Jabal Rahmah: Tempat Bertemunya Adam dan “Tulang Rusuk”-nya.

Gunung adalah sebuah lambang. Sebuah simbol yang hakiki akan sebuah cinta antara laki-laki dan perempuan, itu benar. Namun konteks ini harus dipahami dalam kebenaran yang sebenar-benarnya, bukan hanya sambil lalu saja. Karena sebagai makhluk Allah, gunung juga memiliki cinta dan rahasianya tentang bertemunya cinta sepasang anak manusia yakni Adam dan Hawa.

Di gunung lah, mereka dipertemukan oleh Allah SWT setelah lama terpisahkan usai tragedi di Surga akibat memakan buah khuldi. Di Gunung Jabal Rahmah, Sang Pencipta menyatukan kembali dua insan yang saling mencintai itu dalam kondisi mereka saling menyadari kesalahan masing-masing.

Di sinilah kenapa Jabal Rahmah kerap disebut sebagai bukit cinta bagi beberapa kalangan. Mungkin kita tak pernah menyadari, bahwa bisa saja sebuah gunung menjadi awal sebuah perjalanan cinta anak manusia, seperti Adam dan Hawa.

Konteksnya dengan kekinian, sekarang banyak para pendaki atau orang yang naik gunung menjadikan gunung sebagai tempat pengikat janji, tempat menyatukan dua hati, setelah sama-sama mendaki. Bagai kisah Adam dan Hawa yang dipertemukan di Jabal Rahmah, begitulah mereka mempersonifikasikannya. Mereka mungkin menilai cerita cinta Adam dan Hawa yang dipisahkan selama 200 tahun, kemudian dipertemukan kembali adalah kisah yang romantis.

Jabal Rahmah memang sebuah bukit yang menyimbolkan cinta. Cinta sepasang pendaki, Bapak dan Ibu umat manusia, yang kini tengah marak diikuti oleh keturunannya.

Jika selalu ketakutan dengan kematian dan kekhawatiran, maka tidak mungkin sejarah mencatat bagaimana gagahnya Ibnu Batutah atau juga Marcopolo dan Columbus dalam menjelajahi dunia. Bagaimana pula kehidupan ini bisa bermula dan berjalan seperti saat ini, jika ketakutan melangkah menjadi penghalang?

Bayangkan saja, bagaimana alam semesta ini bisa berkisah seperti saat ini jika Adam dan Hawa memiliki ketakutan dan kekhawatiran untuk tidak saling mencari satu sama lain, pasca diturunkan dari Surga oleh Allah SWT?

Di gunung, di puncaknya, dimana kaki ini bisa berpijak, terdapat tempat yang penuh kedamaian. Seseorang pun akan merasa dekat sekali dengan Tuhan, sehingga menundukkan kepala untuk bersujud dengan hatinya sekaligus. Disana pula pembuktian diri, tentang sebatas mana kita bertekad. Tentang bagaimana kita bisa melepaskan keegoisan diri dan sifat manja, menjadi seorang yang mandiri dan percaya dengan kemampuan diri sendiri. Bahkan kita pun akan tahu alasannya mengapa kita hidup dan tujuan kita hidup di dunia ini.

Rasa cemas, takut, letih dan bosan memang ada selama di perjalanan. Adam dan Hawa pun pasti merasakan hal yang sama saat mereka tengah mencari satu sama lain. Apalagi saat itu, (mungkin) tak ada seorang pun manusia karena memang mereka lah konon manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT. Binatang-binatang besar seperti Dinosaurus dan berbagai jenis binatang lainnya pun tentu jauh berbeda dengan saat ini. Mereka masih bebas berkeliaran saat itu.

Tetapi cinta lah yang menautkan nenek moyang manusia itu hingga dipertemukan oleh Allah di Puncak Jabal Rahmah. Adam yang diturunkan di India dan Hawa di Jeddah, harus terpisah sekian lama hanya untuk menyatukan kembali cinta dan sayang mereka di puncak gunung.

Puncak gunung adalah puncak dari segala puncak. Ia bahkan bertambah nikmat tatkala kabut menyelimuti atau hembusan semilir angin menerpa diri dan sang surya pun terbit atau tenggelam di ufuknya. Sebuah maha karya yang sangat indah dari Sang Pencipta. Kadang kala indahnya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa terpana dan menangis terharu.

Itulah yang terjadi saat Adam bertemu kembali dengan tulang rusuknya yang hilang di Jabal Rahmah. Ia adalah Bukit Cinta. Ia adalah Gunung Romantis sepasang anak manusia yang ditahbiskan menjadi nenek moyang kita semua. Mungkin, saat Adam dan Hawa bertemu di puncak Jabal Rahmah itu, seolah-olah terlihat jelas semua harapan dan kebahagiaan yang menanti.

Gunung itu memang tak tinggi, jalurnya pun tak ekstrim dan tak ada jurang yang siap melumatkan tubuh kedua nenek moyang kita itu. Tapi di situlah Allah SWT mempertemukan mereka. Di situlah Allah SWT dengan rahman dan rahim-Nya menyatukan kembali ciptaan-Nya untuk melegalkan lahirnya anak manusia dari rahim Hawa.

Kita tak pernah tahu alasan Allah SWT menurunkan nenek moyang Adam dan Hawa di Jabal Rahmah. Namun yang jelas, pasti ada alasan yang tak bisa dipahami oleh keterbatasan akal kita sebagai manusia dibalik hikmah pertemuan itu.

Tapi korelasi yang bisa diambil yaitu banyaknya fenomena para pendaki yang menjadikan gunung sebagai tempat bertemunya mereka dengan “tulang rusuk” yang mereka harapkan.

Melakukan perjalanan mendaki gunung. Mulai dari bawah sampai ke puncaknya, seolah-olah kembali menelusuri perjalanan Adam saat mencari Hawa. Hanya bagi mereka yang bergelut dengan alamlah yang mengerti bagaimana rasanya mengendalikan diri dalam tekanan mental dan fisik. Bagaimana pula alam bisa merubah karakter seseorang. Karena alam bisa menjadi ibunda yang pengasih, tetapi bisa pula berbalik menjadi sangar dan menakutkan.

Sungguh, semua kenangan indah di puncak gunung tertoreh abadi di dalam jiwa para pendaki. Seperti juga tugu Jabal Rahmah yang menjadi titik temunya Adam dan Hawa setelah dipisahkan sekian lama. Sebuah pengalaman yang diraih setelah perjuangan panjang mengalahkan diri sendiri. Setelah diri berani mengambil keputusan di antara beberapa pilihan; terus mendaki atau berhenti sampai di sini. Terbayang jika dalam pencarian itu, Adam atau Hawa berhenti mencari karena putus asa atau hal teknis lainnya, akankah jutaan anak manusia bisa memenuhi mayapada seperti saat ini?

Karena yakinlah, bahwa tidak hanya di gunung saja kita harus membuat keputusan di tengah tekanan. Dan betapa hidup itu mahal. Betapa hidup itu ternyata terdiri dari berbagai pilihan. Sebab kita harus mampu memilihnya meski dalam kondisi terdesak. Sehingga di gunung kita belajar. Di gunung kita bisa lebih baik dalam memilih yang terbaik.

Satu hal, jangan pernah lupa bahwa kita ini hanyalah makhluk yang fana dan lemah. Jangan pernah sombong, karena hanya mendaki satu gunung-Nya saja kita sudah hampir tak berdaya. Bagaimana bila harus menciptakan yang sama dengan ciptaan-Nya itu? Sehingga sadarlah, bahwa tunduk pada setiap perintah-Nya adalah jalan satu-satunya untuk bisa dikatakan bersyukur dan meraih kebahagiaan yang sejati. Harus ingat juga, bahwa manusia itu suatu saat nanti akan kembali ke asalnya.

