT guna menyaring siapa yang patut jadi pahlawan dan siapa yang jadi pecundang!

11651231_10207440010101695_495721397_n

Itulah yang terungkap usai membaca buku Tabah Sampai Akhir-nya (TSA) yang dikarang oleh Irfan Ramadhani. Layaknya hidup seorang anak muda, seorang petualang sekaligus penggiat alam bebas, energi masa muda yang meletup-letup membuat seolah-olah hanya untuk bertualang. Tapi saat tiba-tiba petir menghentak dalam kehidupannya, dengan lumpuhnya Irfan akibat terjatuh dari ketinggian 10 meter. Barulah berbagai tanda tanya berkelebat dalam benaknya.

Tanda tanya apakah ia bisa duduk kembali saat sudah divonis lumpuh oleh dokter? Tanda tanya apakah ia bisa kembali naik gunung, usai jatuh dari ketinggian 10 meter dan kemudian divonis lumpuh? Tanda tanya-tanda tanya itu ternyata mampu dijawab oleh Irfan dengan suatu bukti nyata, bahwa optimis, semangat pantang menyerah akan mampu mengalahkan segalanya. Dan Irfan sudah membuktikan hal ini.

Buku Tabah Sampai Akhir, buku yang luar biasa dan patut dibaca oleh remaja dan penggiat alam terbuka. Banyak yang bisa dipetik soal semangat dan pantang menyerah Irfan yang tak larut dalam ratapan tak berujung, saat ia menerima vonis kedua kakinya lumpuh. Juga soal sahabat, yang ternyata mempunyai andil positif yang besar mendukung keberhasilan Irfan, hingga bisa seperti saat ini.

11637846_10207440010221698_301686117_n

Bagi para petualang, hidup diibaratkan seperti naik gunung. Saat lelah mendera, meluruskan kaki adalah jawabannya. Usai itu, kembali langkah menapaki tanjakan dan rintangan sampai akhirnya puncak bisa dijejaki.

Jiwa itulah mungkin yang ada pada diri Irfan Ramdhani. Dalam buku Tabah Sampai Akhir (TSA) yang ditulisnya, Irfan mengajarkan semangat dan pantang menyerah yang tak pernah mati. Meski sakit tak tertahankan begitu mencecapnya usai jatuh saat berlatih panjat tebing, Irfan tak mau menyerah begitu saja jalani hari-hari dengan ratapan penyesalan. Semangat dan jiwa mudanya begitu melonjak untuk bisa kembali bangkit.

1107035-irfan-di-ranu-kumbolo-620X310

Hal yang tak bisa dipungkiri lagi adalah bantuan spirit dari kawan-kawan pencinta alamnya. Mental yang terlatih dalam ganasnya rimba serta corps de spirit anak-anak gunung yang sudah terkenal senasib sepenanggungan, turut membangkitkan kondisi Irfan yang tengah terpuruk.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca bukan hanya bagi kalangan pencinta alam saja, tapi juga para remaja yang makin tergerus arus modernisasi yang semakin tak jelas. Mungkin masih bisa dihitung dengan jari kalangan generasi muda yang terus maju meski kondisi fisik sudah tak memungkinkan lagi, jika memakai akal sehat. Bagaimana mungkin, seorang pendaki yang kedua kakinya tak berfungsi normal masih aktif berkegiatan di alam terbuka, layaknya orang normal?

11653474_10207440011581732_1083008618_n

Tapi itulah hidup. Selalu ada proses seleksi dalam kehidupan. Pendaki yang sampai ke puncak hanyalah pendaki yang tangguh. Pejuang yang sampai ke kesuksesan, hanyalah yang sabar. Dan kita diberi pilihan, menjadi manusia yang mudah rapuh oleh tantangan atau justru makin menghebat seiring hebatnya rintangan, seperti yang dialami Irfan dalam hidupnya. Apapun itu, percayalah, bahwa badai yang terkuat sekalipun pasti akan selalu menyisakan pohon-pohon terkuat.

God be with the brave man!! ***

Posted in Uncategorized | Leave a comment