Tidak ada yang abadi, sebab manusia hanya diberikan waktu yang singkat saja. Hanya gunung yang tetap kokoh di tempatnya sebagai pasaknya bumi. Sementara manusia tidak. Manusia haruslah senantiasa menghargai hidup. Salah satu caranya yaitu mendaki gunung. Seperti Adam dan Hawa yang telah mendaki Jabal Rahmah untuk dipertemukan kembali dan kemudian melanjutkan hidup sebagai Bapak dan Ibu manusia.

Pasti ada banyak luka lecet di tangan, ada kram otot, ada kelelahan yang sangat di kaki, ada napas yang terasa sesak dan jantung yang rasanya mau pecah, ada rasa haus yang mencekik, dan ada pula tanjakan tinggi yang seolah-olah tak pernah ada habisnya, yang dirasakan Adam dan Hawa dalam proses pencarian itu. Namun semua yang mereka lakukan pada akhirnya segera terbayar lunas ketika telah tiba di puncaknya. Semua pengorbanan itu tak sepadan dan tak ada artinya lagi, ketika kedua kaki bisa berdiri di puncak tertingginya. Wallahu a’lam bisshawab. ***

  • Tulisan ini dimuat di Travelnatic Magazine | https://travelnatic.com/jabal-rahmah-tempat-bertemunya-adam-dan-tulang-rusuknya/
Advertisements
Video | Posted on by | Leave a comment

Bertualang Dalam Islam

Jangan beritahu aku seberapa berpedidikannya kamu, beri tahu aku seberapa banyak kau telah melakukan perjalanan. – Nabi Muhammad SAW

Banyak peribahasa mengatakan, “Dunia ini tidak selebar daun kelor!” Atau ada ungkapan lain yang mengatakan, “Jangan seperti katak dalam tempurung!” Dan banyak lagi peribahasa atau ungkapan-ungkapan lain yang kesimpulan artinya merujuk bahwa dunia ini luas, semesta ini penuh pesona dan keajaiban. Banyak yang harus digali dan dilihat sepanjang Allah Swt memberi napas di dunia ini.

Itu artinya, kita tak bisa berdiam di satu titik sepanjang hayat dikandung badan. Meski tak ada aturan yang mengikat hal tersebut atau bahkan hadis yang memperbolehkan dan tidak jika kita hanya berdiam di satu tempat seumur hidup, tanpa mengenal daerah lain. Namun memang tak semestinya dalam batasan hidup yang diberi jatah sampai usia 63 tahun – mengacu pada usia Nabi Muhammad SAW – kita hanya berdiam di satu tempat.

16230264_165808927153504_432030369462616064_n

Ah, betapa membosankan dan menjenuhkan hidup seorang anak manusia jika sepanjang hayatnya hanya hidup di lingkungan yang sama, sampai menutup mata. Terbayang gak sih kita hanya menemui lingkungan yang itu-itu saja dari waktu ke waktu, orang yang itu-itu saja. Memang kita akan tahu perubahan lingkungan tersebut dari detik ke detik. Si A matinya kapan dan karena apa, si B nikahnya sama siapa dan punya anak berapa, atau si C dan si D yang meninggalnya karena apa, tapi apa bisa kita menjadi diri yang tinggal di satu lokasi, dari mulai lahir sampai mati?

Karena itu, bepergian lah! Mulai lah bepergian keluar lingkunganmu dulu, baru setelah itu lebih luas lagi. Bayangkanlah, bagaimana kita mengetahui ada kejadian apa di lokasi B jika kita seumur hidup hanya nagen di lokasi A saja? Bagaimana bisa kita merasakan masyarakat yang megap-megap karena kabut asap, sementara kita hanya berdiam di Bandung tanpa mengunjungi lokasi yang terkena kabut asap itu sendiri?

Suatu perjalanan, biasanya, bermula dari mimpi atau imajinasi. Tahap berikutnya, ia akan menggumpal menjadi cita-cita. Lihatlah Jules Verne dengan Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari, Chritopher Columbus lewat ekspedisi Samudra Atlantik-nya, Karl May dengan legenda Old Shaterhand-nya, George Orwell dalam 1984  dan Animal Farm, atau Jhon Lennon dengan curahan Imagine-nya.

Edmund Hillary mendaki Everest bermula dari mimpi; Thomas Alva Edison, sang penemu lampu, tak kenal putus asa karena bermimpi untuk menciptakan lampu pijar, atau presiden RI kita, Sukarno, menyatakan proklamasi Indonesia, apakah tidak berawal dari mimpi tentang arti kebebasan?

Mereka semua adalah para pemimpi. Para pemimpi yang bisa mewujudkan impian-impiannya, yang semula hanya sekedar angan-angan saja. Dan memang sebuah perjalanan berawal dari mimpi. Kemudian turun ke otak bawah sadar, mengendap dan menggumpal menjadikan suatu keinginan yang kuat tertanam dalam benak. Usai itu, tangan-tangan semesta akan dengan sendirinya bergerak secara rahasia mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.

Perjalanan, kini tak hanya didominasi oleh kaum laki-laki saja. Tapi semua orang pasti memiliki mimpi besar dalam hidupnya. Dan itu tak mengenal jenis kelamin, namun mimpi tentang perjalanan hanya dibatasi oleh usia. Ya karena tidak mungkin anak balita sudah memiliki keinginan untuk melakukan perjalanan keluar dari area bermainnya. Bisa hilang nanti!

Dalam konteks Islam, ternyata bepergian rupanya sangat dianjurkan. Allah Swt sendiri dengan tegas memerintahkan manusia untuk beperjalanan ke muka bumi, apalagi jika tiap kali kita bepergian diniatkan sebagai ibadah hanya untuk-Nya.

Merunut ke masa-masa awal Islam tumbuh dan mulai tersebar, bepergian adalah salah satu anasir yang menyebabkan Islam tersebar luas. Makam Saad bin Abi Waqqas yang terdapat di Cina adalah salah satu bukti betapa giatnya para sahabat berpergian untuk menyebarkan Islam.

Pada proses selanjutnya, kegiatan bepergian juga menjadi kunci majunya ilmu pengetahuan Islam. Lihatlah bagaimana proses pembuatan kitab “Sahih Bukhari”, Imam Bukhari kerap melakukan perjalanan yang sangat jauh ‘hanya’ untuk memverifikasi satu hadis pendek.

Padahal kitab tersebut memuat ribuan hadis. Tak terbayangkan berapa orang yang ia jumpai dan berapa jauh perjalanan yang ia lakukan. Sampai-sampai Imam Khatib Al Baghdadi, seorang ulama salafusshalih, menyusun kitab yang khusus membahas ‘perjalanan’ hadis-hadis tersebut, yaitu Al Rihlah Fii Thalabil Hadis (Perjalanan Mencari Hadis).

Bahkan, jauh sebelum Saad bin Abi Waqqas pergi ke Cina, dan Imam Bukhari keliling dunia memverifikasi hadis, Rasulullah saw juga telah melakukan berbagai perjalanan jauh untuk berdagang. Kisah-kisah ini adalah bukti bahwa seorang Muslim sudah seharusnya memiliki wawasan global.

Dalam kitab suci Al-Qur’an, surat Al-Mulk ayat 15 menjelaskan soal bepergian ini. Firman-Nya, “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Jelas sekali di ayat ini Allah memerintahkan umat Islam untuk menjelajahi Bumi.

Begitulah, bepergian ternyata diatur oleh Islam dengan begitu indahnya. Selain banyak manfaat yang didapat dari perjalanan, namun yang terpenting dengan bepergian kita makin tahu betapa kecilnya kita dan betapa Mahanya Dia. ***

  • Tulisan ini dimuat di buruan.co | http://www.buruan.co/bertualang/
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mendaki Bukit Uhud; Napak Tilas Perjuangan Rasulullah SAW

Jabal Uhud tak setinggi Gunung Gede Pangrango, Burangrang atau Gunung Semeru. Dari keeksotisannya pun Jabal Uhud jelas kalah jauh. Di Jabal Uhud tak ada warna hijau rumput bagai permadani yang melingkari bukit, tak ada gemericik air terjun yang curahan airnya begitu segar, atau tak ada tanaman yang membuat mata menjadi teduh.

Jabal Uhud memang tak memiliki semua itu. Selain ketinggiannya yang tak seberapa, juga tak ada keindahan yang enak dipandang dengan mata telanjang jika mendaki gunung tersebut. Namun cobalah mendaki Jabal Uhud dengan mata batin spiritual dalam bingkai kerinduan pada penghulu nabi, yakni Nabi Muhammad SAW.

Jabal Uhud memang tak setinggi Burangrang dan gunung-gunung lainnya. Ia hanya memiliki ketinggian 1.077 meter, masih ratusan meter dibanding Gunung Burangrang. Namun hanya Uhud lah yang akan menjadi salah satu keindahan di surga nanti. Dan hanya Uhud lah yang dinilai spesial dalam pandangan Allah, dibanding gunung-gunung atau bukit-bukit yang lainnya.

Bukit Uhud adalah salah satu dari bukit-bukit yang ada di surga. – HR. Bukhari

Detik-detik peperangan kian mendekat. Pasukan Muslim dan musyrik telah saling berhadapan. Jumlah yang tak seimbang. Pasukan musyrik sebanyak 3.000 orang. Sedangkan di sudut sana, pasukan Muslim hanya 700 orang. Namun tak ada rasa gentar di wajah kaum Muslim.

Debu-debu beterbangan dihembus angin. Suara ringkik kuda dan lenguh unta bercampur dengan dengus napas dari kedua kubu. Pedang dan tombak saling mengacung tinggi, siap mencincang dan membabat tubuh musuh. Panji-panji Islam berkibar ditingkahi angin Uhud yang menyapu seluruh kawasan tersebut.

Pertempuran pun akhirnya pecah. Semua sudut Bukit Uhud menjadi lokasi pertarungan sengit antar dua kubu. Pertempuran paling menegangkan terjadi di sekitar panji pasukan musyrik. Thalhah bin Thalhah a-Abdari, pembawa panji pasukan musyrik, maju memecah keheningan. Ia adalah seorang laskar berkuda yang paling berani dari kalangan Quraisy.

Kudanya dihela mendekati barisan terdepan pasukan Muslim. Dari atas kudanya, ia menentang kaum Muslim untuk duel. Bertarung satu lawan satu. Tantangan itu segera dijawab oleh Zubair bin Awwam. Ia melompat laksana singa dengan untanya. Mereka kini saling berhadapan. Suara pedang yang beradu terdengar, saat keduanya terlibat pertarungan seru. Sementara ribuan pasang mata menyaksikan dengan harap-harap cemas.

Saling tikam dan saling incar tubuh lawan menjadi sasaran mereka. Pedang terus beradu, nyali pun bertarung untuk secepatnya mematikan musuh. Zubair kini mulai berada di atas angin. Ia memegang kendali pertarungan. Kibasan dan ayunan pedangnya mampu mendesak musuh Allah itu, Thalhah.

Dalam sebuah kesempatan, pedang Zubair tepat menghunjam tubuh Thalhah. Orang musyrik itu tewas, terjatuh dari kudanya. Tubuh yang tak bernyawa itu terjerembab menghujam bumi, bersimbah darah. Rasulullah SAW yang terus mengamati pertarungan tersebut langsung mengumandangkan takbir menyambut kemenangan

Zubair.

“Allahu Akbar…Allahu Akbar…!!!”

Pekik nabi mulia itu segera disambut dengan takbir pula oleh pasukan Muslim.

“Allahu Akbar…Allahu Akbar…!!!”

Peperangan terus berkecamuk. Saling serang, saling bunuh dan tikam, menjadi sasaran masing-masing. 50 pasukan panah yang berada di Bukit Rummat berhasil mencerai beraikan kaum musyrik. Tanda-tanda kemenangan berada di kaum Muslim.

Melihat kaum musyrik lari lintang pukang akibat serbuan dari kaum Muslim. Tiba-tiba aura kemenangan yang akan digenggam kaum Muslim berlari menjauh saat 40 orang pasukan pemanah Muslim turun, tergoda pampasan perang yang ditingggalkan kaum musyrik. Kini hanya tinggal 10 orang pasukan pemanah yang tersisa di Bukit Rummat.

“Jangan turuuunn…Jangaaannn…Rasulullah melarang kita untuk turun…!” Teriakan Panglima pasukan pemanah kaum Muslim, Abdullah bin Zubair, mengingatkan 40 orang anggota pasukannya yang sudah terlanjur menuruni bukit.

15439773_10211995546707263_650395433169797534_n

Abdullah panik. Dia tak menyangka sebagian besar pasukannya berani mengabaikan perintah Rasulullah SAW untuk tidak turun dari Bukit Rummat, apapun yang terjadi. Namun ternyata sebagian besar pasukannya malah tergoda pampasan yang berserakan. Kilau dunia menyilaukan 40 pasukan pemanah hingga berani menentang pesan Rasulullah SAW.

Tak dinyana, kondisi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Panglima kaum musyrik, Khalid bin Walid yang kala itu belum masuk Islam. Ia langsung menyerang sisa pasukan pemanah yang masih bertahan di atas bukit. Sekejap saja sisa pasukan pemanah kaum Muslim tewas terbunuh oleh kibasan pedang Khalid, tak terkecuali Abdullah bin Zubair.

Usai itu, Khalid dan pasukannya bergerak cepat memutari Bukit Uhud untuk menyerang pasukan Muslim dari belakang, dengan tujuan utama siapa lagi kalau bukan Rasulullah SAW. Beliau terkejut saat melihat pasukan berkuda Khalid tiba-tiba muncul dari belakang bukit. Sedari dulu mereka memang berupaya ingin membunuh Rasulullah SAW, dan kini peluang itu terbuka lebar di Jabal Uhud. Jiwa Rasulullah SAW terancam. Situasi menjadi sangat kritis.

Bayangan selanjutnya tak mampu lagi penulis lanjutkan. Tak sanggup hati ini jika membayangkan langsung tubuh Nabi SAW yang mulia, penuh luka tersabet kibasan pedang pasukan musyrik. Di sinilah peristiwa tragis itu berlangsung, di Jabal Uhud, di tempat kaki penulis berpijak.

15349646_10211974740427119_7529795717419409315_n

Inilah Uhud. Inilah Jabal Uhud. Bukit yang menjadi saksi saat gigi seri Nabi SAW bagian bawahnya tanggal, kepalanya luka. Di sinilah paman Nabi SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib tewas oleh seorang budak milik Jabir bin Muth’im, Wahsyi, oleh lemparan tombaknya.

Bukit ini juga yang menjadi saksi saat jenazah para syahid di cincang-cincang oleh kaum musyrik. Dan di bukit ini yang akan menjadi saksi di akhirat kelak saat Hindun binti Utbah membedah perut Hamzah kemudian memakan jantung paman Nabi SAW yang dijuluki Singa Allah itu, dan menjadikan kuping serta hidung Hamzah sebagai kalung dan gelang kaki. (Ibnu Hisyam).

Tapi Bukit Uhud masih seperti dulu. Anginnya masih kering membawa udara panas padang pasir. Tapi di sinilah kaki seorang anak manusia akan menjadi lemah dan terpaku, saat jari kaki ini mencapai puncaknya. Dibanding bukit atau gunung-gunung lain, Uhud tak begitu tinggi. Ketinggiannya hanya kurang lebih 1.077 meter.

Bandingkan dengan ketinggian gunung Jayawijaya (4.884 mdpl) atau Everest (8,848 mdpl). Atau tak usah jauh-jauh jika untuk membandingkan soal ketinggian. Gunung Gede (2,958 mdpl) – Pangrango (3.019 mdpl), dan Burangrang (2.064 mdpl), Bukit Uhud masih jauh dibanding gunung-gunung di atas.

Bukit Uhud memang tak sebanding ketinggiannya dengan gunung-gunung yang disebutkan di atas. Bukan hanya dari tingginya gunung itu sendiri, tapi dari keeksotisannya pun Bukit Uhud jelas kalah jauh. Di Bukit Uhud tak ada warna hijau rumput bagai permadani yang melingkari bukit, tak ada gemericik air terjun yang curahan airnya begitu segar, atau tak ada pepohonan hijau yang membuat mata menjadi teduh.

Jabal Uhud memang tak memiliki semua itu. Selain ketinggiannya yang tak seberapa, juga tak ada keindahan yang enak dipandang dengan mata telanjang jika mendaki gunung tersebut. Tapi hanya Uhud lah bukit yang menjadi saksi atas kekalahan pasukan Muslim dan kaum musyrik pada pertempuran yang digelar pada Jum’at, 6 Syawal tahun ke 3 Hijriah.

Uhud lah bukit yang di atasnya pernah dijadikan lokasi pertempuran Nabi SAW yang mulia. Dan itu tak dimiliki oleh bukit-bukit lainnya yang ada di semesta ini.

Uhud lah bukit yang satu-satunya yang akan menjadi penghuni Surga kelak. Gunung ini memang disebut Nabi sebagai salah satu gunung yang ada di surga, sehingga kalau kita melihatnya sekarang, insha Allah, kita akan melihatnya lagi di surga nanti. Dan perjalanan spiritual itulah yang takkan akan pernah didapatkan oleh para pendaki yang telah mencapai puncak-puncak tertinggi atau telah menjajaki Seven Summits.

Perjalanan spiritual, itulah yang terpenting maknanya saat mendaki gunung. Menatap keindahan semesta dari puncak gunung tanpa goresan yang berarti, memandangi semesta dari atas gunung yang kebanggaannya hanya sebatas saat turun kembali. Itulah yang harus dibawa ‘pulang’ saat mendaki gunung dan turun kembali.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah S.A.W. pernah menaiki puncak Uhud bersama Sayyidina Abu Bakar R.A., Sayyidina Umar Al-Faruq R.A. dan Sayyidina Usman bin Affan R.A. Setelah keempatnya berada di puncak, terasa Gunung Uhud bergegar.

Rasulullah kemudiannya menghentakkan kakinya dan bersabda; “Tenanglah kamu Uhud. Di atasmu sekarang adalah Rasulullah dan orang yang selalu membenarkannya dan dua orang yang akan mati syahid.”

Tak lama setelah itu Uhud berhenti bergetar. Demikianlah tanda kecintaan dan kegembiraan Uhud menyambut Rasulullah. Dan sesuai dengan namanya yakni Uhud yang berarti penyendiri, Bukit Uhud memang terpisah dari bukit-bukit lainnya.

Begitulah cerita soal Bukit Uhud. Bukit yang telah menjadi saksi sejarah pertempuran dahsyat antara pasukan Muslim dan musyrik, berabad-abad silam. Bukit yang di kawasannya terbaring makam Paman Nabi SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib itu, adalah bukit sejarah yang tak terbantahkan.

Bukit Uhud memang tak setinggi Burangrang. Ia hanya memiliki ketinggian 1.077 meter, masih ratusan meter dibanding Gunung Burangrang dan gunung-gunung lainnya. Namun perjalanan spiritual mendaki Gunung Uhud bagai kembali menapak tilas pertarungan Kaum Muslim dan musyrik, di awal masa-masa Islam. ***

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Legenda Itu Bernama Roy

Cinta terlarang si petualang. Tak lekang dimakan zaman.

Legenda itu bernama Roy
Segurat nama dengan hanya tiga kata begitu terpatri kuat dalam ingatan saya, saat pertama kali baca Balada Si Roy(BSR) di sebuah majalah remaja. Saat itu, saya masih menjadi siswa berseragam putih biru. Ya, meski masih SMP atau dalam usia cabe-cabean–istilah zaman sekarang–tapi saya sudah membaca serial Balada Si Roy pertama, yakni Joe. Sebenarnya, pertemuan saya dengan BSR berlangsung secara tak sengaja. Kebetulan, kakak pertama saya yang kala itu berlangganan majalah HAI meminta saya untuk membaca serial pertama BSR yakni Joe.

Begitu membaca pertama kali itu, awal-awal kalimatnya saya hanya biasa saja. Karena saya pikir, seperti serial-serial lain di majalah tersebut, pasti biasa-biasa saja. Namun usai membaca sampai akhir, saya langsung jatuh cinta dengan BSR. Membaca BSR meski hanya salah satu judul saja, saya seperti membaca bagian hidup saya. Ada peran saya di situ, yang membuat saya seperti menjadi bagian dari kisah anak manusia bernama Roy. Dan banyak kalimat dan adegan di serial pertama itu yang menggugah emosi kanak-kanak saya menjelang remaja. Tentang arti dari rasa tanggungjawab, rasa kehilangan Roy pada Joe yang merupakan anjing peliharaan warisan dari papanya yang meninggal dalam suatu pendakian, membuat remaja Roy menjadi limbung dalam memaknai kehidupan selanjutnya.

Serial pertama JoCf4_hsCUEAESd5-e yang memikat, membuat saya tak sabar untuk kembali menunggu serial-serial berikutnya di majalah HAI. Bisa dibilang saat itu, tiap minggunya, saya hanya menanti majalah HAI hanya untuk membaca serial si Roy. Seiring berlalunya waktu dan beranjak remaja, serial Roy diterbitkan oleh percetakan Gramedia. Gantilah kini saya berburu buku-buku si Roy sehingga sampai akhirnya terkumpul lengkap serial BSR sampai buku terakhir yakni Epilog.

Membaca keseluruhan cerita BSR, membuat saya seperti berkaca dengan diri pribadi yang ingin menjadi pribadi atau sosok seperti Roy. Dan kelak, ketika usia semakin beranjak, beberapa hal yang terjadi di Roy saya mengalaminya sendiri, termasuk kecintaan saya pada bidang tulis-menulis dan bertualang.

Roy Itu Sebuah Bagian
Pada periode krisis seorang remaja, ia biasanya akan dihadapkan pada suatu keharusan untuk mencari jawaban atas makna hidupnya selama ini. Dan itu juga yang saya alami saat melalui periode tersebut. Pada saat-saat “jatuh” itu, Roy menjadi bagian dari sebuah perjuangan dan cita-cita saya yang belum rampung. Ia adalah penyemangat, dan padanya saya bisa berkaca, bergumam, mengeja makna hidup serta menuangkannya pada tulisan.

Diajarinya pada Roy tentang arti semangat, pantang menyerah dalam mengejar apapun, juga soal persahabatan yang tanpa ada embel-embel di dalamnya. Yang terpenting, lewat BSR, Roy mengajarkan akan arti sebuah cinta yang hakiki, cinta tanpa polesan, juga cinta yang hanya bisa dimanifestasikan dalam bentuk pengabdian ke seorang ibu.

Banyak adegan dan alur cerita di BSR, mengajarkan pada seorang remaja termasuk saya untuk menemukan jati diri. Dan jati diri bagi seorang remaja adalah persoalan kompleks jika tak mau dibilang ruwet bagai benang yang kusut.

Eaku-relgo yang besar, merasa paling benar dan selalu ingin menjadi pusat perhatian, menjadi dominan dalam diri seorang remaja termasuk saya. Namun Roy banyak mengajarkan berbagai hal, soal makna hidup dan tujuan hidup yang harus dicapai. Artinya, passion harus ditemukan tanpa menggantungkan pada siapa-siapa kecuali Allah Swt, dan sifat pantang menyerah.

Itulah cara menjadi laki-laki! Kata Roy dalam satu kalimatnya di salah satu judul BSR. Menjadi laki-laki bukan harus selalu bergelut  dengan kepalan tinju atau mendompleng nama kebesaran orang tua dan bangga pakai fasilitas mereka, tapi menjadi laki-laki adalah berani untuk bertanggung jawab dalam segala hal. Bertanggung jawab akan masa depan, sekolah/studi dan juga cinta!

Roy Itu Adalah Sebuah Momentum
Semua ekspresi anak muda ada semua pada diri Roy. Kalau dulu kita pernah mengenal Catatan Si Boy yang menceritakan kesempurnaan seorang remaja bernama Boy: anak konglomerat, ganteng, gonta-ganti pacar, taat pada orangtua dan rajin shalat, Roy justru kebalikan dari semua itu! Pada diri Roy ada suatu pembelajaran berharga bagi seorang remaja tentang arti memaknai hidup lantas mengisi penuh gelas kehidupan itu dengan hal-hal yang bertanggungjawab! Roy adalah gambaran remaja badung yang bergejolak namun tak pernah lepas benaknya untuk menjadi “seseorang”! Hidupnya harus penuh warna, karena ia tahu bahwa hidup bukan cuma terdiri dari dua warna saja yakni hitam dan putih, tapi juga ada warna-warna lain yang terkadang harus dicecap oleh seorang anak manusia, baik itu suka atau pun duka, dan Roy menjalani semua itu lewat berbagai peran di perjalanan-perjalanannya.

Dan itu juga yang saya lakukan dalam satu bagian remaja yang saya alami. Mendepang punggungan gunung serta menancapkan kedua kaki di puncaknya, meloncat ke truk untuk menuju kota berikutnya, sampai-sampai menyalakan zippo dengan berbagai tehnik, terilhami dari salah satu judul di BSR. Oya, sama seperti Roy, jeans dekil dan baju kotak-kotak adalah baju kebesaran saya!

Roy begitu menginspirasi saya dalam menapaki episode di fase kehidupan saya berikutnya. Karenanya, saya tak pernah berpaling pada sosok berambut jambul yang hobinya makan permen karet, yang pernah menjadi fenomenal seiringan dengan Roy.

Bagi saya pribadi, ada perbedaan yang jelas diantara keduanya. Bukannya membanding-bandingkan, karena setiap remaja tentu memiliki sosok yang berbeda-beda untuk dianutnya. Tapi bagi saya, Roy begitu banyak menggambarkan kegelisahan dan kegalauan yang dialami setiap remaja, yang juga dialami saya pada fase itu. Ia jadi terasa begitu lekat, bahkan seolah-olah menggambarkan tentang kisah saya, kawan-kawan saya, percintaan saya, bagaikan de javu saya membacanya.

Bagi saya, buku Balada Si Roy adalah buku yang religius. Buku ini mengajarkan bahwa kebahagian itu harus diperjuangkan. Bukan dengan cara mengemis minta belas kasihan, rendah diri dan pasrah pada nasib.

Dan sosok Roy adalah lelaki sejati, berani, punya sikap, urakan tapi tidak kampungan, memegang teguh persahabatan, memiliki solidaritas tinggi, cinta keluarga, humanis, membumi, disukai perempuan, dan tentunya jago menulis.

Tak bisa dipungkiri, betapa tokoh Roy pada saat itu menjadi trend setter di dalam hati anak muda yang bergejolak. Betapa nikmatnya menjadi avonturir seperti Roy. Bebas melalang buana. Dan  dengan itu saya biarkan diri ini ditempa oleh alam, oleh kenyataan, dan belajar dari sana. Yang jelas, buku Balada si Roy mengubah hidup saya, kita dan mungkin jalan kamu juga.[] 

*Penulis membuat sebuah lagu untuk memoar, berjudul Balada Si Roy. Syair/lirik ditulis oleh Daniel Mahendra. Lagu tersebut dapat diunduh di soundcloud.com/edelweisbasah.

Tulisan ini dimuat di buruan.co http://www.buruan.co/legenda-itu-bernama-roy/

Posted in Artikel, Jejak Perjalanan, Potret Perjalanan, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

7 Puncak Gunung Bandung

12107249_1564662750463413_2748746613696084695_n

Orang boleh menafsirkan Bandung dengan banyak romantisme dan keindahan.    Tetapi, tanpa gunung-gunung Bandung bukanlah apa-apa.
– Pepep DW, Budayawan.

Bumi parahyangan ini sejatinya memantulkan sejarah akan kebudayaan masa silam. Jika kita berdiri di titik tertinggi di Kota Bandung, maka akan terlihat kota yang mendapat julukan Paris van Java ini akan seperti terlihat di kepung oleh gunung-gunung. Ibarat sebuah cawan, kota Bandung berada di bawah dasarnya dan gunung-gunung itu adalah pinggiran cawan yang menjulang.

Sekarang, kita balik ke masa silam, di tahun 20-15 juta tahun yang lalu, tatkala dataran tinggi Bandung masih terletak di dasar lautan. Pada waktu itu, pulau Jawa sebelah Utara masih merupakan samudera. Hanya bagian Selatannya saja yang berujud tanah dataran dengan pesisirnya tak jauh di sebelah Selatan Pengalengan sekarang. Beberapa pulau volkanik terdapat di depan pantai itu.

Sisa lapisan – lapisan yang diendapkan 20 juta tahun yang Ialu, kini masih bisa disaksikan di daerah Purwakarta dan Subang. Batuan – batuan Napal dan Gamping (karang) yang ditemukan mengandung fosil binatang laut Foraminifera, seperti Cyoloclypeus dan Lepidecyclina (Kusumadinata, 1959).

Secara bertahap pantai laut Jawa yang semula terletak di Selatan Pengalengan (Kabupaten Bandung), lama – lama bergeser makin ke Utara, tak jauh dari Kota Bandung. Ini terjadi pada periode revolusioner, di akhir jaman Miosen (25-14 juta tahun yang Ialu). Pergeseran pantai Laut Jawa ke arah utara Bandung diakibatkan oleh pembentukan gunung (orogenese) dan proses pelipatan lapisan bumi. Sedimen yang terlipat, kemudian muncul di atas laut.

Masa berikutnya kembali mengalami periode istirahat, di mana kegiatan vulkanik dan sedimentasi cekungan dalam laut di Utara Bandung mengakibatkan munculnya bukit bukit Selacau yang bentuknya mirip piramida. Pada akhir Pliosen (dua juta tahun yang lalu) terjadi lagi periode revolusioner berupa tekanan dari sedimen, hingga terjadi proses pembentukan gunung, disusul menghilangnya Selacau.

Pada permulaan periode Plestosen (1 juta tahun yang lalu), beberapa kegiatan volkanik di daerah Utara Bandung sempat membentuk kumpulan gunung api, ukuran dasarnya sebesar 20 km dengan ketinggian, antara 2.000-3.000 Mtr. Gunung ini dikenal sebagai Gunung Sunda, sebuah gunung raksasa dengan sebuah kaldera di puncaknya. Sedangkan Gunung Burangrang hanya merupakan parasit dari gunung itu (Prof.Dr.Th.H.F.Klompe, “The Geology of Bandung-, 1956).

Masih pada periode Plestosen itu juga, Gn.Sunda runtuh diikuti oleh terjadinya Patahan Lembang. Sebuah rekaman geologi dari periode itu, masih dapat dilihat dalam bentuk endapan binatang Vertebrata di penyayatan sungai Citarum sebelah barat Batujajar, seperti yang diteraukan oleh Stehn dan Umbgrove (1929).

Kemudian di zaman Holosen, 11 ribu tahun yang lalu, lahirlah Gunung Tangkubanparahu sebagai anak dari kaldera Gunung Sunda, dan gunungapi itu menutupi bagian timur sisa gunungapi lama. Paling tidak gunung itu telah mengalami 3 kali erupsi besar yang mengeluarkan lava dan abu yang menimpa daerah sebelah utara Bandung.

Erupsi besar kedua dari Gunung Tangkubanparahu, yang menurut Cerita Rakyat (Legenda) adalah “perahu” yang tertelungkup ditendang Sangkuriang yang kesiangan, terjadi 6.000 tahun yang lalu. Adapun muntahan dari erupsi besar kedua itu, tersebar di sebelah barat Ciumbuleuit (Bandung) dan sebagian lagi sempat menyumbat sungai Citarum yang mengalir di lembah Cimeta (utara Padalarang), sehingga terbentuklah “Danau Bandung”. Sebuah danau yang sering juga disebut oleh manusia jaman baheula sebagai “Situ Hiang”.

Baru sekitar 4000 – 3.000 tahun yang lewat, Danau Bandung mulai surut airnya dan muncullah Dataran Tinggi Bandung. Danau itu mulai kering menyusut, tatkala sungai Citarum yang tersumbat muntahan Gunung Tangkubanparahu atau Gunung Burangrang, bisa bebas mengalir kembali, dengan menembus bukit-bukit Rajamandala (sebelah barat Batujajar), melewati terowongan-alam Sanghiangtikoro.

Dataran tinggi Bandung yang terkenal akan kesuburannya, sekarang terletak ± 725 Mtr di atas permukaan laut, dikepung gunung api dan di sebelah barat terdapat bukit bukit batu gamping. Endapan batu gamping yang membentuk bukit-bukit kapur Padalarang adalah bukti, bahwa daerah tersebut pernah terbenam di dasar laut.

Luas dataran tinggi yang di masa silam pernah jadi Situ Hiang (Danau Bandung), membentang dari Cicalengka di timur sampai Padalarang di arah barat, sejauh kurang lebih 50 km. Dari bukit Dago di utara sampai ke batas Soreang – Ciwidey di selatan berjarak 30 km. Kalau dihitung luas Danau Bandung keseluruhan, hampir tiga kali lipat DKI Jakarta. Suatu wilayah yang insya’allah bakal jadi daerah “Bandung Raya” di kemudian hari.

Sekedar ilustrasi tentang kedalaman Danau Bandung jaman baheula, yang airnya menggenangi sebagian besar Kota Bandung sekarang; tepian sebelah utara terletak di Jalan Siliwangi, utara Kampus ITB sekarang. Tinggi air di Stasiun Kereta Api diperkirakan 25 meter, sedangkan Alun-alun Bandung terbenam 30 meter. Menurut Geologiwan S.Darsoprajitno, kedalaman air 30 meter dapat mengapungkan kapal laut sebesar lebih dari 50.000 ton.

Tapi Bandung zaman purba jelas jauh berbeda dengan zaman sekarang. Saat ini, Kota Bandung adalah satu-satunya ibukota Propinsi di Indonesia yang berada di dataran tinggi yakni lebih 730 mdpl. Keindahan dan keelokannya yang mempesona membuat banyak julukan bagi kota ini, seperti: Kota Kembang (Kota Bunga), Parijs van Java (Kota Parisnya di Pulau Jawa), Europa in de Tropen (Eropanya Daerah Tropis), dan lain-lain.

Tak hanya itu, hawa di wilayah Bandung yang cukup sejuk dan segar adalah berkat keberadaan gunung-gunung yang berdiri tegak membentengi di sekelilingnya. Jika kita berdiri di Lapangan Gasibu atau Gedung Sate, memandang ke sebelah utara maka akan tampaklah Gunung Tangkuban Parahu, di mana diameter gunung ini persis di muka kita. Tampak elok, asri dan anggun. Di samping kirinya berdiri Gn. Burangrang di daerah Cisarua dan Gn. Putri berupa bukit di depannya.

Jauh ke sebelah kanan, menjulang puncak Gn. Bukittunggul, yang dari arah kota Bandung terhalang oleh deretan Gn Palasari dan Gn. Manglayang seolah tak lelah memandangi aktivitas penduduk kesehariannya. Di sebelah barat dibatasi Gn. Masigit dan Bukit Lagadar menjadi ikon daerah Cimahi dan Padalarang. Sementara gunung di sebelah selatan terbilang cukup rapat, yakni Gn. Patuha, Gn. Tikukur, Gn. Puntang, Gn. Malabar, Gn. Papandayan, Gn. Wayang-Windu, Gn. Tilu, dan sebagainya.

Benteng kokoh di sebelah timur yakni Gn. Mandalawangi dan Gn. Geulis menjadi batas daerah Bandung dengan kabupaten tetangganya. Dari semua gunung di atas, Gn. Tangkubanparahu, Gn. Patuha, Gn. Wayang Windu, Gn. Papandayan, dan Gn. Kamojang merupakan gunung berapi aktif yang sesekali menunjukkan aktivitasnya. Gunung ini merupakan bagian Sabuk Alpide yang berawal dari gunung-gunung perairan Maluku, Nusatenggara, Jawa kemudian menyambung ke deretan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera, Pegunungan Himalaya, Mediteriania berakhir di pegunungan di Laut Atlantik.

Dan seperti pepatah mengatakan bahwa, “Semakin banyak tahu maka semakin banyak yang tak tahu”, maka seperti itulah jawaban akan keberadaan sejarah serta budaya masa silam dari gunung-gunung yang melingkari Kota Bandung. Artinya, meski Bandung saat ini telah begitu “bersolek” dan berkembang pesat namun dalam banyak hal ternyata ia tak bisa dipisahkan dari gunung yang mengelilinginya. Tanpa disadari keberadaaan gunung-gunung di Bandung sangatlah vital dalam konteks kehidupan di Bandung.

Atas dasar itulah dan sejalan dengan jargon Komunitas Jelajah Gunung Bandung (JGB) itu sendiri, yakni sejarah lanskap dan budaya, meliputi keterkaitan hubungan gunung dengan manusia. Maka dalam hajatan JGB di tahun yang kelima ini, sebuah mimpi dan harapan untuk lebih menguak keberadaan gunung-gunung di Bandung dicetuskan oleh JGB dengan merencanakan pendakian seven summit gunung Bandung.

12094764_1887348418157527_8378176086956245885_o

Runtime 7sGB

Runtime 7sGB

Dari data yang ada dapat diketahui bahwa gunung-gunung dengan elevasi ketinggian hampir mengalahkan seluruh barisan gunung yang berada di wilayah Bandung raya terletak di daerah Bandung Selatan yang berbatasan dengan sebagian wilayah Kabupaten Garut. Namun untuk dapat mewakili seluruh barisan Gunung Bandung maka pemilihan 7 Puncak Gunung Bandung didasarkan pada pembagian wilayah dimana gunung-gunung yang akan dipilih berada, untuk menentukan wilayahnya sendiri komunitas JGB dengan haluan Sejarah Lanskap dan Budaya kemudian berpijak pada catatan sejarah tentang pembagian wilayah yang menjadi awal terbentuknya daerah Bandung (Priangan) hingga seperti saat ini.

Tercatat dalam naskah yang terhimpun dalam Katalog Naskah Sunda bahwa sebelum Kabupaten Bandung berdiri, daerah Bandung dikenal dengan sebutan Tatar Ukur. Dan menurut Naskah Sadjarah Bandung, Tatar Ukur adalah termasuk daerah Kerajaan Timbanganten dengan Ibukota Tegalluar. Kerajaan itu berada dibawah dominasi Kerajaan Sunda Pajajaran. Sejak pertengahan abad ke-15, Kerajaan Timbanganten diperintah secara turun temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur.

Pada masa pemernahan Dipati Agung, pengganti Prabu Pandaan Ukur, daerahnya mencakup 8 wilayah dengan menggunakan nama Ukur sebagai nama depannya :

Ukur Maraja;
Ukur Pasirpanjang;
Ukur Karawang;
Ukur Biru (dua daerah);
Ukur Curugagung Kuripan;
Ukur Manabaya;
Ukur Sagaraherang.

Dipati Agung digantikan menantunya Raden wangsanata, dikenal sebagai Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan Dipati Ukur inilah 8 wilayah tersebut mengalami pemernahan kembali, dengan nama istilah yang dikenal sebagai Tatar Ukur. Tatar Ukur sendiri merupakan suatu daerah yang cukup luas, mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, Wilayah kekuasaan Tatar Ukur meliputi 9 daerah yang disebut Ukur Sasanga, yaitu:

Ukur Bandung (Wilayah Banjaran dan Cipeujeuh);
Ukur Pasirpanjang (Wilayah Majalaya dan Tanjungsari);
Ukur Biru (Wilayah Ujungberung Wetan);
Ukur Kuripan (Wilayah Ujungberung Kulon, Cimahi, dan Rajamandala);
Ukur Curugagung (Wilayah Cihea);
Ukur Aranon (Wilayah Wanayasa);
Ukur Sagaraherang (Wilayah Pamanukan dan Ciasem);
Ukur Nagara Agung (Wilayah Gandasoli, Adiarsa, Sumedangan);
Ukur Batulayang (Wilayah Kopo, Rongga, dan Cisondari).

Untuk mereposisikan wilayah Tatar Ukur pada saat ini diakui memang sangat sulit, catatan sejarah sangat terbatas untuk menunjukan batas-batas wilayah tersebut, namun setidaknya referensi pustaka yang didapat masih bisa menunjukan beberapa daerah yang bisa dijadikan sebagai patok pedoman wilayah untuk menentukan pemilihan 7 Puncak Gunung Bandung yang akan mewakili jajaran gunung-gunung megah yang ada di daerah Bandung dalam koridor Tatar Ukur.

Komunitas JGB pertama-tama melakukan reposisi wilayah dengan relevansi Wilayah Bandung Raya saat ini, dari wilayah Ukur Sasanga kemudian beberapa Ukur dilebur menjadi satu wilayah dengan pendekatan wilayah administratif, penataan ulang Ukur bertujuan untuk mendapatkan 7 wilayah Ukur yang relevan. Dari 7 wilayah Ukur tersebut selanjutnya akan diambil Gunung tertinggi yang mewakili wilayah Ukur masing-masing dan masuk dalam daftar 7 Puncak Gunung Bandung.

Dari hasil reposisi, Ke-7 wilayah Ukur tersebut adalah sebagai berikut :

Ukur Bandung (Wilayah Banjaran dan Cipeujeuh);
Ukur Pasirpanjang (Wilayah Majalaya dan Tanjungsari);
Ukur Biru (Wilayah Ujungberung Wetan);
Ukur Kuripan (Wilayah Ujungberung Kulon, Cimahi, dan Rajamandala);
Ukur Curug Nagara Agung (Wilayah Cihea, Wilayah Gandasoli, Adiarsa, Sumedangan);
Ukur Aranon Sagaraherang (Wilayah Wanayasa, Subang, Ciasem dan Pamanukan);
Ukur Batulayang (Wilayah Kopo, Rongga, dan Cisondari).

Demikian terbagilah wilayah Ukur hasil reposisi saat ini, selanjutnya setelah JGB melakukan inventaris data keberadaan gunung-gunung diwilayah reposisi Ukur, diambilah 7 Gunung Bandung dari masing-masing wilayah Ukur, yang selanjutnya masuk dalam daftar 7 Puncak Gunung Bandung [Tatar Ukur], gunung-gunung tersebut yaitu:

Ukur Bandung – Gunung Malabar (2341Mdpl)
Ukur Pasirpanjang – Gunung Mandalawangi (1650Mdpl)
Ukur Biru – Gunung Bukittunggul (2206Mdpl)
Ukur Kuripan – Gunung Burangrang (2064Mdpl)
Ukur Curug Nagara Agung – Gunung Parang (915Mdpl)
Ukur Aranon Sagaraherang – Gunung Sunda (1854Mdpl)
Ukur Batulayang – Gunung Masigit (2094Mdpl)

Begitulah. Masa silam telah berganti. Nenek moyang telah pergi. Tradisi, adat, bahasa dan gunung-gunung yang melingkari Kota Bandung adalah sebuah warisan yang tak ternilai. Ia masih perlu dikuak lebih lanjut, diraba denyut perjalanannya lewat Seven Summit Gunung Bandung, agar semua warisan ini tak berhenti hanya dalam satu generasi ke depan saja. Semoga! ***

*Tulisan ini dimuat di buruan.co 14/10/2015.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perih Jenderal!

Wisata Kabut Asap? Perih Jendral!

Gambar diunduh dari google

Gambar diunduh dari google

Seorang kawan memposting DP di status BBM-nya, perbandingan soal ikan Salai sebelum diasapi dan sesudah diasapi. Di bawah DP-nya yang terbagi menjadi empat kotak itu, ada juga gambar orang Riau yang masih cakep karena belum terkena asap dengan orang Riau yang sudah terkena asap, yang akhirnya seperti manusia dari Irian Jaya sana.

Memang, sudah hampir sebulan ini, masalah kabut asap yang melanda Sumatera menjadi bahan gunjingan. Ada yang serius membahas di headline koran koran, ada juga yang sekedar mempost gambar-gambar satire  soal asap ini. Tapi seperti tahun kemarin, saya khawatir saat musim hujan tiba dan memadamkan api api di rimba dan ladang ladang itu, semuanya akan lupa kembali kalau tahun depan asap akan datang lagi.

Tapi karena asap sudah menjadi tamu “rutin” di Riau, sepertinya untuk di Sumatera musim kita sudah bertambah. Musim Kemarau, Musim Hujan diantara keduanya ada Musim Asap. Itupun khusus daerah Sumatera Bagian Timur dan Kalimantan Bagian Barat.

Dan tahukah kalian, bahwa untuk anggaran dana penanggulangan asap tahun 2015 yang mencapai Rp.385 Milliar sudah disiapkan, meski sampai sekarang belum turun-turun juga. Lucunya, anggaran itu takkan turun jika status Siaga tidak dinaikkan menjadi Tanggap Darurat Kabut Asap. Jadi bukan hanya para pejabat saja yang bisa naik, masalah kabut asap pun statusnya ada naik dan turunnya.

Meme. Diunduh dari google

Meme. Diunduh dari google

Di Riau khususnya, persoalan masalah kabut asap terus bergulir di media-media local. Bayangkan saja ketika kita bangun dan nampak langit masih redup seperti masih jam 6-7 pagi namun ternyata jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, itu dikarenakan kabut asap yang makin menggila. Dan jangan bayangkan kabut asap itu seperti kabut-kabut yang seperti kita alami dan rasakan di puncak. Di sini, kabut asap tak mengenal dingin karena yang terasa mata kita tiba-tiba perih dan dada terasa sesak karena kebanyakan menghirup kabut asap.

Para pedagang masker dengan berbagai motif laku terjual. Dari yang model gambarnya Mickey Mouse sampai masker yang seperti kutang item karena memang berwarna hitam tanpa gambar, jadi persis penampung payudara meski cuma sebelah.

Tapi tahun ini bencana asap agak lebih pahit. Bukan karna lebih tebal dan kandungan racunnya yang semakin bertambah, tapi lantaran asap datang tak tahu diri dan tak tahu kapan perginya! Asap datang saat harga dollar lagi malas turun sehingga  harga makin mencekik, asap datang saat harga sawit cuma dihargai lembaran seratusan tidak sampai ribuan. Itu artinya, sebelum asap datang saja saja sebenarnya nafas sudah “sesak”. Bayangkanlah bila rasa “sesak” harga sawit, ditambah “sesak” harga dipasar becek, dan “sesak” sungguhan dari asap ini digabungkan!

Perih jendral perih…!!!

Oya pernah kalian bayangkan bagaimana susahnya orang memadamkan api di lahan yang terbakar? Jangan bayangkan seperti memadamkan rumah atau gedung, karena jauh sekali berbeda tantangannya. Apalagi di Riau, lahannya kebanyakan dari gambut. Dan gambut itu kedalamannya bisa sampai 1-2 meter. Dan itu artinya, api merayap bak hantu. Soalnya hanya asap yang terlihat, sedang bara apinya merambat bak api dalam sekam. Karena api berada di bawah permukaan tanah sampai satu dua meter. Jadi selang air bukan di semprot ke udara selayaknya memadamkan Kebakaran. Tapi di semprotkan ke tanah, berharap merembes mematikan bara.

Sekarang semua sudah seperti ikan salai. Dan anak-anak sudah sebulan lebih tak melihat dan merasakan panasnya matahari.

Perih jendral!

Cintai alam sepenuh hati agar bumi bernafas kembali.

Cintai alam sepenuh hati agar bumi bernafas kembali.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Membangkitkan Kejayaan Tanah Pasundan

Dibalik Diskusi Buku Gunung Bandung: Sejarah, Lanskap, Budaya.

JGB Mencoba Mengangkat Kembali Kejayaan Nusantara di Tanah Pasundan

Dalam buku Architects of Deception: Secret History of Freemasonry, Juri Lina, penulis buku tersebut mengatakan bahwa ada tiga cara yang dilakukan kaum kolonialis dan imperialis untuk melemahkan serta menjajah suatu negeri. Pertama, mengaburkan sejarahnya. Kedua,  menghancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu hingga tidak bisa lagi diteliti atau dibuktikan kebenarannya dan yang terakhir memutuskan hubungan mereka dengan leluhurnya dengan memberikan stigma jika leluhur itu bodoh dan primitif.

Sepertinya, untuk menangkis hal itulah Komunitas Jelajah Gunung Bandung (JGB) berkiprah. Mungkin pada awal pendiriannya, tujuan Komunitas JGB yang lahir empat tahun lalu itu hanyalah sebentuk komitmen sekelompok orang yang memiliki hobi dan minat yang sama untuk memelihara kebersihan gunung dengan tidak meninggalkan sampah, peduli terhadap kondisi sosial-budaya masyarakat yang dilewati, serta misi ilmu-pengetahuan dalam setiap perjalanan.

Dok. Tedi Kurnia - Jelajah Gunung Bandung

Dok. Tedi Kurnia – Jelajah Gunung Bandung

Namun dalam perkembangannya kemudian, JGB ternyata telah berhasil mencatat hasil identifikasi visual terhadap 58 gunung di Bandung. Dalam pendataan yang digagas komunitas ini, ternyata Gunung di Kota Bandung jumlahnya melebihi dari data yang sementara ini ada. Karena itu, JGB kemudian berinisiatif melaporkan serta mengumpulkan data-data dari hasil penjelajahan mereka, dengan berencana menerbitkan buku “Gunung Bandung: Lansekap, Sejarah, dan Budaya.”

“Istilah gunung yang dimaksudkan adalah gunung-gunung sesuai sebutan masyarakat setempat. Masih banyak gunung-gunung lain di wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat yang belum tercatat,” kata aktivis JGB, Pepep DW.

Dok. Tedi Kurnia - Jelajah Gunung Bandung

Dok. Tedi Kurnia – Jelajah Gunung Bandung

Sebagai satu komunitas yang hanya berdasarkan minat dan hobi yang sama, menurut penulis, JGB memiliki nilai lebih dibanding organisasi pencinta alam yang makin berkembang subur saat ini. Apa pasal? Organisasi pencinta alam saat ini – diakui atau tidak – masih banyak yang belum mencintai arti kata “pencinta alam” dalam arti kata sebenar-benarnya. Masih banyak sampai saat ini para pencinta alam yang masih mengedepankan egonya hanya untuk dapat menjejakkan kaki di puncak sambil berselfie ria, seraya pongah menunjukkan kehebatannya usai melampaui tanjakan di gunung serta berbagai kondisi alam lainnya.

Dan inilah yang berbeda dengan JGB. Sebagai suatu komunitas, JGB bisa lebih fleksibel tenimbang organisasi yang terpatok oleh rule yang jelas yakni AD/ART. Bagi suatu komunitas, minat dan hobi yang sama akan kecintaan pada sejarah dan budaya yang melingkupi suatu wilayah/gunung/pedesaan akan membuka peluang lebih besar dalam menggali sejarah dan budaya suatu tempat yang dikunjungi.

Itu juga yang terungkap dalam diskusi yang digelar JGB dengan tema Gunung Bandung: Sejarah, Landscape, Budaya  sebagai sebuah diskusi yang menarik yang digelar di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monpera) pada 5 Juli lalu. Gunung di mata para penggiat JGB tidak harus selalu didefinisikan an sich sebagai bagian dari ilmu geologi semata, tapi dalam beberapa konteks ia memiliki peranan sebagai sebuah saksi satu penggalan peristiwa, sejarah, bahkan peradaban manusia itu sendiri.

“Gunung merupakan saksi sekaligus perekam sebuah kejadian, dan dalam konteks tertentu gunung telah menjadi artefak dari kebudayaan, dan sejarah manusia,” kata Unu Mihardja selaku ketua JGB.

Ini artinya bahwa di luar konteks geologi, gunung adalah sebuah monumen terpenting dalam membaca serta menyiratkan sejarah atau budaya yang sudah punah untuk kemudian digali kembali. Dengan kata lain, dalam konteks sejarah, sebuah gunung akan mampu mengetengahkan sebuah deskripsi tentang peristiwa-peristiwa besar di sekitar gunung dan kaki gunung termasuk dinamika perkembangan masyarakat di wilayah tersebut.

Pembahasan konteks budaya merupakan pembahasan yang mengetengahkan konteks manusia dalam kaitannya secara langsung dengan gunung. Salah satu contohnya misal; penamaan “afdeling kendeng” di Neglawangi kaki Gunung Kendang, keberadaan perkebunan, dan eksistensi Hindia Belanda pra-kemerdekaan menjadi catatan menarik dalam pembahasan Gunung Kendang. Atau eksistensi mitos aul di perkampungan Cibitung dan hubungannya dengan gunung-gunung sekitar seperti: Gunung Wayang, Windu, Bedil, dan Gambungsedaningsih.

Padahal di luar konteks itu, bisa jadi, seperti yang dicatat oleh Juri Lina dalam bukunya itu, kaum kolonialis dan imperialis yang menjajah bangsa ini dulunya telah mencuri berbagai lontar serta manuskrip kuno dari nusantara ini. Dari manuskrip kuno itu para kolonialis tahu jika di setiap gunung selalu berdiri satu kerajaan atau dikelilingi kerajaan yang hebat-hebat. Baik kerajaan yang besar ataupun yang kecil. Dan untuk menghapus keberadaan kerajaan-kerajaan tersebut maka digantilah nama gunung-gunung itu.

Akibatnya, generasi kita saat ini hanya mendengar tutur kata dari generasi sebelumnya bahwa gunung itu bernama gunung A, gunung ini bernama gunung B. Selama ini, kita tak pernah tahu jika dahulunya Gunung Galunggung itu aslinya bernama Gunung Kendyana, Gunung Perahu aslinya bernama Gunung Baito, Gunung Salak aslinya bernama Gunung Sapto Argo, Gunung Ciremai aslinya bernama Gunung Indrakila, Gunung Gede aslinya bernama Gunung Katong, Gunung Cikuray aslinya bernama Gunung Prawitha dan masih banyak lagi gunung-gunung yang selama ini kita kenal ternyata itu bukan nama sebenarnya!

Dari sisi inilah, JGB bisa mengangkat kembali sisi lain lain sejarah dan budaya yang masih banyak tersembunyi atau disembunyikan, khususnya sejarah dan budaya Tanah Pasundan sendiri. Apalagi dengan telah diresmikannya Plakat Gunung Bandung di Monpera, sudah saatnya kejayaan Tanah Pasundan kembali diangkat ke permukaan. Sehingga dengan begitu, generasi mendatang tidak akan mengalami nasib yang sama seperti generasi saat ini, yang tak mengenal sejarah dan budayanya sendiri. Maju terus, JGB! ***

Tulisan ini dimuat di travelnatic.com edisi ke #10

Posted in Uncategorized | Leave a comment